INBERITA.COM, Steve Chen, salah satu pendiri YouTube yang turut membuka jalan bagi revolusi digital, kini menjadi salah satu tokoh teknologi yang mengkritik maraknya video berdurasi pendek, terutama yang dipopulerkan oleh platform seperti TikTok.
Chen menilai, meskipun video pendek dapat menghibur, dampaknya terhadap perkembangan anak-anak bisa sangat merugikan.
Dalam sebuah diskusi di Stanford Graduate School of Business pada Juli 2025, Chen mengungkapkan pandangannya tentang fenomena “TikTok-ification” atau transformasi digital yang semakin mengutamakan konten video pendek.
“Saya pikir TikTok itu hiburan, tapi murni hiburan,” ujar Chen, yang pernah menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) di YouTube sebelum perusahaan tersebut diakuisisi oleh Google pada tahun 2006.
“Kontennya hanya untuk dinikmati sesaat. Format yang semakin pendek ini pada akhirnya berujung pada rentang fokus yang semakin pendek,” tambahnya, sebagaimana dikutip oleh Fortune.
Sebagai seorang ayah dari dua anak, Chen mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kebiasaan konsumsi video pendek yang kini populer di kalangan anak-anak.
Ia mengaku tidak ingin anak-anaknya hanya terpapar pada video-video berdurasi singkat yang mendominasi media sosial saat ini.
Menurutnya, kebiasaan ini bisa membuat anak-anak kesulitan menikmati tayangan yang lebih panjang, bahkan video berdurasi 15 menit sekalipun.
Chen juga berbagi pengalamannya sebagai orang tua yang berusaha menghindarkan anak-anaknya dari konten video pendek.
Ia mengungkapkan bahwa ada orang tua lain yang secara sengaja membiasakan anak-anak mereka menonton video dengan durasi yang lebih panjang, tanpa efek visual mencolok atau trik lainnya yang dirancang untuk menarik perhatian.
“Jika sejak awal mereka tidak terpapar konten video pendek, mereka tetap bisa menikmati jenis konten lain yang mereka tonton,” katanya.
Pendekatan ini, menurut Chen, terbukti efektif dalam mempertahankan kemampuan anak-anak untuk menikmati konten dengan durasi lebih lama, tanpa terganggu oleh format video pendek yang kerap kali membuat fokus mereka terbagi.
Bergabungnya platform-platform besar dalam menyediakan konten video pendek, seiring dengan melesatnya popularitas TikTok, juga menjadi perhatian Chen.
Banyak perusahaan teknologi kini berlomba-lomba mengadopsi format yang sama untuk menarik perhatian pengguna. Namun, Chen menyoroti adanya dilema di balik adopsi format tersebut: antara dorongan untuk memonetisasi konten dan kebutuhan untuk menyediakan informasi yang benar-benar bermanfaat bagi pengguna.
Kehadiran platform yang mendistribusikan video pendek, termasuk YouTube, perusahaan yang ia dirikan, dianggap Chen dapat menimbulkan masalah kecanduan pada penggunanya.
“Ada potensi platform-platform ini, termasuk YouTube, bisa menyebabkan kecanduan pengguna,” jelasnya.
Oleh karena itu, Chen mendorong pentingnya pembatasan usia untuk aplikasi serta batasan durasi penggunaan, terutama bagi anak-anak.
Kritik Chen ini menambah panjang daftar tokoh teknologi yang mulai angkat bicara tentang dampak media sosial dan video pendek terhadap anak-anak.
Sebelumnya, CEO OpenAI Sam Altman dan pemilik X (dulu Twitter) Elon Musk juga menyampaikan kekhawatiran serupa mengenai dampak media sosial pada anak-anak.
Dalam sebuah wawancara podcast, Altman secara khusus menyoroti kebiasaan menggulir media sosial dan dampak ledakan dopamin dari video pendek.
Menurutnya, kebiasaan ini dapat mengganggu perkembangan otak anak-anak secara mendalam, yang bisa berisiko mengubah cara otak mereka berfungsi dalam jangka panjang.
Elon Musk, meskipun sempat mengungkapkan bahwa ia tidak menerapkan pembatasan ketat pada anak-anaknya dalam menggunakan media sosial, mengakui bahwa keputusan tersebut mungkin sebuah kesalahan.
Pada 2023, Musk mengatakan, “Saya rasa, saya mungkin akan lebih membatasi penggunaan media sosial dan lebih memperhatikan apa yang mereka tonton. Karena pada titik ini, anak-anak sebenarnya sedang diprogram oleh algoritma media sosial, entah kita setuju atau tidak.”
Melalui pernyataannya, Steve Chen menegaskan sebuah poin penting: bahkan para perintis teknologi yang turut membangun ekosistem digital sekarang mulai menyuarakan kekhawatirannya mengenai dampak negatif dari video pendek bagi anak-anak.
Chen mengingatkan bahwa meskipun video pendek memberikan hiburan sesaat, tanpa adanya pengaturan yang ketat, format ini berpotensi merusak kemampuan anak-anak untuk fokus, yang bisa menjadi masalah serius bagi perkembangan mereka di masa depan.
Peringatan ini tentu perlu diperhatikan oleh orang tua, pendidik, serta perusahaan teknologi, agar dampak negatif dari konsumsi media sosial yang tidak terkontrol dapat diminimalkan.
Dengan begitu, generasi mendatang tidak hanya terpapar hiburan sesaat, tetapi juga dapat mengembangkan keterampilan untuk fokus dan menikmati konten yang lebih bermanfaat dan mendalam. (*)







