Remala Abadi Siapkan Internet 10 Gbps, Lampaui Target Prabowo yang Bidik 1 Gbps di 38 Kota

Internet indonesia melesat remala abadi uji coba kecepatan 10 gbpsInternet indonesia melesat remala abadi uji coba kecepatan 10 gbps
Prabowo Ingin Internet 1 Gbps, Provider Ini Siapkan 10 Kali Lebih Cepat.

INBERITA.COM, Di tengah kecepatan rata-rata internet tetap (fixed broadband) Indonesia yang masih berkisar di angka 39,88 Mbps, kabar baru datang dari dunia telekomunikasi nasional.

Penyedia layanan internet Remala Abadi mengumumkan tengah menyiapkan infrastruktur berkecepatan 10 Gbps—kecepatan yang bahkan melampaui target ambisius pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan koneksi 1 Gbps di 38 kota pada 2029.

Langkah ini menjadikan Remala Abadi salah satu pelopor jaringan super cepat di Indonesia, di saat sebagian besar penyedia layanan internet di Tanah Air baru menawarkan paket premium di kisaran 1–2 Gbps.

Sementara itu, layanan di atas 5 Gbps masih tergolong langka dan biasanya hanya tersedia untuk proyek uji coba atau kebutuhan korporasi terbatas.

“Kami akan coba masuk dalam satu smart infrastructure yang dipersiapkan untuk 10G. 10G bukan 5G generation, tapi 10 Gbps, kecepatan yang saat ini paling tinggi di dunia,” ujar Direktur Remala Abadi, Richard Kartawijaya, dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (4/11/2025).

Richard menjelaskan, uji coba internal yang telah dilakukan mencatat hasil luar biasa, yakni kecepatan unduh mencapai 25 Gbps dan unggah 11,6 Gbps—angka yang jauh di atas rata-rata nasional.

“Kami berharap teknologi ini memberikan reliability, security, dan confidence level yang berbeda,” tambahnya.

Menurutnya, kecepatan ekstrem seperti ini memiliki potensi besar untuk mendorong transformasi digital di berbagai sektor strategis.

Mulai dari telemedicine, layanan smart city, hingga digitalisasi pemerintahan dan korporasi.

“Dengan 10G, konsultasi medis yang dulu butuh 30 menit bisa selesai dalam hitungan detik,” tutur Richard menggambarkan potensi teknologi tersebut.

Remala Abadi optimistis inisiatif 10G ini akan menjadi tonggak baru dalam pembangunan infrastruktur digital nasional, sekaligus membuka jalan bagi percepatan ekonomi berbasis teknologi.

Sementara itu, di level kebijakan nasional, Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyiapkan rencana besar untuk menghadirkan koneksi internet berkecepatan minimal 1 Gbps di 38 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia pada tahun 2029.

Program tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemerataan akses digital dan penguatan daya saing ekonomi nasional.

Tahap awal akan dimulai pada 2026 dengan beberapa kota uji coba, sebelum diperluas secara bertahap hingga mencapai seluruh wilayah target pada 2029.

Pemerintah menyiapkan beragam teknologi pendukung, mulai dari jaringan fiber optik, fixed wireless access (FWA), hingga satelit untuk menjangkau daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Program ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan digital yang masih lebar antarwilayah serta mempercepat transformasi layanan publik berbasis digital.

Di sisi lain, performa bisnis Remala Abadi pada kuartal III tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan yang solid di tengah kompetisi industri telekomunikasi yang kian ketat.

Perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp 314,4 miliar, tumbuh 26% year-on-year (YoY). Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang dinormalisasi mencapai Rp 144 miliar dengan margin 46%, sementara laba bersih dinormalisasi tercatat sebesar Rp 65 miliar.

Menurut Adrian Renaldy, Direktur Remala Abadi, peningkatan tersebut tidak lepas dari melonjaknya kebutuhan masyarakat terhadap layanan fixed broadband, terutama di kawasan perkotaan dengan tingkat konsumsi digital tinggi.

“Kebutuhan masyarakat terhadap layanan fixed broadband terus meningkat, membuka ruang ekspansi agresif di wilayah Jawa dan Bali,” ungkapnya.

Untuk memperkuat ekspansi itu, Remala disebut tengah mengakuisisi beberapa jalur backbone strategis serta mengajukan izin Network Access Provider (NAP).

Langkah ini bertujuan memperluas jangkauan layanan sekaligus memastikan stabilitas koneksi dalam jangka panjang.

“Meski agresif, kami tetap menjalankan asas kehati-hatian dalam penggelaran FTTH maupun akuisisi backbone,” tegas Adrian.

Selain segmen ritel, Remala Abadi juga memperkuat portofolio bisnisnya di segmen business-to-business (B2B), pemerintahan, dan wholesale.

Diversifikasi tersebut, menurut Adrian, memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan dan menjadi fondasi utama yang menjaga kinerja keuangan tetap solid di tengah fluktuasi pasar.

“Diversifikasi segmen pasar inilah yang membuat kinerja keuangan Remala cukup solid,” pungkasnya.

Gebrakan Remala Abadi dengan internet 10 Gbps dinilai akan menjadi momentum penting bagi industri telekomunikasi nasional, sekaligus menjadi tolok ukur kesiapan Indonesia menyambut era konektivitas ultra-cepat.

Jika target pemerintah menghadirkan internet 1 Gbps dapat berjalan beriringan dengan inovasi swasta seperti Remala, maka visi Indonesia Digital 2045 bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata menuju masa depan digital berkecepatan tinggi. (mms)