INBERITA.COM, Mantan presenter Sky Sports, Jeff Stelling, mengajukan sebuah saran yang cukup kontroversial kepada FIFA terkait Piala Dunia 2026.
Stelling menyarankan agar gelaran sepak bola terbesar di dunia itu dipindahkan dari Amerika Serikat (AS) ke Inggris, menyusul sejumlah kebijakan kontroversial yang dikeluarkan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen pertama yang diselenggarakan oleh tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—pada bulan Juni hingga Juli 2026.
Namun, meskipun tinggal beberapa bulan lagi, ketidakpastian terkait kesiapan AS sebagai tuan rumah semakin terasa. Sederet kebijakan dan tindakan politik Trump yang berpotensi mengganggu jalannya turnamen, mencuatkan sejumlah pertanyaan tentang kelayakan AS sebagai tuan rumah.
Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa politisi Inggris dan aktivis internasional menyuarakan keprihatinan mereka atas kebijakan luar negeri AS, yang telah memicu ketegangan global.
Salah satunya adalah serangan militer yang dilancarkan AS terhadap Venezuela dan Nigeria, serta rencana untuk menyerang negara-negara seperti Greenland, Meksiko, Kolombia, dan Iran.
Banyak yang khawatir bahwa kebijakan ini bisa menodai citra Piala Dunia sebagai ajang global yang seharusnya bebas dari pengaruh politik.
Terkait dengan hal tersebut, sebanyak 23 politisi dari berbagai partai di Inggris, termasuk Partai Buruh, Partai Liberal Demokrat, Partai Hijau, dan Plaid Cymru, telah menandatangani sebuah mosi di parlemen yang menyerukan agar AS dipertimbangkan untuk dikeluarkan dari kompetisi internasional besar, termasuk Piala Dunia.
Menurut mereka, jika AS tetap menjadi tuan rumah Piala Dunia, hal itu akan “menormalisasi dan melegitimasi pelanggaran hukum internasional” yang dilakukan oleh negara adidaya tersebut.
Pada bulan Juni 2025, Presiden Trump mengumumkan kebijakan baru yang memperketat pembatasan perjalanan bagi warga dari beberapa negara, dengan alasan untuk “melindungi warga Amerika dari ancaman luar.”
Kebijakan ini mengakibatkan negara-negara seperti Haiti dan Iran yang lolos ke Piala Dunia 2026, tidak dapat mengirimkan warganya ke AS.
Pada 14 Januari 2026, pemerintahan Trump menambahkan 75 negara ke dalam daftar larangan perjalanan dan memutuskan untuk menangguhkan pemrosesan visa imigran tanpa batas waktu.
Kebijakan ini, yang akan diberlakukan mulai 21 Januari 2026, semakin memicu ketegangan antara pemerintah AS dan komunitas internasional.
Melihat situasi yang semakin memburuk di Amerika Serikat, Jeff Stelling mengusulkan agar FIFA mempertimbangkan untuk memindahkan gelaran Piala Dunia 2026 ke Inggris.
Menurutnya, tindakan ini adalah bentuk sanksi yang tepat bagi AS, sebagai respons terhadap kebijakan luar negeri Trump yang dinilai melanggar hukum internasional.
Stelling berpendapat bahwa meskipun Piala Dunia 2026 melibatkan tiga negara tuan rumah, AS seharusnya tidak diberi tempat dalam event sebesar ini jika terus melanjutkan kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai olahraga internasional, yang seharusnya mengedepankan kedamaian dan persatuan global.
Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen terbesar dengan total 104 pertandingan, di mana 78 di antaranya akan digelar di 11 kota di Amerika Serikat, termasuk Atlanta, Boston, Dallas, Houston, Kansas City, Los Angeles, Miami, New York/New Jersey, Philadelphia, Seattle, dan San Francisco.
Partai final juga dijadwalkan digelar di Stadion MetLife, New Jersey, pada 19 Juli 2026.
Namun, berbagai kebijakan luar negeri Trump yang semakin agresif, serta ketidakpastian terkait pengaruh politik terhadap penyelenggaraan turnamen, memunculkan desakan agar AS tidak lagi menjadi tuan rumah.
Beberapa pihak menilai bahwa FIFA harus mempertimbangkan dampak dari kebijakan tersebut terhadap citra global Piala Dunia yang berusaha menjaga netralitas dan inklusivitas.
Saat ini, FIFA belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kemungkinan pemindahan lokasi Piala Dunia 2026. Namun, keputusan yang diambil dalam waktu dekat akan sangat berpengaruh terhadap penyelenggaraan turnamen tersebut.
Jika FIFA memilih untuk mengikuti saran Jeff Stelling dan mengalihkan peran tuan rumah AS, ini bisa menjadi langkah besar dalam menyikapi pengaruh politik yang memengaruhi dunia olahraga internasional.
Krisis politik yang sedang berlangsung di AS kemungkinan akan menjadi titik balik bagi organisasi-organisasi internasional, termasuk FIFA, untuk mempertimbangkan ulang keputusan yang diambil dalam penyelenggaraan event besar yang seharusnya mencerminkan semangat persatuan dan perdamaian dunia.
Pindahnya Piala Dunia 2026 ke Inggris mungkin akan menjadi langkah yang kontroversial, namun ini bisa mempengaruhi citra turnamen serta hubungan internasional dalam jangka panjang.
Jika hal ini terjadi, dunia akan menilai apakah FIFA benar-benar memiliki keberanian untuk menjaga netralitas politik dan melindungi integritas olahraga dari pengaruh luar yang merusak.
Dengan ketidakpastian yang terus meningkat seputar situasi di AS, masa depan Piala Dunia 2026 kini tergantung pada bagaimana FIFA menanggapi situasi ini dan apakah mereka bersedia membuat keputusan yang berani demi kebaikan turnamen serta komunitas internasional. (**)







