INBERITA.COM, Ketahanan energi global kini berada dalam fase yang mengkhawatirkan. Laporan terbaru dari Goldman Sachs mengungkap bahwa persediaan minyak dunia tengah mendekati level terendah dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran luas di pasar internasional.
Tekanan terhadap pasokan energi ini terjadi di tengah meningkatnya gangguan distribusi, khususnya di Selat Hormuz jalur vital yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global.
Situasi geopolitik yang memanas di kawasan tersebut memperbesar risiko terganggunya suplai energi dunia.
Dalam laporan yang dirilis Senin (4/5/2026), Goldman Sachs memperkirakan total persediaan minyak global saat ini hanya setara dengan 101 hari dari total permintaan dunia. Angka ini diprediksi akan terus menurun hingga menyentuh 98 hari pada akhir Mei.
Penurunan ini menjadi sorotan utama karena menandakan percepatan pengikisan cadangan yang relatif cepat.
Meski secara teknis masih berada di atas ambang batas kritis, tren penurunan yang tajam menjadi sinyal peringatan bagi pelaku pasar energi.
Analis menilai bahwa ketika cadangan minyak global turun di bawah 100 hari, pasar menjadi sangat rentan terhadap gangguan sekecil apa pun.
Dalam kondisi seperti ini, keterlambatan distribusi atau gangguan logistik bisa langsung berdampak besar terhadap harga dan ketersediaan energi.
Kondisi ini semakin diperparah oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz serta fasilitas energi di Uni Emirat Arab dilaporkan memicu lonjakan harga minyak hingga sekitar 6 persen.
Kenaikan harga ini terjadi hanya beberapa minggu setelah adanya kesepakatan gencatan senjata yang sempat memberi harapan stabilitas.
Namun, upaya Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur pelayaran internasional justru menambah volatilitas pasar akibat tingginya ketidakpastian keamanan.
Tak hanya minyak mentah, Goldman Sachs juga menyoroti kondisi yang tak kalah mengkhawatirkan pada persediaan produk olahan seperti bensin dan diesel.
Cadangan produk ini mengalami penyusutan signifikan, dari sekitar 50 hari permintaan global sebelum konflik menjadi hanya 45 hari saat ini.
Penurunan cadangan produk olahan ini memiliki dampak langsung terhadap konsumen dan industri, karena berhubungan dengan kebutuhan energi sehari-hari.
Ketika stok menipis, harga bahan bakar berpotensi naik lebih cepat dibandingkan minyak mentah.
Goldman Sachs menegaskan bahwa cadangan yang mudah diakses atau easily available reserves kini semakin terbatas. Kondisi ini membuat pasar energi global berada dalam posisi yang jauh lebih rapuh dibandingkan sebelumnya.
Situasi tersebut meningkatkan risiko terjadinya lonjakan harga energi secara tajam jika terjadi gangguan tambahan, baik dari sisi produksi maupun distribusi.
Dalam konteks global, hal ini juga berpotensi memicu inflasi di berbagai negara, mengingat energi merupakan komponen utama dalam rantai pasok ekonomi.
Dengan kombinasi antara menipisnya cadangan, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta gangguan distribusi di jalur strategis, pasar energi dunia kini berada dalam fase ketidakpastian tinggi.
Para analis memperingatkan bahwa tanpa adanya stabilisasi pasokan atau meredanya konflik di kawasan krusial seperti Selat Hormuz, tekanan terhadap harga energi dan ketahanan pasokan global berpotensi terus berlanjut dalam waktu dekat.







