INBERITA.COM, Isu menyesatkan kembali beredar di media sosial, kali ini menyasar pengguna aplikasi pesan populer WhatsApp. Narasi yang viral menyebutkan bahwa pembaruan atau update WhatsApp melalui notifikasi dapat membuat perangkat pengguna disadap dan data pribadi mereka dicuri jika mengklik tautan tertentu.
Kabar ini sontak menimbulkan kepanikan di kalangan warganet, terlebih karena disebarkan secara masif di berbagai platform.
Menanggapi maraknya informasi tersebut, pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, turun tangan memberikan klarifikasi.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Alfons menjelaskan bahwa narasi yang menyebut pembaruan WhatsApp dapat menyadap perangkat tidak memiliki dasar bukti yang kuat.
“Beredar informasi modus penipuan update WhatsApp. Katanya ‘bentuknya seperti update notifikasi dari WhatsApp’, namun tidak diberikan bukti kapan dan dari mana notifikasi tersebut muncul,” jelas Alfons melalui unggahannya di Instagram.
Pernyataan Alfons ini dikutip oleh Awak Media setelah mendapat izin resmi dari sang pakar. Ia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan karena tidak ada bukti autentik yang menunjukkan adanya notifikasi pembaruan resmi dari WhatsApp yang berujung pada penyadapan data.
Meski sebagian pengguna sudah mulai menyadari bahwa kabar tersebut tidak benar, nyatanya tidak sedikit pula yang sempat termakan isu dan panik.
Unggahan-unggahan di berbagai grup WhatsApp maupun media sosial bahkan memperingatkan agar orang tidak mengklik notifikasi “pembaruan WhatsApp”, karena diklaim bisa membuat data diambil oleh pihak tak bertanggung jawab.
Fenomena semacam ini bukan hal baru. Informasi palsu atau hoaks kerap menyebar cepat di tengah masyarakat digital, terutama jika menyangkut aplikasi populer yang digunakan jutaan orang seperti WhatsApp.
Padahal, menurut para ahli, sistem keamanan di Android dan WhatsApp sendiri telah mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Alfons menjelaskan, sejak tahun 2017, sistem operasi Android modern telah menerapkan kebijakan ketat dengan memblokir seluruh aplikasi yang diinstal dari luar Google Play Store.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah penyebaran perangkat lunak berbahaya (malware) yang kerap disamarkan sebagai aplikasi resmi.
Kemudian, pada tahun 2018, Google memperkenalkan fitur keamanan tambahan bernama Play Protect. Fitur ini berfungsi menyaring serta memindai aplikasi yang dianggap mencurigakan atau berpotensi mengandung virus.
Dengan adanya Play Protect, risiko pengguna menginstal aplikasi berbahaya dapat diminimalkan secara signifikan.
Alfons pun memberikan panduan sederhana agar pengguna dapat memastikan perlindungan perangkat mereka tetap aktif.
“Untuk mengaktifkan Play Protect, pengguna bisa pergi ke ‘Settings’, kemudian ketik ‘Play Protect’ di kolom pencarian. Akan muncul App security (Security and privacy), lanjut klik ‘Google Play Protect’,” ujarnya.
Melalui langkah tersebut, pengguna akan mengetahui apakah fitur keamanan Google Play Protect sudah aktif. Jika aktif, maka ponsel pengguna akan terlindungi dari ancaman aplikasi berbahaya yang tidak diunduh dari sumber resmi.
“Akan terlihat bahwa Google Play Protect aktif melindungi ponsel Anda. Tidak perlu takut berlebihan. Pastikan saja Anda tidak pernah instal aplikasi dari luar Play Store. Anda akan aman,” tegas Alfons.
Pakar keamanan itu juga mengingatkan bahwa pelaku kejahatan siber sering kali memanfaatkan kepanikan publik untuk menyebarkan tautan palsu atau file berbahaya.
Biasanya, mereka membuat pesan yang terlihat seolah-olah berasal dari sumber resmi seperti WhatsApp atau Google, lengkap dengan logo dan bahasa yang meyakinkan.
Jika pengguna tergoda untuk mengklik tautan tersebut, mereka bisa diarahkan ke situs palsu yang meminta izin instalasi aplikasi tertentu atau bahkan mengunduh file berbahaya secara otomatis.
Dari sinilah pencurian data bisa terjadi—bukan karena update WhatsApp itu sendiri, melainkan karena kelalaian pengguna yang menginstal aplikasi dari luar sumber resmi.
Alfons menilai, edukasi digital perlu terus digencarkan agar masyarakat tidak mudah termakan isu atau scam serupa.
Menurutnya, dengan memahami dasar keamanan digital sederhana seperti memverifikasi sumber informasi, tidak mengklik tautan mencurigakan, serta selalu memperbarui aplikasi hanya melalui Google Play Store atau App Store, pengguna sudah melindungi diri dari 90 persen ancaman siber yang umum terjadi.
Isu “update WhatsApp bisa menyadap data” ini seolah menjadi pengingat bahwa kepanikan digital bisa berbahaya ketika tidak disertai literasi yang cukup.
Faktanya, WhatsApp resmi tidak pernah mengirimkan pembaruan melalui tautan pesan atau notifikasi di luar aplikasi. Semua proses update hanya dilakukan melalui toko aplikasi resmi.
Dengan demikian, jika suatu saat pengguna menerima notifikasi pembaruan yang meminta untuk mengklik tautan tertentu, langkah paling aman adalah mengabaikan dan tidak menginstalnya.
Pastikan untuk selalu memperbarui WhatsApp langsung dari Google Play Store atau App Store agar aplikasi tetap aman dan berfungsi optimal.
Pakar keamanan pun menegaskan kembali, tidak ada alasan untuk panik secara berlebihan. Selama pengguna mematuhi prinsip dasar keamanan digital, seperti tidak menginstal aplikasi dari luar sumber resmi dan selalu menyalakan Play Protect, maka risiko penyadapan atau pencurian data bisa dihindari sepenuhnya. (mms)







