INBERITA.COM, Harga Pertamax Turbo melonjak hampir 14 persen dalam semalam, sementara konsumen subsidi tetap tenang karena Pertalite dan Biosolar tak bergerak.
Kenaikan sebesar Rp1.300 per liter untuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex menandai perubahan kebijakan yang hanya menyentuh lapisan menengah ke atas.
Keputusan PT Pertamina Patra Niaga itu berlaku serentak di tujuh provinsi utama, menciptakan ketidakpastian bagi pengemudi yang mengandalkan bahan bakar nonsubsidi.
Di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali, harga baru mulai berlaku sejak dini hari tanggal 1 September 2026.
Pertalite yang selama ini menjadi andalan masyarakat berpenghasilan menengah tetap bertahan di angka Rp10.000 per liter, begitu pula Biosolar yang tak bergeser dari Rp6.800 per liter.
Stabilitas harga subsidi ini menjadi satu-satunya titik terang di tengah gejolak pasar yang tak terduga.
Pertamina menaikkan Pertamax Turbo dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter, menambah beban bagi pengusaha transportasi dan pengemudi pribadi yang mengutamakan performa mesin.
Dexlite yang sering digunakan oleh kendaraan komersial naik drastis dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, sementara Pertamina Dex yang menjadi bahan bakar andalan truk dan bus melonjak dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.
Kenaikan ini tak hanya memukul kantong konsumen, tetapi juga berpotensi menaikkan biaya operasional logistik nasional.
Perusahaan menjelaskan bahwa penyesuaian harga didasarkan pada formula pemerintah yang mempertimbangkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, dan pajak.
“Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan berdasarkan formula pemerintah yang mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah dan pajak,” kata juru bicara Pertamina.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah tak lagi mampu menahan tekanan pasar global yang terus berfluktuasi.
Sementara Pertamina menaikkan harga, Shell Indonesia justru mencatatkan harga tunggal untuk V-Power Diesel di angka Rp25.420 per liter.
Perusahaan multinasional ini tak mengikuti pola kenaikan bertahap, melainkan menetapkan harga yang relatif stabil dibandingkan kompetitor lokal.
Konsumen kini dihadapkan pada pilihan sulit antara harga yang lebih tinggi atau mencari alternatif SPBU yang lebih terjangkau.
Di SPBU Vivo, harga Revvo 92 dan Revvo 95 masing-masing berada di Rp16.130 dan Rp16.760 per liter, sementara Diesel Primus mencapai Rp21.910 per liter.
Harga-harga ini menjadi acuan bagi konsumen sebelum terjadinya penyesuaian lebih lanjut. BP-AKR juga mencatatkan harga serupa untuk BP 92, BP Ultimate, dan BP Ultimate Diesel, dengan catatan bahwa harga diesel mengalami kenaikan pada periode sebelumnya.
Perbedaan harga antarwilayah dan antarjenis SPBU semakin memperumit situasi bagi konsumen. Pertamina mengingatkan bahwa harga bisa berbeda di setiap daerah akibat kebijakan lokal dan kondisi pasar yang dinamis.
“Harga BBM Pertamina dapat berbeda antarwilayah. Sementara itu, harga BBM SPBU swasta juga dapat berubah mengikuti kebijakan badan usaha dan kondisi pasar,” demikian pernyataan resmi perusahaan.
Konsumen subsidi tak perlu cemas karena Pertalite dan Biosolar tetap stabil, namun mereka yang menggunakan bahan bakar nonsubsidi harus siap dengan lonjakan harga yang tak terduga.
Ketidakpastian ini memaksa banyak pihak untuk meninjau ulang anggaran transportasi dan logistik mereka. Sementara pemerintah berusaha menjaga stabilitas, pasar justru berbicara dengan bahasa kenaikan yang keras.







