INBERITA.COM, Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua negara dilaporkan terlibat kontak senjata di sekitar Pulau Qeshm, kawasan strategis dekat Selat Hormuz, Kamis (7/5/2026).
Bentrokan bersenjata itu memicu kekhawatiran dunia internasional karena terjadi di salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Insiden tersebut disebut menjadi pukulan terhadap upaya menjaga stabilitas dan gencatan ketegangan di kawasan Teluk Persia yang selama ini terus diupayakan berbagai pihak internasional.
Situasi di Selat Hormuz kini kembali berada dalam sorotan menyusul saling klaim antara Teheran dan Washington terkait kronologi serta dampak bentrokan yang terjadi.
Menurut informasi yang beredar, kontak senjata pecah setelah sebuah kapal tanker minyak milik Republik Islam Iran diduga diserang oleh militer Amerika Serikat ketika melintas dari wilayah Jask menuju Selat Hormuz.
Pemerintah Iran kemudian merespons dengan meluncurkan operasi militer balasan terhadap kapal perang Amerika Serikat yang berada di sekitar jalur pelayaran tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah Republik Islam, sumber militer Iran menyebut unit militer Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz menjadi sasaran serangan rudal.
Iran mengklaim operasi tersebut menyebabkan kerusakan terhadap armada militer Amerika dan memaksa kapal perang Washington mundur dari wilayah konflik.
Namun, militer Amerika Serikat memberikan versi berbeda mengenai peristiwa tersebut. Washington menyatakan pasukannya justru berhasil menggagalkan serangan yang dilakukan Iran terhadap armada Angkatan Laut AS di kawasan Selat Hormuz.
Pasukan Amerika mengklaim berhasil mencegat serangan Republik Islam terhadap tiga kapal angkatan laut AS yang sedang melintas di jalur pelayaran internasional tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM juga menyebut pihaknya melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas militer Teheran yang dianggap bertanggung jawab atas serangan terhadap armada Washington.
Menurut CENTCOM, bentrokan terjadi ketika kapal perusak Angkatan Laut Amerika Serikat sedang melintasi Selat Hormuz yang saat itu berada dalam status siaga tinggi akibat meningkatnya ketegangan regional.
Meski mengakui terjadi kontak senjata, Washington menegaskan tidak ada kapal perang Amerika yang terkena serangan langsung.
Pentagon juga memastikan seluruh personel dan armada militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah berada dalam kesiapan penuh untuk melindungi kepentingan nasional mereka.
Pernyataan yang saling bertolak belakang antara Teheran dan Washington membuat situasi keamanan di kawasan Teluk Persia semakin sulit diprediksi. Hingga kini belum ada verifikasi independen mengenai tingkat kerusakan maupun korban akibat bentrokan tersebut.
Pulau Qeshm sendiri merupakan salah satu wilayah strategis Iran yang berada di dekat Selat Hormuz. Posisi geografisnya membuat kawasan ini menjadi titik penting pengawasan militer Teheran terhadap aktivitas pelayaran internasional di Teluk Persia.
Selain dikenal memiliki fasilitas pelabuhan dan desalinasi air, Pulau Qeshm juga menjadi salah satu basis penting operasi Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.
Karena letaknya yang sangat strategis, kawasan tersebut kerap menjadi pusat ketegangan setiap kali hubungan Republik Islam Iran dan Amerika Serikat memburuk.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi global yang sangat vital. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut setiap hari.
Karena itu, gangguan sekecil apa pun di kawasan ini dapat memicu gejolak harga minyak dunia dan berdampak langsung terhadap ekonomi internasional.
Ketegangan terbaru muncul setelah Iran menuding Amerika Serikat kembali melanggar gencatan ketegangan yang sebelumnya sempat dibangun secara tidak langsung di kawasan Teluk Persia.
Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan militer Amerika Serikat telah melakukan agresi terhadap kapal tanker minyak Iran serta wilayah sipil di sekitar Selat Hormuz.
“Militer AS yang agresif, teroris, dan penjarah melanggar gencatan senjata dengan menargetkan sebuah kapal tanker minyak Teheran yang berlayar dari perairan pesisir Iran di wilayah Jask menuju Selat Hormuz, serta kapal lain yang memasuki Selat Hormuz di lepas pelabuhan Fujairah di UEA,” katanya dikutip dari TasnimNews pada Jumat, 8 Mei 2026.
“Pada saat yang sama, daerah sipil menjadi sasaran serangan udara dengan kerja sama beberapa negara regional di sepanjang pantai Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm,” sambungnya.
Iran menilai tindakan tersebut sebagai bentuk agresi terbuka terhadap wilayah kedaulatan Republik Islam.
Sebagai respons, Angkatan Laut IRGC disebut langsung meluncurkan operasi gabungan berskala besar terhadap kapal-kapal militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz.
Komandan Angkatan Laut IRGC Laksamana Madya Alireza Tangsiri mengatakan operasi itu dilakukan setelah kapal perang Amerika mendekati wilayah strategis Iran.
“Menyusul pelanggaran gencatan senjata dan agresi militer AS yang teroris terhadap kapal tanker minyak Iran di dekat pelabuhan Jask, dan ketika kapal perusak militer AS yang teroris mendekati Selat Hormuz, operasi gabungan skala besar dan tepat sasaran telah dilakukan,” kata Tangsiri.
Ia menyebut IRGC menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah anti-kapal, hingga drone tempur dalam operasi tersebut.
“Pasukan angkatan laut IRGC telah melepaskan tembakan ke kapal perusak musuh menggunakan berbagai jenis rudal balistik dan rudal jelajah anti-kapal serta drone perusak yang dilengkapi dengan hulu ledak berdaya ledak tinggi,” sambungnya.
Tangsiri juga mengklaim operasi itu berhasil memberikan kerusakan serius terhadap armada militer Amerika Serikat.
“Pemantauan intelijen menunjukkan kerusakan yang cukup besar pada musuh Amerika, dan tiga kapal perang musuh yang menyerang dengan cepat melarikan diri dari wilayah Selat Hormuz,” tegasnya.
Hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai klaim kerusakan kapal perang Amerika tersebut. Namun sejumlah laporan menyebut aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz memang meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
Amerika Serikat diketahui telah memperkuat armada lautnya di kawasan Teluk Persia setelah Iran berulang kali memperingatkan kemungkinan pembatasan akses kapal asing di Selat Hormuz.
Washington juga menjalankan operasi perlindungan terhadap jalur distribusi energi internasional yang melintasi kawasan tersebut.
Di sisi lain, Iran menegaskan keamanan Selat Hormuz seharusnya berada di bawah kendali negara-negara regional tanpa keterlibatan militer asing.
IRGC bahkan memperingatkan setiap kapal perang asing yang mendekati wilayah strategis Republik Islam dapat dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Iran.
Meningkatnya ketegangan ini memicu kekhawatiran internasional terhadap kemungkinan pecahnya konflik terbuka berskala lebih besar di Timur Tengah. Sejumlah analis menilai bentrokan di sekitar Pulau Qeshm menjadi sinyal bahwa rivalitas Iran dan Amerika Serikat memasuki fase yang semakin berbahaya.
Selain memperkuat armada laut di Teluk Persia, Amerika Serikat juga dikabarkan menambah sistem pertahanan udara dan pengawasan maritim di kawasan sekitar Selat Hormuz.







