INBERITA.COM, Dugaan keracunan makanan melanda SMAN 3 Nganjuk usai siswa dan guru mengonsumsi nasi goreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu, 2 September 2026. Lima puluh tiga orang dilaporkan mengalami gejala seperti mual, pusing, dan muntah dalam hitungan jam setelah makan.
Kejadian ini menjadi sorotan karena melibatkan puluhan siswa dan seorang guru perempuan di sekolah negeri.
Laporan menyebutkan gejala muncul sekitar pukul 14.00 WIB, hanya empat jam setelah makanan MBG tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 WIB. Menu yang disajikan terdiri dari nasi goreng dengan lauk ayam suwir dan tahu bulat.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengkonfirmasi kejadian tersebut melalui konfirmasi wartawan. Ia meminta sekolah segera berkoordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk evaluasi sementara.
“Iya, sementara kami minta sekolah koordinasi dengan SPPG agar sementara waktu untuk dievaluasi, mungkin sementara dari pihak BGN melakukan evaluasi terhadap SPPG tersebut,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendesak evaluasi menyeluruh terhadap penyedia layanan MBG di wilayah tersebut. Langkah ini diambil untuk mencegah kasus serupa terulang di sekolah lain. Koordinasi antara sekolah, SPPG, dan pemerintah daerah dinilai krusial dalam menangani dampak keracunan.
Para korban kemudian mendapatkan penanganan medis di tiga fasilitas kesehatan terdekat. Puskesmas Begadung, RSUD Nganjuk, dan RS Bhayangkara menjadi tempat rujukan utama bagi siswa yang sakit.
Laporan menyebutkan bahwa sebagian besar korban adalah siswa, meskipun satu guru perempuan juga dilaporkan mengalami gejala serupa.
Kepala Puskesmas Nganjuk, dr. Rio Kasino, menjelaskan bahwa 50 siswa telah ditangani di Puskesmas Nganjuk pada hari kejadian. Pasien terus berdatangan hingga pukul 16.00 WIB, menunjukkan bahwa dampak keracunan terjadi secara bertahap.
“Para pasien masih bergulir datang. Kami siap menerimanya. Kami melakukan penanganan berupa stabilisasi terhadap pasien,” katanya.
Penanganan awal yang diberikan berupa stabilisasi kondisi pasien sebelum dirujuk ke rumah sakit.
RSUD Nganjuk, Rumah Sakit Bhayangkara Nganjuk, dan Rumah Sakit Islam Aisyiyah menjadi tiga rumah sakit rujukan utama. Dokter Rio menegaskan bahwa pihak puskesmas siap menangani pasien dalam jumlah besar.
Hingga saat ini, belum diketahui komponen makanan mana yang menjadi pemicu keracunan. Menu nasi goreng dengan lauk ayam suwir dan tahu bulat masih dalam penyelidikan. Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi sumber kontaminasi atau kesalahan penanganan.
Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan telah meminta sekolah untuk sementara menghentikan sementara program MBG.
Evaluasi menyeluruh terhadap SPPG dan vendor makanan menjadi prioritas utama. Langkah ini diharapkan dapat mencegah kasus serupa di masa mendatang.
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap program pangan di sekolah. Kualitas bahan makanan, proses pengolahan, dan distribusi harus diawasi secara berkala. Tanpa pengawasan yang memadai, risiko keracunan massal dapat terjadi kembali.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur berencana membentuk tim investigasi khusus untuk menelusuri akar permasalahan.
Temuan dari investigasi ini akan digunakan untuk perbaikan sistem MBG di seluruh wilayah Jawa Timur. Transparansi dalam penanganan kasus juga ditekankan untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Sementara itu, pihak sekolah telah melakukan koordinasi dengan orang tua siswa untuk memberikan informasi terkini. Sekolah juga meminta siswa yang mengalami gejala untuk segera melapor ke pihak medis.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan kasus ini dengan tuntas. Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rantai pasok MBG akan dilakukan. Hasil evaluasi akan menjadi dasar perbaikan program di masa depan.







