INBERITA.COM, Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menjatuhkan sanksi baru yang turut menyeret sejumlah individu dan perusahaan di China serta Hong Kong.
Washington menuduh entitas tersebut membantu Teheran memperoleh bahan baku dan komponen penting yang digunakan dalam produksi drone militer Shahed. Langkah terbaru itu diumumkan Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Jumat (8/5/2026).
Total terdapat 10 individu dan perusahaan yang masuk daftar sanksi karena diduga terlibat dalam jaringan pemasok teknologi dan material untuk industri drone Iran.
Pemerintah Amerika menyebut jaringan tersebut berperan dalam mendukung kemampuan militer Iran, khususnya dalam pengembangan drone tempur yang selama ini menjadi salah satu senjata strategis Teheran di tengah meningkatnya ketegangan dengan Washington.
Dalam pernyataan resminya, Departemen Keuangan AS menegaskan bahwa sanksi difokuskan kepada pihak-pihak yang memfasilitasi transfer bahan mentah dan peralatan yang digunakan dalam industri drone militer Iran.
Menurut Washington, individu dan perusahaan yang menjadi target sanksi diduga membantu pengadaan teknologi dan komponen yang berkaitan dengan produksi drone Shahed milik Iran.
Drone Shahed sendiri dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu bagian penting kekuatan udara Iran.
Sistem pesawat tanpa awak itu kerap disebut memiliki kemampuan serangan jarak jauh dan digunakan untuk memperkuat respons militer Teheran terhadap tekanan maupun ancaman dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Pemerintah AS mengklaim langkah tersebut merupakan bagian dari strategi lebih luas untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran.
Selain membatasi akses finansial Teheran, Washington juga berupaya memutus jalur pengadaan militer yang digunakan Iran dalam mengembangkan persenjataan.
Sanksi baru ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Iran, dan China.
Langkah Washington menargetkan perusahaan asal China dan Hong Kong diperkirakan akan memperumit hubungan diplomatik ketiga negara tersebut.
Situasi menjadi semakin sensitif karena pengumuman sanksi dilakukan hanya beberapa hari sebelum Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan melakukan perjalanan ke China untuk bertemu Presiden China, Xi Jinping.
Pertemuan kedua pemimpin negara besar itu sebelumnya diperkirakan akan membahas berbagai isu strategis, termasuk hubungan perdagangan, stabilitas kawasan Indo-Pasifik, dan ketegangan geopolitik global yang terus meningkat.
Namun, kebijakan sanksi terbaru ini diprediksi dapat menjadi salah satu isu sensitif dalam pembicaraan antara Washington dan Beijing.
Sebelumnya, pada 25 April 2026, Amerika Serikat juga telah menjatuhkan sanksi terhadap kilang minyak independen di China karena dituduh membeli minyak Iran dalam jumlah besar.
Washington menyebut transaksi tersebut bernilai miliaran dolar dan dianggap melanggar pembatasan ekonomi terhadap Teheran.
Sebagai respons atas langkah Amerika Serikat, pemerintah China dilaporkan meminta sejumlah kilang dalam negeri untuk tidak mematuhi sanksi AS.
Beijing disebut mengacu pada undang-undang tahun 2021 yang dibuat untuk melindungi perusahaan dan entitas China dari pembatasan hukum asing.
Kebijakan tersebut menunjukkan sikap China yang semakin terbuka menentang tekanan ekonomi Amerika Serikat, terutama terkait hubungan perdagangan dan energi dengan Iran.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan ekonomi China dan Iran memang terus berkembang, terutama di sektor energi dan teknologi. Kondisi itu membuat Beijing menjadi salah satu mitra penting bagi Teheran di tengah isolasi ekonomi akibat sanksi Barat.
Di sisi lain, Amerika Serikat terus memperluas langkah pembatasan terhadap berbagai jalur logistik dan finansial yang diduga mendukung program militer Iran, termasuk pengembangan drone dan sistem persenjataan lainnya.
Drone Shahed sendiri menjadi perhatian internasional karena dinilai memainkan peran penting dalam strategi militer Iran.
Washington dan sekutunya menuduh Iran menggunakan jaringan internasional untuk memperoleh bahan baku dan teknologi yang dibutuhkan dalam pengembangan pesawat nirawak tersebut.
Meski demikian, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait sanksi terbaru yang diumumkan Amerika Serikat.
Ketegangan yang melibatkan AS, Iran, dan China diperkirakan masih akan terus meningkat di tengah persaingan geopolitik global yang semakin tajam.
Langkah sanksi terbaru Washington juga dinilai berpotensi memperluas konflik ekonomi dan diplomatik antara Amerika Serikat dan China, terutama terkait isu perdagangan energi serta kerja sama teknologi militer.







