INBERITA.COM, Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah membuat Sherina Munaf memilih tidak sekadar mengikuti perkembangan dari kejauhan.
Ia datang langsung ke lapangan, berkoordinasi dengan pihak terkait, lalu ikut membantu proses pemadaman di tengah kondisi yang dipenuhi asap dan sisa-sisa kebakaran.
Perjalanan Sherina menuju Kalimantan Tengah bahkan sudah memperlihatkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi. Dari dalam pesawat, ia terlihat mengenakan masker. Asap disebut sudah tercium hingga ke kabin pesawat sebelum dirinya tiba di lokasi.
Sesampainya di Palangka Raya, Sherina lebih dulu mendatangi Dinas Kehutanan serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Langkah tersebut dilakukan untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak yang berada di lapangan dan memahami kondisi kebakaran secara lebih langsung.
Bagi Sherina, melihat kondisi dari dekat memberikan gambaran yang berbeda dibandingkan sekadar mengetahui kabar mengenai kebakaran melalui pemberitaan atau media sosial. Ia kemudian mengikuti perjalanan menuju sejumlah titik yang terdampak api.
Salah satu kondisi yang menarik perhatiannya adalah keberadaan titik-titik api kecil setelah proses pemadaman. Dalam situasi seperti itu, api yang terlihat sudah terkendali belum tentu sepenuhnya selesai. Angin dapat membuat bara atau titik api kembali menyala dan menyebar.
Sherina menceritakan pengalamannya ketika dalam perjalanan pulang mendapat informasi mengenai adanya sumber api di kawasan jalan lingkar luar. Ia melihat bekas area yang terbakar serta sejumlah titik yang masih mengeluarkan api kecil.
“Dalam perjalanan pulang kita dikabarkan, di jalan lingkar luar itu ada sumber api juga. Sepertinya sih sudah dipadamin, cuma kita bisa lihat bekasnya tuh hitam gitu ya, dan ada beberapa kayak api-api kecil mungkin yang muncul, yang bekas dipadamin tapi, semoga enggak, cuma karena angin kenceng itu bisa menjadi besar,” kata Sherina dalam video yang diunggah melalui akun Instagramnya.
Pengalaman tersebut membuat Sherina semakin menyadari bahwa persoalan kebakaran hutan tidak berhenti ketika kobaran api utama berhasil dipadamkan. Kondisi lingkungan, angin, serta munculnya kembali titik api menjadi tantangan tersendiri bagi tim yang bekerja di lapangan.
Ia juga menyoroti dampak asap yang menurutnya terasa sangat berat meski sumber api terlihat kecil.
“Jadi aku lihat api yang sekecil itu aja impact asapnya udah parah banget,” lanjutnya.
Dari Palangka Raya, Sherina kemudian menuju kawasan Tambore untuk membantu proses pemadaman. Di lokasi tersebut, ia melihat sendiri bagaimana api dapat kembali muncul meskipun sebelumnya sudah dilakukan pemadaman.
“Di situ yang bermasalah banget apinya. Kayak dipadamin, terus ntar muncul lagi,” ujar Sherina.
Tidak berhenti pada pengamatan, Sherina kemudian ikut mengambil bagian dalam upaya pemadaman. Ia terlihat memegang selang air dan membantu menyemprotkan air ke area yang masih terdampak api.
Suasana di lokasi memperlihatkan sisa-sisa kebakaran yang cukup jelas. Pepohonan tampak menghitam, sementara abu dan material bekas terbakar masih berserakan di sekitar kawasan tersebut. Sherina bekerja bersama tim pemadam serta mahasiswa yang turut terlibat dalam kegiatan di lapangan.
Penampilannya pun jauh dari kesan glamor yang kerap melekat pada seorang figur publik. Sherina mengenakan kaus lengan panjang berwarna abu-abu dan celana panjang dengan warna senada.
Di tengah aktivitas pemadaman, ia berbaur dengan orang-orang yang berada di lokasi dan menjalankan pekerjaan yang membutuhkan tenaga serta kewaspadaan.
Kehadiran Sherina di lapangan menarik perhatian publik karena menunjukkan keterlibatan langsung seorang figur publik dalam persoalan lingkungan.
Namun, di balik perhatian terhadap dirinya, kondisi yang ia saksikan juga memperlihatkan persoalan yang lebih besar: kebakaran hutan dan lahan dapat memberikan dampak luas bahkan ketika kobaran api tidak terlihat besar.
Asap menjadi salah satu dampak paling mudah dirasakan masyarakat. Gangguan kualitas udara tidak hanya terjadi tepat di titik kebakaran, tetapi dapat meluas mengikuti arah angin.
Karena itu, pemadaman titik api menjadi bagian penting dalam mencegah kondisi berkembang menjadi lebih buruk.
Cerita Sherina mengenai titik api yang kembali muncul juga menggambarkan tantangan pemadaman di lapangan. Tim tidak cukup hanya mengatasi kobaran yang terlihat.
Area yang telah terbakar perlu terus dipantau karena bara atau titik panas dapat kembali memicu kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan dan cuaca mendukung penyebaran api.
Keterlibatan masyarakat, mahasiswa, relawan, serta berbagai pihak menjadi penting dalam situasi seperti ini.
Pada saat yang sama, upaya penanganan kebakaran tetap membutuhkan koordinasi dengan petugas dan lembaga yang memiliki kewenangan serta kemampuan teknis untuk menangani kondisi di lapangan.
Bagi Sherina, perjalanan ke Kalimantan Tengah tampaknya bukan sekadar kunjungan. Ia memilih melihat langsung kondisi yang selama ini hanya diketahui melalui informasi yang beredar.
Pengalaman tersebut kemudian dibagikan kepada pengikutnya agar gambaran mengenai situasi kebakaran dapat diketahui lebih luas.
Aksi tersebut pun mendapat banyak perhatian dan pujian dari publik. Namun, perhatian terhadap Sherina pada akhirnya juga membawa isu kebakaran hutan dan dampaknya kembali menjadi sorotan.
Apa yang terlihat dari lapangan menjadi pengingat bahwa penanganan kebakaran hutan membutuhkan kerja berkelanjutan. Api yang padam belum selalu berarti persoalan selesai.
Pemantauan, pencegahan munculnya kembali titik api, perlindungan masyarakat dari paparan asap, serta penanganan kawasan terdampak tetap menjadi pekerjaan penting setelah proses pemadaman berlangsung.
Kehadiran Sherina setidaknya memperlihatkan satu sisi lain dari situasi tersebut. Di balik gambar pepohonan yang menghitam dan abu yang berserakan, ada pekerjaan panjang yang harus dilakukan agar api tidak kembali meluas dan dampak kebakaran tidak semakin besar.







