INBERITA.COM, Krisis energi global kini memasuki fase yang jauh lebih mengkhawatirkan dibanding sekadar lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM).
Jika selama beberapa bulan terakhir dunia hanya dibayangi kenaikan harga minyak mentah, peringatan terbaru dari CEO Chevron, Mike Wirth, menunjukkan ancaman yang lebih serius yakni potensi hilangnya pasokan minyak fisik dari pasar global.
Pernyataan itu disampaikan Wirth dalam sebuah diskusi di Milken Institute yang langsung memicu perhatian pelaku pasar dan pengamat ekonomi internasional.
Menurutnya, dunia kini tidak lagi hanya menghadapi gejolak harga energi, tetapi mulai memasuki tahap kelangkaan nyata pasokan minyak mentah yang dapat memukul aktivitas ekonomi global secara langsung.
Sebagai pimpinan salah satu perusahaan energi terbesar dunia dengan produksi mencapai 3,1 juta barel per hari, Wirth menegaskan bahwa situasi di lapangan menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan.
Penutupan Selat Hormuz disebut telah menguras seluruh cadangan penyangga yang selama ini menjaga stabilitas distribusi energi global.
“Kita akan mulai melihat kelangkaan fisik,” ujar Wirth.
Peringatan tersebut bukan sekadar analisis teoritis. Wirth membandingkan kondisi saat ini dengan krisis energi era 1970-an ketika banyak negara Barat mengalami penjatahan bahan bakar dan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar.
Menurutnya, kondisi pasar minyak dunia saat ini jauh lebih rentan karena berbagai penyangga pasokan mulai terkuras.
Cadangan komersial minyak, armada kapal tanker bayangan, hingga cadangan strategis nasional atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) disebut tidak lagi cukup untuk meredam gangguan pasokan berkepanjangan.
“Permintaan harus turun untuk menyesuaikan dengan pasokan. Ekonomi harus melambat,” tambahnya.
Peringatan tersebut datang di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz.
Jalur laut strategis itu selama ini menjadi titik vital pengiriman minyak dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak mentah global melintas melalui kawasan tersebut.
Krisis yang berkembang saat ini dinilai tidak lagi sebatas ancaman terhadap harga BBM, tetapi mulai mengarah pada kelangkaan fisik bahan bakar yang dapat mengganggu sektor transportasi, industri, hingga rantai pasokan pangan dunia.
Dampak nyata bahkan mulai terlihat di sektor penerbangan. Pada 3 Mei 2026, maskapai Spirit Airlines resmi dinyatakan bangkrut setelah tidak mampu menahan lonjakan biaya bahan bakar jet.
Tingginya harga energi disebut menjadi salah satu faktor utama yang menghancurkan neraca keuangan perusahaan.
Krisis energi global juga diperkirakan akan menghantam Asia lebih dahulu dibanding kawasan lain. Negara-negara di kawasan tersebut sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari Timur Tengah.
Jepang menjadi salah satu contoh negara yang paling rentan karena sekitar 95 persen kebutuhan minyaknya bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.
Di tengah kekhawatiran terhadap terganggunya distribusi energi, Jepang dilaporkan baru menerima kiriman minyak mentah pertama dari Pulau Sakhalin, Rusia, setelah dua tahun terakhir tidak melakukan impor dari wilayah tersebut.
Langkah itu menunjukkan bagaimana negara-negara Asia kini mulai berebut sumber pasokan alternatif untuk mengantisipasi memburuknya krisis energi global.
Setelah Asia, Eropa diprediksi menjadi kawasan berikutnya yang menghadapi tekanan serius akibat perebutan pasokan energi. Negara-negara Eropa diperkirakan akan semakin agresif mencari sumber minyak alternatif untuk menjaga stabilitas energi domestik mereka.
Sementara itu, Amerika Serikat meski dikenal sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dunia, disebut tidak sepenuhnya kebal terhadap dampak krisis.
Pengiriman terakhir minyak dari kawasan Teluk dilaporkan baru saja dibongkar di Pelabuhan Long Beach, California Selatan. Setelah itu, pasokan diperkirakan mulai mengalami tekanan serius.
Berbagai data yang muncul memperlihatkan betapa rapuhnya keamanan energi global saat ini. Salah satu indikator utama adalah hilangnya sekitar 20 persen pasokan minyak dunia akibat terganggunya distribusi melalui Selat Hormuz.
Selain itu, perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah disebut telah menghilangkan sekitar 20 juta barel ekspor minyak mentah dan produk olahan dari pasar global.
Kondisi stok minyak dunia juga semakin mengkhawatirkan. Goldman Sachs memperingatkan bahwa penyusutan cadangan minyak global berlangsung sangat cepat dan kini mendekati level terendah dalam delapan tahun terakhir.
Di tengah tekanan tersebut, harga minyak dunia terus mengalami lonjakan tajam. Minyak mentah Brent tercatat berada di level USD113,76 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh angka USD104,83 per barel.
Bagi pasar keuangan dan masyarakat global, peringatan dari Mike Wirth menjadi sinyal serius bahwa dunia sedang menuju fase kehancuran permintaan atau demand destruction.
Dalam situasi kelangkaan energi, sektor transportasi, pertanian, manufaktur, hingga distribusi barang diperkirakan akan melambat secara paksa karena keterbatasan pasokan bahan bakar.
Kondisi tersebut berpotensi memicu inflasi baru di berbagai negara sekaligus meningkatkan risiko resesi global.
Bank sentral di berbagai negara diprediksi akan menghadapi dilema besar antara menekan inflasi atau menjaga pertumbuhan ekonomi agar tidak jatuh lebih dalam.
Harapan dunia kini tertuju pada operasi militer Angkatan Laut Amerika Serikat yang diluncurkan sejak 4 Mei lalu untuk membuka kembali jalur distribusi energi di Selat Hormuz. Namun, proses pemulihan diperkirakan tidak akan berlangsung cepat.
Wirth menegaskan bahwa ketika seluruh cadangan penyangga sudah terkuras, pasar energi global membutuhkan waktu panjang untuk kembali stabil.
Menurutnya, ancaman terbesar bukan hanya soal penutupan Selat Hormuz semata, melainkan efek domino terhadap rantai pasokan global yang sangat kompleks.
Krisis energi era 2026 kini dinilai mulai menunjukkan pola yang mengingatkan dunia pada gejolak besar tahun 1970-an, saat gangguan pasokan energi mampu mengguncang ekonomi global selama bertahun-tahun.







