Mundur dari Kepala BGN Karena Sakit, Tiba-tiba Nanik S Deyang Jadi Presiden Becak Listrik Indonesia

Nanik s deyang jadi presiden becak listrikNanik s deyang jadi presiden becak listrik
Nanik S Deyang tampil sebagai Presiden Becak Listrik Indonesia saat menyerahkan bantuan kepada para pebecak di Majalengka pada 13 September 2026. Sebanyak 300 unit becak listrik bantuan Presiden Prabowo diserahkan kepada pengemudi becak lanjut usia dalam kegiatan di Majalengka, Jawa Barat.

INBERITA.COM, Nanik S Deyang kembali muncul di ruang publik pada September 2026 dengan peran yang berbeda. Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) itu kini aktif lagi dalam program distribusi becak listrik di sejumlah daerah, sebuah aktivitas yang ternyata sudah lama ia geluti.

Perjalanan Nanik di BGN terbilang singkat. Ia dilantik sebagai Kepala BGN pada 8 Juni 2026 menggantikan Dadan Hindayana, lalu menyampaikan pengunduran diri pada 22 Juli 2026 dengan alasan kesehatan untuk menjalani pengobatan jantung. Koreksi kronologi ini penting karena sempat beredar anggapan bahwa ia mundur pada Juni 2026.

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan Dirgayuza Setiawan membenarkan keputusan tersebut.

“Hari ini Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung sekaligus mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional,” ujar Yuza.

Setelah menjalani pengobatan, Nanik tampil lagi sebagai Presiden Becak Listrik Indonesia. Sebutan itu bukan hal baru baginya karena sejak awal 2026 ia sudah tercatat terlibat dalam distribusi becak listrik melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN).

Pada Januari 2026, sejumlah pemberitaan ANTARA bahkan telah menyebutnya dengan sebutan yang sama.

Nanik Sudaryati Deyang lahir di Madiun, Jawa Timur, 3 Januari 1968. Sebelum masuk lingkar pemerintahan, ia memulai karier profesional dari dunia jurnalistik sebagai wartawan di Tabloid Bangkit, lalu berkembang ke pengelolaan media melalui sejumlah publikasi di bawah Kelompok Media Peluang seperti majalah Femme, Info Kecantikan, Info Kuliner, dan The Politic.

Latar pendidikannya justru berbeda dari dunia media karena ia lulusan Biologi Universitas Jenderal Soedirman dan menempuh S2 Kehutanan di Universitas Gadjah Mada.

Jalur kariernya bergerak dari media dan aktivitas sosial menuju pemerintahan. Pada 2025, Nanik dilantik sebagai Wakil Kepala BGN sebagai bagian dari perubahan struktur pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, lalu pada 8 Juni 2026 naik menjadi Kepala BGN melalui Keppres Nomor 18/M Tahun 2026.

Posisi itu membuat namanya semakin dikenal karena berkaitan langsung dengan lembaga penanganan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keterlibatan Nanik di sektor becak listrik tidak muncul setelah ia meninggalkan BGN. Pada Januari 2026, saat masih berada dalam struktur pemerintahan, ia sudah aktif dalam penyaluran becak listrik melalui Yayasan GSN.

Di Tulungagung, ia hadir dalam penyaluran 200 unit becak listrik untuk pengemudi becak lanjut usia, dan di Situbondo ia juga menyerahkan 200 unit kepada pengemudi becak lansia.

Dalam kesempatan di Situbondo itu Nanik menyatakan pembagian becak listrik oleh yayasan telah berlangsung lama.

“Yayasan GSN milik Presiden Prabowo Subianto ini membagi becak listrik sejak 14 tahun lalu (sejak 2011),” kata Nanik.

Artinya, kembalinya Nanik ke program tersebut lebih tepat dibaca sebagai kelanjutan aktivitas lama, bukan perpindahan mendadak ke bidang baru.

Pada September 2026, Nanik kembali terlihat aktif dalam penyaluran becak listrik di berbagai daerah.

Salah satunya di Majalengka, tempat 300 unit becak listrik bantuan Presiden Prabowo diserahkan kepada para pebecak pada 13 September 2026, dan Nanik kembali tampil sebagai Presiden Becak Listrik Indonesia.

Perhatiannya tidak hanya pada jumlah kendaraan yang dibagikan. Ia mengingatkan penerima agar becak listrik digunakan sesuai tujuan dan tidak diperjualbelikan, pesan yang penting karena kendaraan itu ditujukan sebagai sarana mencari nafkah, terutama bagi pebecak lanjut usia.

Pemerintah Kabupaten Majalengka melalui BAZNAS setempat mencatat, berdasarkan keterangan Nanik, lebih dari 12.000 unit becak listrik telah disalurkan ke berbagai daerah. Pada 2026 juga terdapat pesanan sekitar 70.000 unit, sementara sekitar 1.500 unit disebut telah selesai diproduksi.

Angka 70.000 unit menunjukkan besarnya skala program, tetapi ukuran keberhasilan tidak hanya terletak pada jumlah kendaraan yang diproduksi dan dibagikan.

Pemerintah daerah dan pengelola program menghadapi persoalan lanjutan seperti memastikan penerima sesuai sasaran, kendaraan benar-benar digunakan untuk bekerja, ketersediaan fasilitas pengisian daya, perawatan, serta keberlanjutan layanan setelah bantuan diterima.

Di DIY, kepolisian mencatat program ini diprioritaskan bagi pengemudi berusia 60 tahun ke atas, dan Nanik menyebut Presiden Prabowo telah memesan sekitar 70.000 unit yang jumlahnya masih bisa bertambah sesuai kebutuhan.

Distribusi program juga tidak berhenti di Jawa Timur. Sejak awal 2026, penyaluran telah menyasar berbagai kabupaten dan kota di Pulau Jawa, dengan sejumlah daerah menerima ratusan unit sekaligus.

Rentang aktivitas Nanik sepanjang 2026 pun cukup luas, dari dunia jurnalistik, aktivitas sosial dan pemerintahan, posisi Wakil Kepala BGN, hingga kepercayaan sebagai Kepala BGN.

Setelah mundur pada Juli 2026 untuk menjalani pengobatan, Nanik kembali tampak dalam aktivitas sosial yang sebenarnya telah ia jalankan sejak sebelum menjadi Kepala BGN.

Becak listrik menjadi benang merah dalam perjalanan tersebut. Program ini berupaya mengurangi beban fisik pengemudi becak, khususnya kelompok lanjut usia, namun distribusi dalam skala puluhan ribu unit menuntut pengawasan agar bantuan tidak berhenti pada proses serah terima.

Kehadiran kembali Nanik di lapangan membuat namanya muncul lagi di ruang publik, kali ini bukan karena jabatan struktural di BGN, melainkan karena keterlibatannya dalam program transportasi rakyat berbasis listrik.