INBERITA.COM, Setahun setelah namanya mencuat ke publik dan sempat dipuji sebagai sosok relawan yang terlibat dalam misi penyelamatan pendaki asal Brasil, posisi Agam Rinjani kini berubah drastis.
Dari figur yang pernah dielu-elukan di ruang digital, ia kembali berada di pusaran kontroversi setelah rencana kunjungan ke kawasan Gunung Rinjani bersama kreator konten Panji Petualang menuai penolakan dari pelaku wisata setempat.
Rencana tersebut awalnya dikaitkan dengan agenda pembuatan konten dokumentasi peringatan satu tahun proses evakuasi Juliana Marins, pendaki yang peristiwanya sempat menyita perhatian luas.
Namun, niat tersebut justru membuka kembali sejumlah persoalan lama yang sebelumnya mereda di permukaan, terutama terkait relasi antara relawan, komunitas lokal, dan narasi besar yang berkembang di media sosial.
Forum Wisata Lingkar Rinjani menjadi pihak yang paling vokal menyampaikan keberatan. Organisasi yang mewakili pelaku wisata di sekitar kawasan tersebut menilai kunjungan itu berpotensi memicu kembali polemik yang belum sepenuhnya selesai.
Dalam pernyataan yang disampaikan awak media, Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, menegaskan bahwa pihaknya tidak melihat rencana tersebut sebagai hal yang tepat dalam kondisi saat ini.
Ia menyebut, persoalan yang belum tuntas—terutama terkait transparansi pengelolaan dana donasi yang terkumpul pada masa evakuasi tahun lalu—menjadi alasan utama penolakan.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah komitmen yang belum diselesaikan dan dirasakan oleh relawan serta pihak yang terlibat langsung di lapangan.
“Kami sangat keberatan dengan rencana kedatangannya yang ingin membuat video di Rinjani dengan dalih memperingati satu tahun penyelamatan Juliana,” ujar Royal dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa penolakan bukan semata-mata persoalan kehadiran fisik seseorang di kawasan wisata, tetapi lebih dalam menyangkut etika publikasi, transparansi, dan sensitivitas terhadap peristiwa yang masih menyisakan catatan emosional bagi komunitas lokal.
Royal juga menyinggung adanya janji dan mekanisme pembagian atau penggunaan dana donasi yang menurut pihak forum belum sepenuhnya terselesaikan.
Ia menilai, sebelum semua persoalan itu jelas, penggunaan kembali narasi evakuasi dalam bentuk konten publik berisiko dianggap sebagai upaya pencitraan.
“Jangan sampai kedatangannya ke Rinjani justru menjadi ajang pencitraan di tengah masalah yang belum tuntas,” ujarnya menambahkan.
Lebih jauh, Forum Wisata Lingkar Rinjani meminta agar setiap pihak yang terlibat dalam aktivitas sosial maupun dokumentasi di kawasan tersebut memiliki itikad baik untuk menyelesaikan persoalan yang masih tersisa.
Mereka menekankan bahwa Gunung Rinjani bukan sekadar latar visual untuk konten, melainkan ruang hidup masyarakat, jalur wisata, sekaligus wilayah yang memiliki sensitivitas sosial dan ekologis tinggi.
Selain isu donasi, keberatan juga muncul terkait penyematan istilah “Pawang Rinjani” yang sempat ramai di media sosial.
Istilah tersebut dianggap tidak tepat dan tidak merepresentasikan peran sebenarnya di lapangan. Pihak forum secara tegas meminta agar sebutan itu tidak lagi digunakan karena dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik terhadap kerja relawan dan pelaku wisata lokal.
“Saya mengajak semua masyarakat dan pegiat wisata agar menolak Agam ke sini,” kata Royal dalam pernyataan yang mencerminkan eskalasi ketegangan di tingkat komunitas.
Di tengah meningkatnya penolakan, perhatian publik juga tertuju pada respons Panji Petualang yang sebelumnya disebut akan terlibat dalam proyek konten tersebut.
Ia akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial dan mengakui adanya kekeliruan dalam penggunaan istilah serta komunikasi terkait rencana kegiatan tersebut. Dalam sikap lanjutannya, Panji memilih menarik diri dari kolaborasi yang semula direncanakan.
Sementara itu, Agam Rinjani sendiri masih terlihat aktif di media sosial dengan membagikan sejumlah aktivitasnya, termasuk rekam jejak kegiatan sosial lain di luar peristiwa Rinjani.
Ia juga tercatat pernah menerima penghargaan dari institusi kehutanan serta terlibat dalam aksi kemanusiaan di beberapa lokasi bencana, termasuk Aceh. Namun, aktivitas digital tersebut tidak serta-merta meredam kritik yang kembali muncul dari komunitas lokal di Lombok.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana reputasi seseorang di era digital sangat bergantung pada persepsi publik yang dinamis.
Figur yang sebelumnya dianggap pahlawan di satu momen, dapat dengan cepat berhadapan dengan resistensi ketika muncul perbedaan pandangan terkait transparansi, etika publikasi, dan keterlibatan komunitas lokal.
Di sisi lain, kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang etika pembuatan konten berbasis tragedi atau misi kemanusiaan.
Ketika sebuah peristiwa yang sarat emosi diangkat kembali menjadi materi dokumentasi, batas antara edukasi, penghormatan, dan eksploitasi menjadi semakin tipis. Tanpa komunikasi yang baik dengan pihak lokal, risiko konflik sosial seperti ini hampir selalu terbuka.
Kini, situasi di kawasan Rinjani kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena daya tarik alamnya, tetapi juga karena dinamika sosial yang mengiringi nama besar yang pernah lahir dari peristiwa di gunung tersebut.
Penolakan ini menjadi pengingat bahwa dalam ekosistem wisata berbasis komunitas, keterbukaan, transparansi, dan sensitivitas budaya bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi yang menentukan diterima atau tidaknya sebuah agenda publik.







