INBERITA.COM, Sebuah tren baru tengah viral di kalangan pelajar sekolah dasar hingga menengah. Bukan gadget atau mainan mahal, melainkan penghapus yang dimodifikasi menjadi mainan gasing.
Fenomena ini menyebar luas melalui media sosial dan menuai beragam tanggapan dari masyarakat, mulai dari apresiasi atas kreativitas anak-anak hingga kekhawatiran terkait keamanan.
Kreasi penghapus yang disulap menjadi gasing mini ini awalnya hanya dilakukan oleh beberapa siswa. Namun, tak butuh waktu lama hingga menjadi tren massal di sejumlah sekolah. Penghapus-penghapus tersebut biasanya dilengkapi dengan paku payung atau isi staples untuk membuatnya berputar layaknya gasing sungguhan.
Namun, di balik popularitasnya, tren ini justru memicu perdebatan di kalangan orang tua dan pihak sekolah.
Sebuah unggahan dari akun Instagram @berita_gosip mengungkapkan bagaimana tren ini memengaruhi aktivitas jual beli di lingkungan sekolah. Dalam unggahan tersebut, tampak seorang pedagang kecil membagikan kisah larisnya dagangan mereka akibat fenomena ini.
“Ibu pemilik warung cerita kalo di warungnya lagi laris banget. Penghapus dibeli anak-anak sekolah yang ternyata dibuat jadi mainan gasing,” tulis akun tersebut, dikutip Minggu (14/9).
Unggahan ini pun viral, dengan ribuan komentar netizen yang membagikan pengalaman dan pandangannya terhadap tren ini.
Tak sedikit orang tua yang menyampaikan keprihatinannya. Salah satu yang mengomentari unggahan tersebut adalah akun @rnabillaput yang menyebut bahwa sekolah anaknya melarang keras tren mainan ini karena mengandung risiko.
“Di sekolah anakku dilarang banget, soalnya bahaya banget, itu ada hekter sama paku payungnya,” tulisnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh @wulan_sarifin yang bahkan memarahi anaknya karena membuat gasing dari penghapus. Ia menilai, meski kreatif, namun mainan ini berbahaya bagi keselamatan anak-anak.
“Anakku bikin begitu, aku marahin. Karena bahaya, ngeri isi staplesnya rontok nggak sengaja ngenain diri sendiri atau temennya. Kreatif tapi ga aman,” ungkapnya.
Fenomena ini juga menimbulkan kejutan bagi sebagian orang tua yang awalnya mengira bahwa anak-anak mereka sedang rajin belajar. Seperti diungkapkan akun @belbelindaa yang merasa tertipu karena anaknya sering meminta uang untuk membeli alat tulis.
“Pantes, anak ku minta duit terus buat beli penghapus.. ku kira buat belajar, ternyata buat gangsing,” ungkapnya.
Seiring makin maraknya tren ini dan laporan dari sejumlah orang tua mengenai potensi bahaya yang ditimbulkan, beberapa sekolah mulai mengambil tindakan.
Salah satu netizen dengan akun @septii_wicaksono membagikan bahwa sekolah anaknya telah melarang keras permainan ini setelah insiden yang terjadi di lingkungan sekolah.
“Di sekolah anak ku dilarang, karena sudah ada anak yang klaim tertancap paku payung di sepatu dan isi steples sampai luka. Dan orang tua murid lapor, jadi siapa yang buat ini dan bawa ini diambil dan dapat hukuman,” ujarnya.
Langkah tegas seperti ini mulai diberlakukan oleh sejumlah sekolah untuk menjaga keselamatan siswa dan menghindari cedera akibat modifikasi alat tulis yang tidak semestinya.
Tren mainan gasing dari penghapus ini menimbulkan dilema antara mengapresiasi kreativitas anak-anak dan menjaga keamanan mereka.
Di satu sisi, banyak yang menilai bahwa ini adalah bentuk eksplorasi dan daya imajinasi yang tinggi dari anak-anak. Namun di sisi lain, penggunaan benda tajam seperti isi staples dan paku payung jelas mengandung risiko yang tidak bisa dianggap sepele.
Pakar pendidikan anak menyarankan agar tren seperti ini bisa dijadikan peluang untuk mengarahkan kreativitas anak ke arah yang lebih aman. Misalnya, melalui kegiatan ekstrakurikuler seni, sains, atau robotik sederhana yang juga melibatkan keterampilan tangan.
Fenomena viral ini menunjukkan bagaimana sesuatu yang sederhana seperti penghapus bisa berubah menjadi tren di kalangan anak-anak. Namun, tren ini juga menjadi pengingat bahwa kreativitas anak-anak perlu diarahkan dan diawasi agar tetap aman dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Dengan meningkatnya perhatian dari orang tua dan sekolah, diharapkan tren ini bisa disikapi secara bijak tanpa mematikan semangat eksplorasi anak-anak. Perlu kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan bahkan pedagang untuk mengelola tren ini agar tidak menimbulkan risiko di kemudian hari.







