Waspada Super Flu, Bandara Ngurah Rai Bali Pasang Puluhan Pemindai Suhu Tubuh

Cegah Masuknya Super Flu, Bandara Ngurah Rai Manfaatkan Thermo Scanner Era COVIDCegah Masuknya Super Flu, Bandara Ngurah Rai Manfaatkan Thermo Scanner Era COVID
Bandara Ngurah Rai Tingkatkan Kewaspadaan, Pemindai Suhu Tubuh Diaktifkan Kembali.

INBERITA.COM, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, kembali mengaktifkan dan memasang puluhan thermo scanner atau pemindai suhu tubuh sebagai langkah antisipasi terhadap potensi masuknya penyakit yang dikenal sebagai “Super Flu”.

Penyakit ini disebut sebagai influenza A (H3N2) Subclade K dan menjadi perhatian karena memiliki gejala yang menyerupai flu dengan indikasi peningkatan suhu tubuh pada penderitanya.

Sebagai salah satu pintu masuk internasional terbesar di Indonesia, Bandara I Gusti Ngurah Rai dinilai memiliki peran strategis dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit dari luar negeri melalui jalur penerbangan.

General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati, menjelaskan bahwa penggunaan thermo scanner sebenarnya bukan hal baru.

Perangkat tersebut merupakan fasilitas yang telah dimiliki dan digunakan secara intensif pada masa pandemi COVID-19.

Seiring dengan munculnya kewaspadaan terhadap Super Flu, fasilitas itu kembali dimanfaatkan karena karakteristik gejala yang dipantau dinilai memiliki kemiripan, terutama terkait demam atau suhu tubuh yang lebih tinggi dari normal.

“Bandara I Gustu Ngurah Rai karena ini adalah pintu masuk internasional yang cukup besar penggunanya saya kira gejala yang kami pelajari dan kami dapatkan informasi kurang lebih mirip dengan orang flu hanya mungkin ada gejalanya sehingga mendeteksinya itu juga akan lebih terlihat ketika suhu badan tinggi,” kata Nugroho, dikutip Media, Rabu (7/1/2026).

Menurut Nugroho, pemanfaatan kembali thermo scanner menjadi langkah awal yang dinilai efektif untuk melakukan skrining terhadap seluruh penumpang yang datang maupun berangkat melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Dengan adanya pemindaian suhu tubuh, petugas dapat lebih cepat mengidentifikasi penumpang yang terdeteksi mengalami demam sehingga bisa segera dipisahkan untuk mendapatkan penanganan lanjutan sesuai prosedur kesehatan yang berlaku.

“Sehingga pemindai suhu tubuh yang kami siapkan pada masa pandemi COVID-19 lalu bisa kami gunakan dan kami pasang kembali sejak saat ini,” sambungnya.

Ia memastikan bahwa seluruh thermo scanner yang dimiliki bandara saat ini berada dalam kondisi baik dan berfungsi normal.

Total terdapat sekitar 25 unit pemindai suhu tubuh yang telah dipasang di berbagai titik strategis.

Penempatannya dilakukan di alur-alur utama, baik pada jalur kedatangan maupun keberangkatan, untuk penerbangan internasional dan domestik.

Dengan demikian, setiap penumpang yang melintas di area bandara dapat terpantau suhu tubuhnya tanpa mengganggu kelancaran arus perjalanan.

“Posisi sudah terpasang, semua beroperasi dalam keadaan baik dan informasi lebih lanjut tentunya dari Kementerian Kesehatan terkait bagaimana perkembangan dan penanganan tindak lanjutnya,” ujar Nugroho.

Langkah antisipatif ini diambil mengingat tingginya mobilitas penumpang di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Bandara yang menjadi gerbang utama pariwisata Bali tersebut melayani rata-rata sekitar 66.000 penumpang per hari.

Dengan jumlah tersebut, potensi risiko penyebaran penyakit melalui perjalanan udara menjadi perhatian serius bagi pengelola bandara, meskipun hingga saat ini belum ditemukan adanya penumpang yang terindikasi membawa Super Flu.

Nugroho menegaskan bahwa berdasarkan pemantauan yang dilakukan hingga kini, kondisi di Bandara I Gusti Ngurah Rai masih terbilang aman.

Belum ada laporan atau temuan penumpang yang berpotensi terinfeksi influenza A (H3N2) Subclade K.

Namun, kewaspadaan tetap dijaga sebagai bentuk tanggung jawab pengelola bandara dalam melindungi penumpang, kru penerbangan, serta masyarakat luas.

Selain melakukan pemindaian suhu tubuh secara menyeluruh, pihak bandara juga menyiagakan personel untuk melakukan penanganan awal apabila ditemukan penumpang dengan suhu tubuh di atas normal.

Kesiapan ini mencakup koordinasi internal serta kesiapan fasilitas pendukung yang diperlukan dalam situasi darurat kesehatan.

“Untuk sementara kami koordinasi dengan Balai Karantina Indonesia maupun dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Indonesia, sementara ini statusnya masih landai dan menjadi imbauan saja untuk tetap waspada, belum ada penerapan protokol khusus,” kata dia.

Koordinasi dengan instansi terkait menjadi bagian penting dari upaya antisipasi tersebut.

Dengan melibatkan Balai Karantina Indonesia dan Kantor Kesehatan Pelabuhan Indonesia, pengelola bandara memastikan bahwa setiap langkah yang diambil sejalan dengan kebijakan dan arahan otoritas kesehatan.

Hingga kini, status kewaspadaan masih berada pada level imbauan, sehingga belum diberlakukan protokol khusus seperti pembatasan perjalanan atau pemeriksaan kesehatan lanjutan yang lebih ketat.

Meski demikian, pemasangan thermo scanner di Bandara I Gusti Ngurah Rai menunjukkan kesiapan sektor transportasi udara dalam merespons potensi ancaman kesehatan global.

Pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi pelajaran berharga yang kini dimanfaatkan untuk memperkuat sistem deteksi dini.

Dengan pemantauan suhu tubuh yang konsisten, diharapkan potensi penyebaran Super Flu melalui jalur udara dapat dicegah sejak dini, sekaligus memberikan rasa aman bagi para penumpang yang menggunakan layanan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.