INBERITA.COM, Ratusan ribu buruh dari berbagai daerah di Indonesia memadati kawasan monas Jakarta dalam momentum tahunan yang tahun ini disebut memiliki dimensi politik dan kebijakan yang lebih kuat.
Kehadiran Prabowo Subianto menjadi salah satu sorotan utama dalam peringatan May Day kali ini. Presiden menyampaikan pidato di hadapan massa buruh sekitar pukul 09.40 WIB, menandai kedekatan simbolik antara pemerintah dan kelompok pekerja.
Sejumlah pejabat negara yang hadir dalam peringatan May Day 2026 di Monas yaitu Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas, Menteri Sekretaris Negara, Ketua MPR Ahmad Muzani, Ketua DPR Puan Maharani, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, dan pejabat lainnya.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menjadi pihak pertama yang mengungkap rencana besar tersebut. Ia menyebut jumlah massa yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 200.000 orang.
“Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir,” kata Andi Gani dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Gelombang dukungan kemudian menyusul dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Organisasi buruh besar ini memastikan akan bergabung dalam perayaan di Monas, meskipun sebelumnya memiliki rencana berbeda terkait lokasi aksi.
Presiden KSPI sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa semula perayaan akan digelar di depan Gedung DPR RI dan dilanjutkan ke kawasan Indonesia Arena. Namun rencana itu berubah setelah adanya pertemuan langsung dengan Presiden.
“Tentu ada alasan mengapa KSPI memindahkan rencana May Day 1 Mei 2026 yang seyogianya di depan gedung DPR RI dan dilanjutkan ke area Indonesia arena diubah menjadi ke Monas Jakarta,” kata Said dalam konferensi pers daring, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa (28/4/2026) selama kurang lebih satu setengah jam. Dalam diskusi itu, berbagai isu ketenagakerjaan serta arah masa depan kebijakan ekonomi Indonesia turut dibahas secara mendalam.
“Dari diskusi yang kurang lebih hampir satu jam setengah tersebut, KSPI dengan didukung oleh Partai Buruh memutuskan untuk mengadakan perayaan May Day bersama Bapak Presiden Prabowo Subianto dan teman-teman serikat buruh lainnya di Monas,” ujar Said.
Momentum May Day 2026 tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga wadah penyampaian aspirasi. KSPI mengaku membawa sedikitnya 11 tuntutan utama yang mencerminkan harapan buruh Indonesia terhadap kebijakan pemerintah ke depan.
Said menyebut, sebagian dari isu krusial tersebut telah mendapat respons langsung dari Presiden, yang dinilai sebagai sinyal positif bagi masa depan perjuangan buruh.
“Dari 11 isu atau 11 harapan yang dibawa oleh KSPI yang didukung oleh Partai Buruh ada beberapa itu yang krusial yang sangat penting bagi buruh Indonesia dijawab dan ditegaskan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto,” ungkap dia.
Dari sisi mobilisasi massa, KSPI memperkirakan sekitar 50.000 anggotanya akan hadir di Monas. Mereka berasal dari berbagai kawasan industri seperti Jabodetabek, Karawang, Purwakarta, Subang, Bandung Raya hingga Cirebon Raya. Selain itu, buruh dari Serang, Cilegon, Cianjur, dan Sukabumi juga dipastikan ikut serta.
“Total massa buruh yang akan mengikuti perayaan May Day di Monas bersama Bapak Presiden Prabowo Subianto 1 Mei 2026 adalah berjumlah ratusan ribu,” ujar Said.
Kepastian kehadiran Presiden juga ditegaskan oleh Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M Qodari. Ia menekankan bahwa pemerintah memposisikan diri sebagai mitra buruh, bukan pihak yang berseberangan.
“Negara hadir sebagai pelindung pekerja sekaligus penjaga keberlanjutan lapangan kerja,” ujar Qodari.
Ia menambahkan bahwa kesejahteraan pekerja tidak dapat dipisahkan dari kesehatan dunia usaha, karena keduanya saling berkaitan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Kalau dunia usahanya enggak sehat, enggak bisa gajian ya, demikian pula sebaliknya,” ucap dia.
Kebersamaan antara buruh dan Presiden dalam perayaan May Day sejatinya bukan hal baru. Pada peringatan tahun sebelumnya, hubungan ini sudah terjalin dan bahkan memunculkan sejumlah kebijakan simbolik yang berpihak pada buruh.
Ketua Umum KSPSI, Jumhur Hidayat, sebelumnya menyebut kehadiran Presiden dalam perayaan May Day sebagai simbol harapan bagi pekerja.
“Banyak yang bertanya kepada kami, bagaimana pimpinan buruh bisa melaksanakan May Day bersama Presiden. Saya mengatakan bahwa kita bisa bersama Istana, karena Istana yang sekarang adalah Istana yang membebaskan orang-orang miskin, yang akan membebaskan buruh dari keterpurukan,” ujarnya dalam pidato May Day 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyatakan dukungan terhadap pengusulan Marsinah sebagai pahlawan nasional, yang kemudian terealisasi pada 10 November 2025 di Istana Negara.
“Asal seluruh pimpinan buruh, mewakili kaum buruh, sepakat, saya akan mendukung Marsinah jadi pahlawan nasional,” tegas Prabowo saat itu.
Di tengah potensi mobilisasi massa besar, KSPI menekankan pentingnya menjaga ketertiban selama perayaan berlangsung. Instruksi tegas disampaikan kepada seluruh peserta agar menghindari tindakan anarkis dan tetap menghormati masyarakat luas.
“Wajib tertib, tidak boleh anarkis, anti kekerasan. Saya ulangi sekali lagi aksi May Day atau perayaan May Day di seluruh Indonesia harus damai, tertib, anti kekerasan dan tidak boleh anarkis, hormati kepentingan rakyat yang lain,” pinta Said Iqbal.
Selain di Jakarta, perayaan May Day 2026 juga akan digelar serentak di 38 provinsi dan lebih dari 350 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Skala peringatan tahun ini mencerminkan besarnya ekspektasi buruh terhadap perubahan kebijakan serta penguatan perlindungan tenaga kerja di masa mendatang.







