INBERITA.COM, Bencana di kawasan Himalaya belum sepenuhnya berakhir meski hantaman utama berupa longsoran es dan batu telah berlalu. Di sejumlah lembah di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, material yang terbawa longsor kini justru menjadi ancaman baru.
Lapisan lumpur, batu, dan sedimen yang menumpuk di sepanjang aliran sungai berpotensi kembali bergerak ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Situasi ini membuat risiko bencana di Nepal tidak berhenti pada satu peristiwa. Kerusakan lereng dan perubahan bentuk alur lembah menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya rangkaian bencana berikutnya, mulai dari longsor sekunder hingga banjir bandang.
Maximillian Van Wyk de Vries, asisten profesor bidang bahaya alam di Universitas Cambridge, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan kombinasi antara longsoran batu dan es yang kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi.
Material dalam jumlah besar itu akhirnya memicu banjir dengan daya rusak signifikan.
“Ini adalah tanah longsor batuan dan es yang kemudian mengalir deras dan memicu banjir besar yang menyebabkan begitu banyak kerusakan. Dan kita tahu telah terjadi tanah longsor sekunder yang dipicu oleh peristiwa tersebut,” ujar Van Wyk de Vries.
Ancaman berikutnya justru dapat muncul dari kawasan yang sudah terdampak. Lereng yang mengalami pelemahan akibat longsoran sebelumnya bisa kembali runtuh. Pada saat yang sama, material yang telah mengendap di dasar lembah dapat tersapu air apabila curah hujan meningkat.
Van Wyk de Vries memperingatkan bahwa potensi tersebut tidak hanya berasal dari titik longsoran awal.
“Ada kemungkinan runtuhan di masa mendatang di sekitar area sumber yang telah melemah. Namun juga di sepanjang lembah ini, permukaannya dilapisi lumpur dan batuan setebal beberapa meter, yang semuanya, jika terjadi hujan deras, dapat terangkat kembali dan menjadi banjir baru,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, hujan deras tidak lagi sekadar persoalan cuaca bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lembah. Curah hujan tinggi dapat berfungsi sebagai pemicu yang menggerakkan kembali material hasil longsoran.
Bila material tersebut masuk ke aliran sungai secara bersamaan, volume dan kecepatan banjir dapat meningkat secara drastis.
Risiko terbesar berada di kawasan yang permukimannya berkembang di sepanjang lembah dan jalur sungai. Pola pembangunan seperti ini membuat masyarakat memiliki waktu evakuasi yang lebih sempit ketika terjadi perubahan mendadak pada kondisi lereng maupun debit air.
Para peneliti kini menggunakan berbagai sumber data untuk memahami perubahan medan setelah bencana. Citra satelit menjadi salah satu instrumen penting karena sebagian kawasan Himalaya sulit dijangkau secara langsung akibat medan ekstrem dan kondisi geografisnya.
Pemantauan dari udara memungkinkan perubahan permukaan tanah, rekahan, serta pergeseran material di lereng diamati dari waktu ke waktu. Namun teknologi tersebut bukan solusi sempurna.
Tidak setiap pergerakan tanah dapat terdeteksi sebelum longsor terjadi, terutama ketika perubahan berlangsung sangat cepat atau berada di lokasi yang sulit diamati.
Karena itu, sistem mitigasi tidak dapat hanya bergantung pada kemampuan memperkirakan titik longsor.
Informasi mengenai prakiraan hujan, kondisi sungai, stabilitas lereng, serta keberadaan penduduk di zona berisiko harus diintegrasikan agar peringatan dapat diteruskan sebelum bencana berkembang menjadi lebih besar.
Persoalan lain yang tak kalah penting adalah kerentanan masyarakat. Bahkan sistem pemantauan yang canggih tidak akan banyak membantu jika peringatan tidak sampai kepada warga atau bangunan dan infrastruktur di kawasan terdampak tidak mampu menghadapi kondisi ekstrem.
Benjamin Horton, Dekan School of Energy and Environment di City University of Hong Kong, menilai risiko bencana terbentuk dari pertemuan antara ancaman alam dan tingkat kerentanan manusia.
“Pemaparan berarti menempatkan orang dalam bahaya, dan kemudian kerentanan, yaitu ketahanan masyarakat tersebut dalam hal ketiadaan sinyal peringatan atau kode bangunan yang buruk,” kata Horton.
Pernyataan tersebut menyoroti persoalan yang lebih luas di kawasan Himalaya.
Ancaman alam memang tidak dapat dihilangkan, tetapi jumlah korban dan besarnya kerugian dapat ditekan melalui tata ruang yang lebih ketat, bangunan yang sesuai dengan karakter wilayah, serta jalur evakuasi yang benar-benar berfungsi.
Bagi Nepal, tantangan itu menjadi semakin kompleks karena wilayah pegunungan memiliki kondisi geologi yang dinamis.
Perubahan pada satu bagian lereng dapat memengaruhi kawasan di bawahnya, sementara material yang masuk ke sungai dapat membawa dampak hingga jauh dari lokasi longsoran awal.
Kondisi pascabencana juga membutuhkan pengawasan jangka menengah, bukan hanya respons darurat dalam hitungan hari.
Retakan baru, perubahan debit sungai, penumpukan sedimen, dan pergeseran tanah perlu dipantau secara berkala untuk mengetahui apakah kawasan tersebut kembali menuju kondisi tidak stabil.
Para ahli juga mendorong adanya keterbukaan data antarinstansi dan lintas wilayah. Data mengenai pergerakan tanah, curah hujan, kondisi sungai, citra satelit, serta hasil pengamatan lapangan akan jauh lebih berguna apabila dapat dipadukan dalam satu sistem pemantauan.
“Kita membutuhkan transparansi data di semua pihak agar kita dapat memahami di mana titik terpanas untuk bencana berikutnya akan terjadi,” tegas Horton.
Dorongan tersebut penting karena bencana di Himalaya tidak mengenal batas administratif. Satu kejadian di wilayah hulu dapat menimbulkan konsekuensi bagi masyarakat yang tinggal jauh di bagian hilir.
Koordinasi menjadi semakin krusial ketika sistem sungai dan bentang alam yang terdampak melintasi wilayah perbatasan.
Pada akhirnya, ancaman terbesar setelah longsor bukan semata-mata longsor berikutnya. Material yang telah tertinggal di lereng dan lembah dapat berubah menjadi sumber bahaya baru ketika dipicu hujan deras.
Artinya, masa setelah bencana justru menjadi periode penting untuk memperkuat pengawasan dan mempercepat evakuasi jika indikator bahaya kembali muncul.
Nepal kini menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan bencana berantai tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas. Perbaikan sistem peringatan dini, penataan permukiman, penguatan infrastruktur, serta keterbukaan data menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Tanpa langkah mitigasi yang menyeluruh, kawasan yang telah mengalami kerusakan dapat tetap berada dalam kondisi rawan meski situasi di permukaan terlihat kembali normal.
Di tengah lanskap Himalaya yang terus bergerak, berakhirnya satu longsor belum tentu berarti berakhirnya ancaman.







