Pemerintah Lakukan Diplomasi untuk Mengeluarkan 2 Kapal Tanker Pertamina yang Terjebak di Selat Hormuz

Ilustrasi kapal kapal tanker milik pertaminaIlustrasi kapal kapal tanker milik pertamina
Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah Siapkan Alternatif Pasokan Energi

INBERITA.COM, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa saat ini pihak pemerintah tengah melakukan upaya diplomasi untuk mengeluarkan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang saat ini terjebak di Selat Hormuz.

Hal tersebut disampaikan Bahlil dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM di Jakarta.

“Menyangkut dua kapal yang dari Selat Hormuz yang sekarang lagi balik, tadi juga dibahas oleh Pertamina. Kita lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” ujar Bahlil.

Menteri ESDM ini juga menambahkan bahwa meskipun upaya diplomasi tersebut masih berlangsung, pemerintah telah mempersiapkan alternatif lain jika kapal tersebut tidak bisa dikeluarkan dalam waktu dekat.

“Andaikan pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan kita sudah dapat. Jadi saya pikir itu problem tapi bukan sesuatu masalah yang sangat penting,” imbuh Bahlil.

Di kesempatan terpisah, Vice President (VP) Corporate Communication PT Pertamina, Muhammad Baron, memastikan bahwa kondisi kedua kapal yang berada di Selat Hormuz dalam keadaan aman.

Pertamina terus memantau situasi tersebut dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menjamin keselamatan awak kapal serta keamanan aset perusahaan.

“Kami terus memantau dan memastikan yang pertama adalah keselamatan dari para awak kapal, kemudian juga terkait dengan aset kapal yang berada di sana. Sampai dengan saat ini kondisi masih aman,” ungkap Baron pada konferensi pers yang digelar di Graha Pertamina, Jakarta.

Baron juga menambahkan bahwa total ada empat kapal yang terlibat dalam operasional di kawasan tersebut, namun hanya dua kapal yang terjebak di Selat Hormuz.

“Kami berkoordinasi dan berterima kasih kepada seluruh stakeholder, baik dari Kementerian Luar Negeri maupun pihak-pihak terkait yang bisa membantu atau mengamankan aset kami dan kru para awak yang berada di sana,” tambahnya.

Pertamina menegaskan bahwa meskipun dua kapal mereka berada di Selat Hormuz, hal tersebut tidak akan mengganggu ketahanan energi nasional.

Menurut Baron, pasokan minyak mentah yang diimpor melalui jalur Selat Hormuz dari kawasan Timur Tengah hanya mencakup sekitar 19% dari total kebutuhan minyak mentah Indonesia.

“Kargo minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah itu sekitar 19%. Saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler, alternatif, maupun emergency. Jadi untuk ketahanan energi nasional, Pertamina telah menyiapkan sistem tersebut untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional,” tegas Baron.

Meskipun Selat Hormuz merupakan jalur utama untuk impor minyak mentah Indonesia, Pertamina telah menyiapkan beberapa jalur alternatif yang dapat mengatasi potensi gangguan yang terjadi. Sehingga, meskipun ada gangguan di wilayah tersebut, pemerintah dan Pertamina memastikan bahwa pasokan energi nasional tetap dapat terjaga dengan baik.

Situasi yang terjadi di Selat Hormuz kini menjadi perhatian besar karena kawasan ini merupakan jalur perdagangan vital untuk minyak dunia.

Beberapa negara, termasuk Indonesia, sangat bergantung pada kestabilan situasi di Selat Hormuz untuk kelancaran pasokan energi.

Oleh karena itu, upaya diplomasi yang tengah dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan dua kapal Pertamina di kawasan tersebut sangat penting untuk menghindari dampak lebih jauh terhadap ketahanan energi nasional.

Lebih lanjut, upaya ini juga mencerminkan langkah preventif pemerintah dalam menghadapi potensi gangguan yang dapat timbul dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Dengan mempersiapkan jalur distribusi alternatif, pemerintah menunjukkan kesiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat mempengaruhi pasokan energi vital bagi Indonesia.

Dalam menghadapi kondisi yang ada di Selat Hormuz, pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM dan Pertamina bekerja sama untuk menjaga keamanan dan kelancaran pasokan energi nasional.

Upaya diplomasi yang tengah dilakukan diharapkan dapat memastikan keselamatan kapal-kapal Indonesia yang berada di sana.

Di sisi lain, Pertamina telah menyiapkan skema distribusi alternatif yang memastikan ketahanan energi Indonesia tetap terjaga.