Intelijen AS Ungkap China Dicurigai Siapkan Pengiriman Sistem Pertahanan Udara ke Iran

Ilustrasi sistem pertahanan udaraIlustrasi sistem pertahanan udara
AS Tuding Iran Tambah Kemampuan Pertahanan, Prajurit Selamat dari Serangan Drone Ungkap Ketidakberdayaan Militer AS

INBERITA.COM, Intelijen Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa China sedang bersiap mengirimkan sistem pertahanan udara terbaru ke Iran dalam waktu dekat.

Laporan ini, yang pertama kali diungkap oleh CNN, mengutip tiga sumber yang mengetahui penilaian intelijen terbaru mengenai persiapan China.

Menurut informasi yang diperoleh, Beijing tengah merancang pengiriman senjata tersebut melalui negara ketiga, dengan tujuan menyamarkan asal-usul pengiriman.

Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menghindari sorotan internasional, terutama di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas di Timur Tengah.

Jenis senjata yang akan dikirim adalah sistem rudal pertahanan udara jarak pendek yang dapat dipanggul, atau lebih dikenal dengan sebutan MANPADS (Man-Portable Air Defense Systems).

Senjata ini diyakini dapat meningkatkan kemampuan pertahanan udara Iran, khususnya dalam menghadapi ancaman dari drone dan pesawat tempur yang mungkin digunakan oleh musuh.

Hingga saat ini, baik Departemen Luar Negeri AS, Gedung Putih, maupun Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan ini.

Mengingat ketegangan yang ada, informasi ini datang pada waktu yang sangat sensitif.

Amerika Serikat dan Iran sendiri telah melakukan perundingan tingkat tinggi pada Sabtu (12/4/2026) di Islamabad, Pakistan, dengan agenda utama untuk mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung selama enam pekan yang berujung gagal mencapai kesepakatan.

Langkah ini berpotensi memperumit upaya diplomasi yang sedang berlangsung dan dapat menambah kekhawatiran baru mengenai keterlibatan lebih dalam dari kekuatan besar dalam konflik kawasan yang semakin meluas.

Kesaksian Prajurit AS Mengungkap Realitas Serangan Drone Iran yang Membantah Narasi Pentagon

Sementara itu, prajurit-prajurit Amerika Serikat yang selamat dari serangan drone Iran paling mematikan sejak dimulainya konflik ini angkat bicara mengenai kejadian tersebut.

Dalam wawancara dengan CBS News, para prajurit yang bertugas di Kuwait menggambarkan situasi yang sangat kacau saat sebuah drone Iran menghantam pusat operasi taktis mereka pada 1 Maret 2026.

Serangan tersebut mengakibatkan enam anggota Cadangan Angkatan Darat AS tewas dan lebih dari 20 prajurit lainnya terluka.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa serangan itu disebabkan oleh sebuah drone “squirter” yang berhasil menembus sistem pertahanan yang sudah diperkuat.

Namun, klaim ini langsung dibantah oleh para korban selamat yang menganggap penjelasan Pentagon tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

“Menggambarkan seolah-olah ‘satu drone lolos’ itu kebohongan,” ujar salah satu prajurit yang terluka.

“Unit kami sama sekali tidak siap untuk mempertahankan diri. Itu bukan posisi yang diperkuat.” ungkapnya.

Menurut para prajurit tersebut, mereka ditempatkan di deretan bangunan kecil berbahan seng, yang digunakan untuk kantor darurat menjelang dimulainya Operasi Epic Fury.

Sementara itu, unit lain yang lebih dekat dengan wilayah yang lebih aman dipindahkan ke lokasi di Yordania dan Arab Saudi.

Para prajurit juga mempertanyakan keputusan komando yang tetap menempatkan mereka di lokasi yang berisiko tinggi.

Salah satu prajurit mengungkapkan bahwa dirinya telah melihat laporan intelijen yang mencantumkan lokasi mereka sebagai target potensial.

“Kami justru dipindahkan lebih dekat ke Iran, ke wilayah yang jelas-jelas tidak aman dan sudah diketahui sebagai target,” katanya. “Tidak pernah ada alasan yang masuk akal dijelaskan kepada kami.”

Selain itu, pernyataan resmi dari Washington mengenai langkah pengamanan juga semakin memperburuk kemarahan para korban. Asisten Menteri Pertahanan Sean Parnell menegaskan bahwa

“semua langkah pengamanan telah diambil” dan fasilitas tersebut dilindungi dinding setinggi enam kaki.

Namun, kenyataannya di lapangan sangat berbeda.

“Perlindungan kami cuma penghalang ledakan tipis yang berdiri tegak—tanpa perlindungan dari atas,” ujar salah satu prajurit. “Kalau bicara bunker, itu selemah-lemahnya perlindungan.”

Situasi menjadi semakin mengerikan ketika drone Iran meledak di tengah area kerja mereka, mengubah keadaan menjadi kacau balau.

“Itu benar-benar kekacauan,” ujar prajurit yang terluka.

“Tidak ada antrean korban untuk ditangani. Kamu berada di satu sisi api atau di sisi lainnya.” lanjutnya.

Para prajurit yang selamat menggambarkan pemandangan pasca-ledakan yang mengerikan, dengan luka kepala, pendarahan hebat, dan gendang telinga yang pecah akibat ledakan tersebut.

Sebagian prajurit juga mengalami cedera serius akibat serpihan logam yang menancap di tubuh mereka.

Versi resmi Pentagon, yang disampaikan dalam konferensi pers di Washington, justru menambah rasa frustrasi para penyintas.

Salah satu prajurit menanggapi, “Saya tidak berniat merusak moral atau menjelekkan Angkatan Darat, tapi mengatakan kebenaran itu penting. Kita tidak akan pernah belajar dari kesalahan ini jika kita pura-pura kesalahan itu tidak pernah terjadi.”

Kesaksian ini membuka pertanyaan besar tentang apakah nyawa prajurit di garis depan benar-benar dilindungi atau justru dikorbankan demi narasi politik yang dibuat oleh kekuasaan di belakang meja.

Para prajurit yang selamat merasa bahwa keputusan-keputusan yang diambil tidak didasarkan pada kepentingan keselamatan mereka, melainkan lebih pada strategi politik yang lebih besar.