INBERITA.COM, Lebih dari 290 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam Sidoarjo dilarikan ke rumah sakit setelah diduga keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Para santri mulai merasakan gejala tak lama setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui wadah ompreng, berbeda dari mekanisme biasa.
Kejadian bermula pada Selasa siang, 1 September 2026, ketika santri menyantap menu MBG untuk makan siang.
Tak lama setelahnya, sejumlah santri mengeluhkan mual, pusing, dan lemas, gejala yang kemudian menyebar cepat ke rekan-rekan mereka. Keluhan semakin meluas menjelang waktu asar, membuat para santri tak mampu lagi menahan rasa sakit.
Menjelang magrib, kondisi para santri memburuk drastis sehingga pihak pesantren terpaksa mengevakuasi mereka ke rumah sakit terdekat.
Setidaknya 290 santri dilarikan ke RSUD Notopuro dan RSI Siti Hajar Sidoarjo, sementara proses pendataan korban masih terus berlangsung. Jumlah korban berpotensi bertambah seiring dengan evakuasi yang belum selesai.
Puluhan ambulans dikerahkan untuk mengangkut para santri yang membutuhkan penanganan medis darurat.
Armada tersebut keluar-masuk kawasan pesantren selama berjam-jam, menandakan tingginya tingkat keparahan kasus. Para orang tua dan wali santri berkumpul di luar gerbang, menanti kabar dengan hati cemas.
Makanan yang diduga menjadi sumber keracunan berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah. Selama ini, jatah MBG dibagikan menggunakan baskom atau secara langsung tanpa pernah menimbulkan masalah.
Namun, pada hari kejadian, makanan disajikan melalui wadah ompreng, mekanisme yang belum pernah digunakan sebelumnya. Pihak pengelola yayasan mengungkapkan keterkejutan mereka atas insiden ini.
“Selama ini MBG yang diterima dan dikonsumsi siswa aman-aman saja. Kali ini siswa mengalami keracunan ketika mendapat MBG melalui ompreng,” ujarnya kepada awak media tanpa menyebutkan nama.
Ia menegaskan bahwa penyebab pasti masih perlu dibuktikan secara medis dan laboratorium. Pihak berwenang bersama tim medis masih melakukan penelusuran di lapangan untuk memetakan kronologi kejadian.
Mereka menguji sampel makanan yang dikonsumsi serta mendata jumlah santri yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Hingga kini, data resmi mengenai jumlah korban dan kondisi kesehatan mereka belum dirilis.
Sementara itu, proses evakuasi dan pendataan terus berjalan tanpa henti. Para santri yang dirawat di rumah sakit menunjukkan gejala yang bervariasi, mulai dari dehidrasi hingga gangguan pencernaan akut.
Kondisi ini memaksa tim medis bekerja ekstra untuk menangani korban secara intensif. Penyebab pasti keracunan massal ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Instansi terkait berfokus pada penelusuran laboratorium untuk menemukan jejak zat berbahaya dalam makanan.
Hasil pemeriksaan diharapkan dapat memberikan jawaban yang lebih jelas dalam waktu dekat. Kejadian ini menyisakan banyak pertanyaan, terutama mengenai standar keamanan pangan dalam program MBG.
Para orang tua menanti dengan cemas, sementara pihak yayasan berharap kebenaran segera terungkap.







