Sejarah Panjang Hubungan Iran dan Israel – Dari Sekutu Sampai Jadi Musuh Bebuyutan

Sejarah panjang hubungan israel iranSejarah panjang hubungan israel iran
Sebelum Jadi Musuh Bebuyutan, Iran dan Israel Pernah Mesra

INBERITA.COM, Ketegangan geopolitik yang terjadi antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran telah mencuri perhatian dunia sejak serangan saling balas yang terjadi pada 28 Februari 2026.

Iran dan Israel, yang kini dikenal sebagai musuh bebuyutan, memiliki sejarah panjang yang dimulai jauh sebelum Masehi, di mana keduanya pernah menjalin hubungan yang jauh lebih bersahabat.

Bagaimana bisa dua negara yang dulunya bersahabat kini terperosok dalam konflik yang kian memanas? Mari kita telusuri perjalanan panjang hubungan kedua negara ini.

Hubungan awal Iran dan Israel bisa dilacak kembali ke zaman Abad ke-6 SM, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Koresh Agung dari Kekaisaran Persia.

Ketika Koresh berhasil menaklukkan Babilonia pada 539 SM, dia mengakhiri pengasingan orang Yahudi dan mengizinkan mereka untuk kembali ke tanah mereka di Yerusalem.

Selain itu, Koresh juga memerintahkan untuk membangun kembali Bait Suci di Yerusalem.

Meskipun pembangunan sempat terhenti sejenak, penguasa Persia selanjutnya, Darius Agung (522-486 SM), melanjutkan proyek ini dengan memerintahkan pengiriman pohon cedar dari wilayah Syria dan Lebanon untuk keperluan pembangunan tersebut.

Kehidupan Yahudi di bawah Kekaisaran Persia di era ini relatif damai dan berkembang pesat. Kekaisaran Sasaniyah yang berkuasa antara 224 hingga 651 M memberikan kebebasan beragama kepada orang Yahudi.

Pada periode ini, orang-orang Yahudi di Persia mampu menghasilkan Talmud Babilonia, yang menjadi salah satu teks dasar dalam hukum Yahudi.

Bahkan, pada tahun 614 M, pemberontakan Yahudi membantu Kekaisaran Sasaniyah merebut Yerusalem dari Bizantium, yang telah menekan tradisi Yudaisme di wilayah tersebut.

Namun, setelah berdirinya Israel pada tahun 1948, hubungan antara kedua negara mulai berubah. Shah Mohammad Reza Pahlavi yang memimpin Iran saat itu tidak bergabung dengan negara-negara Arab dalam menyerang Israel.

Bahkan, Shah Iran melihat Israel sebagai negara penyeimbang terhadap kebangkitan nasionalisme Arab yang semakin kuat di kawasan tersebut.

Sebagai bagian dari hubungan diplomatik yang kuat, Israel mengirimkan peralatan militer dan melatih pilot-pilot Iran. Sebagai gantinya, Iran memberikan pasokan minyak yang vital bagi Israel selama periode boikot Arab terhadap negara tersebut.

Selama periode ini, Iran dan Israel tidak hanya menjalin hubungan ekonomi yang kuat, tetapi mereka juga bekerja sama dalam pengoperasian jalur pipa minyak untuk menyuplai energi ke Eropa. Namun, hubungan baik ini tidak bertahan lama.

Segalanya berubah pada Revolusi Iran 1979, yang membawa Ayatollah Ruhollah Khomeini dan gerakan revolusionernya ke tampuk kekuasaan. Dengan revolusi tersebut, hubungan Iran-Israel berakhir seketika.

Iran secara resmi memutuskan semua perjanjian yang pernah dilakukan dengan Israel dan mulai menuduh negara Zionis ini sebagai “Setan Kecil” yang didukung oleh Amerika Serikat, si “Setan Besar”.

Slogan-slogan anti-Israel seperti “Matilah Israel” semakin populer di kalangan pendukung Khomeini.

Hari Al-Quds atau Quds Day, yang diperingati setiap tahun di Iran, menjadi bukti kuat bagaimana Iran mengkampanyekan penentangannya terhadap Israel.

Hari ini diperingati dengan unjuk rasa besar-besaran yang menyuarakan dukungan untuk Palestina dan menentang pendudukan Israel atas wilayah Palestina.

Selama periode ini, Iran juga semakin mendekatkan diri dengan negara-negara Arab yang secara ideologis mendukung perjuangan Palestina.

Ketegangan antara Iran dan Israel semakin meningkat pada tahun 1982 ketika Israel mengirimkan pasukannya ke Lebanon Selatan untuk campur tangan dalam perang saudara Lebanon.

Sebagai respons, Iran mengirimkan Garda Revolusi Iran ke Beirut untuk mendukung milisi Syiah setempat, yang kemudian menjadi basis pertumbuhan Hizbullah—sebuah kelompok yang kini dianggap sebagai proksi Iran di Lebanon.

Konflik ini berkembang lebih jauh dengan serangkaian pertempuran yang melibatkan kedua negara dan sekutunya, baik secara langsung maupun melalui proksi di kawasan.

Ketegangan antara kedua negara juga semakin memanas ketika program nuklir Iran mulai menjadi isu besar. Israel secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir.

Sementara itu, Iran terus bersikukuh bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil. Isu ini membawa kedua negara ke dalam serangkaian serangan siber dan sabotase terhadap fasilitas nuklir Iran.

Salah satu serangan paling terkenal adalah Stuxnet, sebuah malware yang diduga dikembangkan oleh Israel dan Amerika Serikat untuk merusak fasilitas nuklir Iran pada tahun 2000-an.

Selain itu, Israel juga dituduh oleh Iran atas pembunuhan sejumlah ilmuwan nuklir yang bekerja di program nuklir Iran, dengan salah satu insiden paling mencolok adalah pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh pada tahun 2020.

Fakhrizadeh dibunuh dengan menggunakan senapan mesin otomatis yang dikendalikan oleh AI, serta dipantau melalui satelit.

Di sisi lain, Israel dan sekutu-sekutunya menuduh Iran berada di balik serangkaian serangan terhadap kepentingan mereka, termasuk serangan pesawat tak berawak (drone) yang menargetkan kapal-kapal tanker minyak yang dimiliki oleh Israel.

Selain itu, serangan siber terhadap infrastruktur kritis Israel juga semakin meningkatkan ketegangan yang ada.

Dari aliansi yang kuat pada abad ke-6 SM hingga perang proksi yang berkepanjangan di Timur Tengah, hubungan antara Iran dan Israel telah mengalami perubahan drastis.

Apa yang dulunya merupakan hubungan persahabatan kini berubah menjadi permusuhan yang sangat mendalam. Setiap kebijakan, pernyataan, atau tindakan dari kedua negara tersebut selalu berpotensi memicu eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Dunia kini menyaksikan dampak dari hubungan yang telah rusak ini, dengan serangan-serangan berlanjut dan ancaman nuklir yang semakin menambah ketidakpastian kawasan.

Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa perjalanan panjang hubungan Iran dan Israel ini adalah cermin dari dinamika geopolitik yang selalu berubah.