INBERITA.COM, Setelah menjadi buronan digital dan perbincangan nasional selama bertahun-tahun, perburuan terhadap sosok hacker misterius dengan nama samaran Bjorka akhirnya menemukan titik terang.
Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya resmi mengumumkan penangkapan seorang pemuda berinisial WFT (22), yang diduga kuat berada di balik akun Bjorka di forum-forum gelap (dark web).
Penangkapan dilakukan pada Selasa, 23 September 2025, di sebuah rumah sederhana di Desa Totolan, Kecamatan Kakas Barat, Sulawesi Utara.
Dalam rekaman video berdurasi 25 detik yang beredar di media, tampak WFT duduk di sebuah kursi panjang, dikelilingi oleh beberapa polisi berpakaian sipil dan dua wanita yang turut berada di lokasi saat penggerebekan berlangsung.

Saat diinterogasi, WFT terlihat tegang. Polisi menunjuk ke arah ponsel yang diduga digunakan untuk melakukan aksi peretasan dan transaksi ilegal di dark web.
“Yang ini handphone kamu?” tanya seorang petugas. WFT mengangguk pelan, mengonfirmasi kepemilikannya atas perangkat tersebut.
Meski penangkapan telah dilakukan, penyidik menyebut bahwa penyelidikan masih berjalan untuk memastikan sejauh mana keterlibatan WFT dalam kasus kebocoran data besar yang selama ini dikaitkan dengan nama Bjorka.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Brigjen Pol Ade Ary, menyatakan bahwa proses pendalaman terus dilakukan untuk mengungkap fakta yang sebenarnya.
“Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya, penyidik masih terus lakukan pendalaman mengenai berapa yang sudah didapat oleh pelaku. Kemudian pendalaman-pendalaman lainnya masih terus dilakukan terkait dengan kesamaan nama, ini juga masih terus dilakukan pendalaman,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (3/10/2025).
WFT diketahui sudah aktif di forum-forum gelap sejak tahun 2020, dan menggunakan sejumlah nama samaran lain seperti SkyWave, Shint Hunter, hingga Opposite6890. Wakil Direktur Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus, menyatakan bahwa kepolisian tidak ingin terburu-buru menarik kesimpulan.
“Jawabannya, saya bisa jawab mungkin. Apakah Bjorka 2020, mungkin, apakah Opposite6890 yang dicari-cari, mungkin,” kata Fian.
Menurut Fian, identitas dalam dunia siber sangatlah mudah dipalsukan. Siapa pun bisa menjadi siapa saja, sehingga diperlukan investigasi digital mendalam untuk memastikan identitas dan rekam jejak siber WFT.
Bjorka sendiri dikenal sebagai pelaku kejahatan siber yang beberapa kali mengguncang Indonesia.
Ia dituduh membocorkan 6,6 juta data Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) termasuk milik Presiden Jokowi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Selain itu, Bjorka juga diduga menjual 34 juta data paspor, mengklaim telah menyerang sistem Bank BCA, dan meretas data milik Perpustakaan Nasional.
Menariknya, meski penangkapan ini telah diumumkan secara resmi, sebagian besar warganet di media sosial meragukan apakah WFT benar-benar sosok Bjorka yang selama ini ditakuti.
Banyak yang menyebut penangkapan ini terlalu cepat, tidak disertai bukti kuat yang dipublikasikan ke publik, dan terkesan hanya mengejar sensasi.
Sejumlah komentar skeptis muncul di platform X (Twitter), Instagram, hingga forum diskusi daring.

Warganet mempertanyakan bagaimana seorang pemuda dari desa kecil, dengan latar belakang anak yatim piatu, bisa melakukan peretasan berskala global, menyusup ke institusi besar, dan menjual data bernilai miliaran rupiah hanya dengan satu ponsel sederhana.
Tidak sedikit pula yang menyebut, bisa jadi WFT hanyalah “pion” atau “pengalihan isu”, sementara pelaku sebenarnya masih bebas berkeliaran di dunia maya.
Namun, polisi tetap teguh pada proses hukum yang sedang berjalan. Dari hasil pemeriksaan awal, WFT mengaku telah melakukan aksinya untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Ia disebut meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah dari hasil penjualan data pribadi yang diklaim berasal dari berbagai institusi dalam dan luar negeri.
“Dari hasil tracing, dia gunakan untuk kebutuhan pribadi. Karena kan ternyata dia anak yatim piatu,” ungkap AKBP Fian Yunus.
Meski hidup sendiri, WFT disebut turut membantu keluarga-keluarga dekatnya secara finansial.
“Dia anak tunggal, tapi dia menghidupi semua keluarga-keluarga dekatnya,” lanjut Fian.
Pihak kepolisian menyita sejumlah barang bukti dari lokasi, termasuk perangkat digital yang diduga digunakan untuk mengakses dark web dan melakukan transaksi ilegal.
Hingga kini, penyidik terus mendalami hubungan antara WFT dan akun-akun yang selama ini menjadi identitas digital Bjorka.
Penangkapan ini menjadi babak penting dalam penegakan hukum siber di Indonesia. Namun publik masih menunggu bukti yang lebih konkrit dan transparansi informasi, untuk mengakhiri spekulasi tentang sosok di balik nama yang sudah menjadi legenda urban di ranah digital: Bjorka. (xpr)







