Uniknya Pemilu Presiden 2026 di Peru: Diikuti oleh 35 Capres! Jutaan Warga Berikan Suara untuk Pilih Pemimpin Baru

Pilpres peruPilpres peru
Reformasi Politik Peru: Pemilu 2026 dengan Sistem Bikameral dan 35 Kandidat Presiden

INBERITA.COM, Tempat pemungutan suara (TPS) di Peru dibuka pada Minggu pagi, dengan jutaan warga yang mulai memberikan suaranya dalam pemilihan presiden yang mencatatkan sejarah sebagai pemilu dengan jumlah kandidat terbanyak, yaitu 35 orang.

Pemilu ini menjadi sangat penting bagi Peru dalam upaya mengakhiri satu dekade ketidakstabilan politik yang telah mengguncang negara tersebut.

Pemilu 2026 ini menandai sebuah babak baru bagi negara Amerika Latin itu. Pasalnya, hasil dari pemilu kali ini diperkirakan akan menentukan arah politik Peru untuk beberapa tahun ke depan.

Sejumlah jajak pendapat yang dilakukan menjelang pemilu menunjukkan bahwa tiga kandidat teratas memiliki peluang besar, meskipun tidak ada yang diprediksi dapat memenangkan pemilu ini secara mutlak pada putaran pertama.

Berdasarkan undang-undang yang berlaku di Peru, seorang kandidat harus mendapatkan lebih dari 50 persen suara untuk memenangkan pemilu presiden pada putaran pertama.

Jika tidak ada kandidat yang mencapai angka tersebut, maka pemilu akan dilanjutkan ke putaran kedua yang dijadwalkan pada 7 Juni 2026.

Tiga kandidat yang memimpin dalam jajak pendapat antara lain Keiko Fujimori dari Fuerza Popular, yang maju untuk pencalonan presiden untuk keempat kalinya.

Fujimori, putri mendiang Presiden Alberto Fujimori, memanfaatkan basis dukungan sayap kanan yang kuat di Peru untuk memperkuat posisinya dalam kontestasi pilpres ini.

Ia berkompetisi ketat dengan Rafael Lopez Aliaga, mantan Wali Kota Lima yang berasal dari partai Renovacion Popular. Aliaga yang konservatif baru saja mengundurkan diri dari jabatannya untuk maju dalam pencalonan keduanya sebagai calon presiden.

Sementara itu, Ricardo Belmont, seorang tokoh media yang berusia 80 tahun dan mantan Wali Kota Lima, muncul sebagai kandidat yang menonjol dengan platform anti-kemapanan.

Popularitas Belmont meningkat pesat, didorong oleh ketidakpuasan publik terhadap krisis politik yang terus berlangsung di negara tersebut.

Belmont berhasil memanfaatkan ketidakstabilan yang terjadi selama bertahun-tahun untuk menarik perhatian pemilih yang menginginkan perubahan radikal.

Dengan fragmentasi suara yang cukup tinggi di antara sejumlah kandidat, banyak analis memprediksi bahwa pemilihan presiden Peru ini kemungkinan besar akan berlanjut ke putaran kedua.

Di sana, dua kandidat teratas akan berhadapan langsung untuk memperebutkan kursi kepresidenan.

Selain memilih presiden, warga Peru juga akan memilih anggota legislatif baru yang menandai perubahan struktural besar di negara tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade, Peru kembali menerapkan sistem politik bikameral. Kongres yang baru akan terdiri dari Senat yang beranggotakan 60 orang dan Dewan Perwakilan yang beranggotakan 130 orang.

Para anggota legislatif ini akan menjabat selama lima tahun. Reformasi ini dirancang untuk menciptakan stabilitas politik yang lebih besar di negara yang dalam beberapa tahun terakhir telah berganti presiden sebanyak delapan kali, akibat pemakzulan dan kebuntuan antara eksekutif dan legislatif.

Pemungutan suara di Peru bersifat wajib bagi warga negara yang berusia antara 18 hingga 70 tahun.

Menurut Dewan Pemilihan Nasional, sekitar 25 juta pemilih terdaftar diperkirakan akan memberikan suaranya dalam pemilu kali ini. TPS mulai dibuka pada pukul 07:00 waktu setempat (19:00 WIB) dan akan ditutup pada pukul 17:00 waktu setempat (05:00 WIB pada Senin, 13 April).

Dewan Pemilihan Nasional juga menyatakan bahwa hasil awal resmi pemilu putaran pertama akan diumumkan pada malam harinya, dengan target 60 persen suara dihitung sebelum tengah malam.

Hal ini akan memberikan gambaran awal mengenai bagaimana peta politik Peru akan berkembang setelah pemilu ini.

Pemilu ini tidak hanya menentukan siapa yang akan menjadi presiden baru Peru, tetapi juga akan menjadi barometer bagi arah politik dan stabilitas negara ini ke depannya.

Dengan adanya sistem legislatif baru dan reformasi politik yang diterapkan, pemilu ini bisa menjadi titik balik bagi Peru dalam meraih kestabilan politik yang lebih langgeng setelah bertahun-tahun dilanda krisis pemerintahan.