INBERITA.COM, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan eskalasi tekanan ekonomi terbesar yang pernah diterapkan terhadap suatu negara, dengan meluncurkan apa yang disebutnya sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan” dalam sejarah.
Kebijakan ini juga disertai ancaman sanksi bagi negara-negara yang tetap mempertahankan hubungan ekonomi atau keuangan dengan Iran.
Pengumuman Trump disampaikan melalui akun Truth Social pada Rabu (20/8), di tengah kebuntuan negosiasi lima bulan antara Washington dan Teheran.
Ia menegaskan Iran gagal memanfaatkan peluang yang diberikan untuk mencapai kesepakatan, sehingga pemerintah AS memutuskan meningkatkan tekanan secara maksimal.
“Tidak ada seorang pun yang memberi Republik Islam Iran kesempatan lebih besar untuk mencapai kesepakatan selain saya. Namun, sangat disayangkan mereka gagal memanfaatkannya. Karena itu, hari ini saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah diberlakukan terhadap negara mana pun,” kata Trump.
Dalam pernyataannya, Trump mengklaim kekuatan militer Iran telah melemah drastis.
“Angkatan laut mereka telah lenyap, angkatan udaranya hancur, pabrik-pabrik militernya kini tinggal puing-puing, mata uangnya tidak bernilai, dan negara mereka berada di ujung tanduk,” ujarnya.
Presiden AS juga memberikan ultimatum kepada negara-negara yang masih mendukung ekonomi Iran. Menurutnya, seluruh pihak yang memfasilitasi aktivitas ekonomi Teheran akan menghadapi konsekuensi serius dari Washington.
“Mulai hari ini, negara mana pun yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandar udara, atau institusi pemerintahnya menjadi jalur penyelamat bagi Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar,” tegas Trump.
Ia menyerukan penghentian seluruh jalur yang selama ini menopang ekonomi Iran, termasuk penyelundupan minyak, jalur swap, transfer uang tunai, rumah penukaran valuta asing, registrasi kapal, hingga perusahaan cangkang (shell companies).
“Ini akan menjadi ‘Hari-H Ekonomi’. Kami membutuhkan seluruh sekutu Amerika Serikat untuk bersama-sama mengisolasi dan mengalahkan ancaman Iran,” ujarnya.
Trump yakin langkah ini akan melemahkan kemampuan Iran dalam mendukung aktivitas yang dianggap mengancam keamanan internasional.
“Langkah-langkah bersejarah ini akan melumpuhkan mereka dan kemampuan mereka untuk menyebarkan teror di seluruh dunia. Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya.
Kebijakan ini memperluas tekanan ekonomi yang sebelumnya telah diterapkan AS terhadap sektor minyak, pelayaran, dan keuangan Iran.
Pemerintah Washington juga telah menjatuhkan sanksi kepada perusahaan, broker, dan kapal tanker yang diduga membantu ekspor minyak Iran serta memperketat pembatasan aktivitas pelabuhan Teheran.
Ancaman sanksi sekunder (secondary sanctions) berpotensi memperluas dampak terhadap perdagangan global, karena tidak hanya menarget Iran, tetapi juga negara dan perusahaan yang masih memiliki hubungan bisnis dengan Teheran.
Media pemerintah Iran menepis pernyataan Trump. Penyiar nasional IRIB menyebut pengumuman tersebut bukan hal baru dan hanya muncul setelah tekanan militer terhadap Iran dinilai tidak efektif.
Sementara itu, kantor berita semi-resmi Tasnim menyatakan AS telah bertahun-tahun berupaya memutus hubungan ekonomi Iran dengan dunia internasional.
Menurutnya, Iran memiliki pengalaman dalam mengatasi pembatasan ekonomi sehingga mampu mempertahankan aktivitas perdagangannya.
Menurut koresponden Mike Hanna di Washington, pengumuman Trump mencerminkan frustrasi Gedung Putih atas kebuntuan konflik lima bulan.
Ia mempertanyakan instrumen ekonomi baru apa yang masih dimiliki Washington, mengingat sebagian besar sanksi terhadap Iran telah diberlakukan sebelumnya.
Hanna menilai ancaman terbaru tersebut bisa dipandang sebagai retorika politik yang ditujukan kepada publik domestik AS yang semakin mempertanyakan konflik berkepanjangan tersebut.
Profesor Ekonomi Timur Tengah dari Brandeis University, Nader Habibi, menilai target berikutnya dari Washington kemungkinan adalah negara-negara yang masih menjadi jalur perdagangan Iran, seperti China, Irak, dan Turkiye.
Ia mengatakan sanksi terhadap institusi keuangan China yang masih memfasilitasi pembelian minyak Iran dapat menjadi tekanan paling signifikan, meski implementasinya diperkirakan sulit karena Beijing menolak mengikuti kebijakan sanksi AS.
Pandangan serupa disampaikan Managing Principal Obsidian Risk Advisor, Brett Erickson. Menurutnya, menjatuhkan sanksi terhadap bank-bank China yang masih bertransaksi dengan Iran merupakan instrumen ekonomi paling kuat yang dimiliki Washington saat ini.
Erickson mengingatkan keberhasilan strategi tersebut sangat bergantung pada kecepatan implementasi agar mampu memberikan tekanan nyata terhadap Iran dalam waktu singkat.







