INBERITA.COM, Kisah unik yang melibatkan sejumlah driver ojek online (ojol) di Solo baru-baru ini mencuat ke publik. Sejumlah pengemudi mengeluhkan di mana mereka dibayar dengan barang dan secarik kertas permintaan maaf oleh seorang warga di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Pasar Kliwon, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.
Kejadian ini memicu perhatian banyak pihak, termasuk dari pihak kelurahan yang segera merespon dan menindaklanjuti aduan tersebut.
Kepala Camat Kecamatan Pasar Kliwon, Ahmad Khoironi, mengonfirmasi bahwa kejadian ini benar adanya dan melibatkan salah satu warga di wilayahnya.
“Kami sudah mendatangi lokasi untuk melakukan kroscek terkait aduan yang masuk. Obyek aduan ini berada di wilayah Kelurahan Pasar Kliwon dan yang bersangkutan merupakan warga kami,” ujar Ahmad pada Kamis (18/12/2025), melalui pesan singkat.
Lebih lanjut, Ahmad juga menyebutkan bahwa pihak keluarga pemesan makanan tersebut telah bersepakat untuk menyelesaikan masalah yang timbul akibat peristiwa ini.
“Pihak keluarga sudah menyepakati untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan baik,” tambahnya.
Pihak kelurahan juga telah meminta agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa mendatang, serta memastikan bahwa keluarga pemesan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Seperti yang dilaporkan sebelumnya, keluhan tersebut pertama kali datang dari seorang driver ojol bernama Candra, yang mengungkapkan bahwa ia menerima pembayaran dengan barter barang dan sebuah surat permintaan maaf, bukannya uang sesuai dengan tarif yang tertera di aplikasi ojol.
Tidak hanya Candra, ternyata driver lainnya juga mengalami hal serupa.
Dalam pengaduannya, Candra menceritakan bahwa setiap kali pesanan makanan dikirimkan, pemesan selalu memberikan secara barter beberapa barang yang tidak sebanding dengan nilai makanan yang diantar.
Bahkan, pemesan juga menyertakan surat permintaan maaf yang berisi keluhan tentang kondisi hidupnya yang buruk, termasuk penyakit yang diderita, utang yang belum terbayar, serta kesulitan ekonomi yang dihadapinya.
“Beliau setiap kali melakukan pemesanan memberikan secarik kertas berisi keluhan-keluhan tentang penyakitnya, utangnya, dan berbagai masalah hidupnya. Dia sering berharap belas kasihan dari kami para driver online. Dan ternyata sudah banyak driver online yang menjadi korban,” ujar Candra dalam pengaduannya.
Tidak hanya itu, Candra juga menambahkan bahwa pemesan yang melakukan praktik tersebut menggunakan identitas berbeda-beda pada setiap transaksi pemesanan, meskipun titik pengantaran selalu sama.
Hal ini menambah kecurigaan para driver mengenai keberadaan pemesan tersebut, yang tampaknya berusaha untuk menyembunyikan identitas aslinya.
“Nama-nama customer yang digunakan selalu berbeda-beda, seperti Avu, Herlan, dan masih banyak lagi nama samarannya. Mohon agar masalah ini dapat diteruskan ke dinas sosial atau dinas terkait agar orang tersebut bisa mendapat pembinaan langsung, sehingga kami para driver online bisa bekerja dengan tenang dan mendapatkan hasil yang layak,” harap Candra.
Dalam penelusuran, ditemukan bahwa secara tertulis, surat permintaan maaf yang diberikan oleh pemesan berisi penjelasan mengenai kondisi kehidupannya yang sulit.
Surat tersebut secara eksplisit mengungkapkan permohonan maaf atas ketidakmampuan untuk membayar.
Surat itu berbunyi sebagai berikut:
“MAAF YA MAS AKU BAYAR PAKAI INI. JUJUR MAS HIDUPKU INI PENUH PENDERITAAN, KAKIKU SAKIT DAN SUDAH TIDAK BISA BERJALAN LAGI. ORANG TUAKU EGOIS UTANG BANYAK DI BANK DAN BAHKAN AKU JUGA DIHUTANGI AKU JUGA INGIN PERGI DARI SINI MAAF YA MAS.”
Pernyataan dalam surat tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pemesan mengalami kesulitan finansial, namun hal ini tentunya tidak bisa menjadi alasan untuk tidak membayar jasa yang telah diberikan oleh driver ojol.
Setelah keluhan diterima dan dilakukan pemeriksaan oleh pihak Kelurahan Pasar Kliwon, masalah ini akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
Pihak kelurahan memastikan bahwa kejadian tersebut telah ditangani dan keluarga pemesan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Hal ini diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi para driver ojol yang merasa dirugikan oleh kejadian ini.
Namun, meskipun kasus ini sudah selesai, kejadian tersebut menyoroti keberlanjutan masalah pembayaran dalam layanan ojek online yang semakin meluas.
Para driver berharap agar pihak berwenang dapat segera memperketat pengawasan dan memberikan sanksi tegas bagi pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan atau menipu driver dengan cara yang tidak sah.
Kisah ini juga menjadi peringatan bagi masyarakat mengenai pentingnya bertransaksi secara jujur dan sesuai dengan aturan yang berlaku, serta untuk para pemesan agar lebih berhati-hati dalam menggunakan layanan ojek online, mengingat keberadaan driver yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Dengan semakin maraknya aduan serupa, penting bagi pihak penyedia platform ojol untuk memberikan perlindungan lebih bagi para driver.
Ke depannya, diharapkan pihak terkait dapat menciptakan sistem yang lebih aman dan transparan agar tidak ada lagi driver yang dirugikan akibat kejadian-kejadian semacam ini. (*)







