INBERITA.COM, Ketegangan geopolitik dunia kembali memuncak dengan langkah berani Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memutuskan untuk memblokade Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak vital yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab.
Blokade ini merupakan reaksi langsung atas kegagalan diplomasi antara AS dan Iran, yang semakin memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur distribusi hampir sepertiga pasokan minyak dunia, kini menjadi pusat perhatian setelah keputusan Trump yang dinilai sebagai perjudian besar.
Langkah ini berpotensi mengubah peta kekuatan geopolitik global secara signifikan.
Di satu sisi, AS ingin menunjukkan ambisinya untuk menguasai jalur strategis ini, namun di sisi lain, keputusan tersebut dapat memicu konflik militer terbuka dengan Iran dan sekutunya, yang berisiko menambah ketegangan lebih lanjut.
Para analis internasional menilai situasi ini sebagai titik kritis yang bisa memperburuk ketegangan dan berpotensi memicu konflik besar di kawasan tersebut.
Dunia kini menunggu, apakah langkah Trump ini akan mengokohkan supremasi Amerika Serikat atau justru membuka pintu bagi kehancuran global yang lebih luas.
Seperti yang telah diketahui, setelah perundingan intensif yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026), situasi makin mendesak.
Trump akhirnya mengambil keputusan yang diumumkan pada Minggu (12/4/2026) pagi melalui serangkaian unggahan di media sosial Truth Social.
Dalam unggahannya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan blokade terhadap Iran, menghalangi jalur-jalur pelayaran yang tidak membayar pungutan.
Trump juga menambahkan bahwa Amerika Serikat akan terus melakukan pembersihan ranjau di Selat Hormuz untuk memastikan keamanan kapal-kapal sekutu yang melintasi kawasan tersebut.
“Militer AS berada dalam posisi siap tempur dan siap melanjutkan serangan terhadap Iran jika diperlukan,” ujarnya dalam pernyataannya.
Namun, klaim Trump ini dibantah oleh beberapa pejabat AS yang terlibat dalam negosiasi.
Seorang pejabat tinggi AS, yang mengetahui jalannya perundingan, menyatakan bahwa ada sejumlah perbedaan besar antara kedua negara, termasuk soal kendali Iran atas Selat Hormuz dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan tersebut, seperti kelompok Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon.
Meskipun Trump tidak lagi melontarkan ancaman apokaliptik seperti sebelumnya, serangkaian pernyataannya tetap memunculkan tantangan baru bagi pihak AS.
Salah satunya adalah pertanyaan besar mengenai apakah pembersihan ranjau akan memperburuk risiko serangan terhadap kapal-kapal Angkatan Laut AS.
Di sisi lain, banyak yang bertanya bagaimana AS akan menentukan kapal-kapal mana yang akan dikenakan sanksi atas “pungutan ilegal” dari Iran, serta apakah AS akan menggunakan kekuatan militer terhadap kapal berbendera asing yang melanggar blokade ini.
Hal ini menjadi semakin penting mengingat negara-negara besar yang mengimpor minyak dari Iran, seperti China, mungkin akan menanggapi dengan keras terhadap keputusan ini.
Selain itu, keputusan Trump untuk memblokade Selat Hormuz berisiko memperburuk lonjakan harga minyak, yang sudah berada pada titik kritis.
Sementara itu, kebijakan ini dimaksudkan untuk menekan Iran dengan menghentikan sebagian besar pendapatan negara tersebut yang berasal dari ekspor minyak, namun dampaknya terhadap perekonomian global bisa sangat besar.
Pada Minggu sore, Komando Pusat Militer AS (US Central Command) mengumumkan rincian lebih lanjut terkait blokade yang akan menghentikan seluruh kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini jauh lebih keras dibandingkan dengan kebijakan yang sebelumnya disampaikan Trump.
Senator Mark Warner dari Virginia, yang merupakan anggota Komite Intelijen Senat, menyatakan keraguannya terhadap kebijakan blokade tersebut.
“Saya tidak memahami bagaimana langkah ini bisa memaksa Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz,” ungkapnya dalam wawancara dengan CNN.
Sementara itu, anggota Kongres dari Partai Republik, Mike Turner, yang juga ikut mengomentari kebijakan ini, berpendapat bahwa blokade tersebut merupakan langkah untuk memaksa pihak-pihak yang terlibat untuk segera duduk di meja perundingan.
Keputusan untuk memblokade Selat Hormuz menambah ketegangan di tengah perundingan yang sudah berlangsung beberapa pekan. Pekan lalu, Iran dan AS sempat sepakat untuk melakukan gencatan senjata sementara selama dua pekan.
Namun, meskipun ada kemajuan dalam perundingan, AS merasa bahwa tujuan utamanya, seperti menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz dan menghentikan ambisi nuklir Iran, belum tercapai.
Sebuah jajak pendapat terbaru dari CBS mengungkapkan bahwa mayoritas warga AS (59 persen) merasa bahwa perang ini berjalan buruk dan belum memberikan hasil yang memuaskan.
Beberapa pihak pun mempertanyakan apakah keputusan Trump untuk memblokade Selat Hormuz bisa membawa perubahan positif atau justru semakin memperburuk keadaan.
Namun, dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu pagi, Trump tetap yakin bahwa Iran akan memenuhi tuntutan AS dalam waktu yang tidak lama.
Meskipun harga minyak diperkirakan akan tetap atau bahkan lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang, Trump percaya bahwa perekonomian AS akan mampu bertahan.
Namun, keputusan ini tetap merupakan sebuah perjudian besar bagi Trump, terutama dengan pemilihan paruh waktu yang semakin dekat. Jika perhitungan ini salah, dampaknya bisa sangat besar bagi Partai Republik.
Pada saat yang sama, saat para diplomat AS bernegosiasi dengan Iran di Pakistan, Trump malah memutuskan untuk menyaksikan pertandingan UFC di Miami, sebuah tindakan yang dianggap aneh oleh banyak pihak, mengingat ketegangan yang sedang terjadi di Timur Tengah.
Blokade ini kini menjadi adu keteguhan antara kemampuan AS untuk mempertahankan supremasi geopolitik di kawasan dan sejauh mana Iran mampu bertahan dalam menghadapi serangan AS dan Israel yang terus berlanjut.
Konflik ini kini memasuki babak baru yang penuh dengan ketidakpastian dan tantangan besar bagi seluruh dunia.







