INBERITA.COM, Sindrom kaki gelisah atau restless legs syndrome (RLS) merupakan gangguan pada sistem saraf yang ditandai dengan dorongan kuat dan tidak tertahankan untuk menggerakkan kaki. Kondisi ini umumnya muncul saat seseorang sedang beristirahat, terutama pada malam hari, dan dapat mengganggu kualitas tidur serta aktivitas sehari-hari.
Meski kerap dianggap sepele, sindrom kaki gelisah ternyata berpotensi berkaitan dengan masalah kesehatan yang lebih serius. Salah satunya adalah peningkatan risiko penyakit Parkinson, sebuah gangguan neurodegeneratif yang progresif.
Temuan ini diungkap dalam sebuah studi yang baru-baru ini dipublikasikan di JAMA Network dan dikutip dari laman Medical News Today. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara sindrom kaki gelisah dan risiko yang lebih tinggi untuk mengalami penyakit Parkinson di kemudian hari.
Hasil penelitian ini menambah daftar bukti ilmiah bahwa gangguan saraf tertentu dapat menjadi penanda awal atau faktor risiko penyakit neurodegeneratif.
Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan data dari Kohort Sampel Layanan Asuransi Kesehatan Nasional Korea. Basis data ini mencakup lebih dari satu juta individu, sehingga memberikan cakupan populasi yang luas dan kuat secara statistik.
Dari kelompok besar tersebut, peneliti mengidentifikasi 9.919 individu yang menderita sindrom kaki gelisah berdasarkan kode diagnosis spesifik. Untuk memastikan akurasi data, peneliti hanya memasukkan individu yang memiliki setidaknya dua catatan diagnosis rawat jalan sindrom kaki gelisah yang terdokumentasi.
Kelompok ini kemudian dicocokkan dengan kelompok kontrol yang tidak menderita sindrom kaki gelisah. Sekitar 63 persen dari masing-masing kelompok terdiri dari perempuan, sehingga komposisi jenis kelamin relatif seimbang.
Penyakit Parkinson dalam penelitian ini didefinisikan berdasarkan dua kode diagnosis yang berbeda. Para peneliti kemudian membandingkan kejadian penyakit Parkinson antara kelompok dengan sindrom kaki gelisah dan kelompok kontrol.
Selain itu, mereka juga menelusuri peran jalur dopamin dalam hubungan tersebut, mengingat dopamin merupakan neurotransmiter penting baik pada sindrom kaki gelisah maupun penyakit Parkinson.
Dalam analisisnya, peneliti membagi peserta sindrom kaki gelisah ke dalam dua subkelompok, yakni mereka yang menerima pengobatan agonis dopamin dan mereka yang tidak. Agonis dopamin merupakan terapi yang umum digunakan untuk mengatasi sindrom kaki gelisah.
Obat ini juga dikenal sebagai bagian dari pengobatan penyakit Parkinson karena bekerja pada sistem dopaminergik otak.
Para peneliti berasumsi bahwa peserta yang diobati dengan agonis dopamin kemungkinan besar memiliki sindrom kaki gelisah primer. Sementara itu, mereka yang tidak menerima pengobatan ini diasumsikan menderita sindrom kaki gelisah sekunder, yakni kondisi yang gejalanya dapat mereda bila masalah medis yang mendasarinya ditangani.
Dalam mempertimbangkan berbagai faktor lain, peneliti juga memasukkan kovariat seperti riwayat gangguan tidur. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok dengan sindrom kaki gelisah memiliki prevalensi gangguan tidur yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Hal ini sejalan dengan karakteristik sindrom kaki gelisah yang sering memburuk pada malam hari dan mengganggu tidur.
Hasil utama penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan sindrom kaki gelisah memiliki insiden penyakit Parkinson yang lebih tinggi. Bahkan, dalam periode pemantauan hingga 15 tahun, individu dengan sindrom kaki gelisah cenderung menerima diagnosis penyakit Parkinson lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak memiliki kondisi tersebut.
Secara keseluruhan, temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa sindrom kaki gelisah berkaitan dengan peluang yang lebih besar untuk mengembangkan penyakit Parkinson. Ketika peneliti menganalisis lebih lanjut berdasarkan penggunaan agonis dopamin, ditemukan sekitar 3.000 peserta sindrom kaki gelisah yang menerima pengobatan tersebut, sementara sisanya tidak.
Kelompok yang mendapatkan terapi agonis dopamin menunjukkan tingkat kejadian kumulatif penyakit Parkinson yang lebih rendah serta waktu hingga diagnosis yang lebih lama dibandingkan kelompok kontrol.
Sebaliknya, kelompok sindrom kaki gelisah yang tidak menerima pengobatan memiliki kejadian kumulatif penyakit Parkinson yang lebih tinggi dan waktu hingga diagnosis yang lebih singkat. Meski demikian, para peneliti juga menegaskan bahwa studi ini memiliki sejumlah keterbatasan.
Penelitian hanya berfokus pada populasi Korea, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi ke populasi lain dengan latar belakang genetik dan lingkungan yang berbeda. Selain itu, terdapat kemungkinan terjadinya diagnosis kurang, diagnosis berlebihan, maupun salah diagnosis baik pada kasus penyakit Parkinson maupun sindrom kaki gelisah.
Walau masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami hubungan kausal secara lebih mendalam, hasil studi ini memberikan sinyal penting bahwa sindrom kaki gelisah berpotensi menjadi faktor risiko penyakit Parkinson. Temuan ini juga membuka peluang bagi upaya deteksi dini dan pencegahan, terutama pada individu yang telah didiagnosis sindrom kaki gelisah.
Penyakit Parkinson sendiri merupakan gangguan gerakan pada sistem saraf yang bersifat progresif. Sistem saraf berperan mengendalikan berbagai fungsi tubuh, termasuk gerakan.
Pada tahap awal, gejala Parkinson bisa sangat ringan, seperti tremor halus pada satu tangan, kaki, atau rahang. Seiring waktu, tremor dapat disertai kekakuan otot, perlambatan gerakan, serta gangguan keseimbangan yang meningkatkan risiko jatuh.
Pada fase awal, penderita Parkinson juga dapat mengalami perubahan ekspresi wajah yang menjadi datar, lengan yang tidak berayun saat berjalan, serta suara bicara yang menjadi pelan atau cadel. Gejala-gejala ini umumnya memburuk seiring perkembangan penyakit.
Meski belum ada obat yang dapat menyembuhkan Parkinson, berbagai terapi obat dapat membantu mengendalikan dan memperbaiki gejala. Dalam beberapa kasus, tenaga medis juga dapat merekomendasikan tindakan operasi untuk mengatur aktivitas di bagian tertentu otak.
Dengan demikian, mengenali dan mengidentifikasi sindrom kaki gelisah sejak dini dapat membantu tenaga kesehatan menentukan individu yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit Parkinson.
Ke depan, penelitian lanjutan diharapkan dapat mengeksplorasi lebih jauh efek neuroprotektif agonis dopamin serta menjelaskan secara lebih rinci bagaimana hubungan antara sindrom kaki gelisah dan penyakit Parkinson terjadi.







