INBERITA.COM, Amerika Serikat menyatakan telah menghancurkan tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu, 5 September 2026. Tindakan militer tersebut dilakukan sebagai respons langsung atas upaya serangan rudal terhadap kapal perang Amerika di kawasan Teluk.
Garda Revolusi Iran memberikan tanggapan balasan dengan mengklaim berhasil menargetkan kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Washington.
Eskalasi militer terbaru ini terjadi setelah serangkaian serangan udara Amerika Serikat pada pekan sebelumnya di tengah konflik enam bulan.
Komando Pusat Amerika Serikat menegaskan bahwa ketiga kapal tanker yang menjadi sasaran utama memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam.
Washington melancarkan operasi penghancuran setelah pasukan Iran dituduh melakukan upaya serangan mendadak terhadap kapal perang Amerika.
“Setelah serangan Iran yang gagal, CENTCOM secara permanen melumpuhkan kapal tanker minyak mentah IRGC M/T Downy di lepas pantai Pulau Kharg dan M/T Stark 1 di dekat Jask,” kata CENTCOM dalam pernyataannya.
Militer Amerika Serikat juga menghancurkan kapal tanker minyak mentah M/T Kylo yang tidak bermuatan di perairan Teluk Oman. Kapal tersebut dihantam pada sejumlah titik vital hingga tidak dapat beroperasi setelah awak kapal menerima perintah evakuasi.
CENTCOM merilis rekaman video yang menunjukkan bola api besar dan kobaran api dahsyat usai proyektil menghantam sasaran. Washington menyebutkan bahwa ketiga kapal tanker tersebut merupakan bagian dari jaringan yang mendanai IRGC beserta kelompok proksinya.
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa penghancuran armada tanker itu merupakan konsekuensi tegas atas agresi terhadap kapal perang.
“Jika Anda menembak dua kapal kami, kami akan memberikan kerugian ekonomi yang jauh lebih besar — menghancurkan tiga kapal Anda,” kata Cooper.
Pihak Garda Revolusi Iran melalui kantor berita negara IRNA melaporkan bahwa angkatan udaranya telah menyerang sebuah kapal induk dan perusak Amerika. Serangan balasan tersebut diklaim menggunakan beberapa rudal balistik jarak jauh.
IRGC mengeklaim kedua kapal perang Amerika Serikat terpaksa mundur setelah mengalami kerusakan serius akibat terjangan rudal.
Meskipun demikian, CENTCOM secara tegas membantah klaim tersebut dan menyatakan kapal perang mereka berhasil menghindari serangan.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya meredakan kekhawatiran publik dengan mengecilkan arti penting konflik yang sudah berjalan selama enam bulan. Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa dirinya tidak akan menyebut situasi saat ini sebagai perang terbuka.
Presiden Donald Trump bahkan mendeskripsikan konflik militer dengan Iran tersebut sebagai masalah kecil bagi kepentingan strategis Washington.
Teheran memberikan perlawanan gigih di tengah tekanan ekonomi berupa blokade dan sanksi berlapis dari Amerika Serikat.
Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei menegaskan bahwa Republik Islam menerapkan strategi baru guna menghadapi tekanan militer Washington. Strategi tersebut dirancang untuk menghadapi konflik berkepanjangan yang dinilai mampu menghantam fondasi kekuatan Amerika Serikat.
Selat Hormuz tetap menjadi arena pertempuran krusial karena berfungsi sebagai jalur pelayaran utama bagi pasokan energi global. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima dari total pasokan minyak bumi dunia rutin melewati jalur perairan strategis tersebut.
Teheran mempertahankan pengaruh geopolitik yang kuat di Selat Hormuz meskipun Amerika Serikat terus memperketat pengawasan maritim. Konflik militer ini terus menunjukkan dinamika yang volatil tanpa adanya tanda-tanda penurunan eskalasi dalam waktu dekat.







