INBERITA.COM, Perhatian Anwar Ibrahim terhadap kondisi Indonesia disampaikan langsung kepada Joko Widodo melalui sambungan telepon pada Minggu pagi, 6 September 2026. Percakapan itu berlangsung ketika Jokowi berada di Penang, Malaysia, untuk menghadiri sebuah dialog perdamaian.
Anwar menghubungi Jokowi sekaligus menyampaikan permintaan maaf karena belum dapat bertemu langsung selama kunjungan tersebut.
Di tengah agenda kenegaraan yang padat, percakapan keduanya justru memperlihatkan pesan yang lebih luas: hubungan Indonesia dan Malaysia tetap dipandang penting ketika salah satu negara menghadapi situasi sulit.
Dalam pembicaraan tersebut, Anwar menyampaikan solidaritas Malaysia kepada masyarakat Indonesia yang tengah menghadapi dampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Ia juga menyinggung persoalan kebakaran hutan dan lahan yang berdampak terhadap kualitas udara.
Pesan itu kemudian disampaikan Anwar melalui akun Instagram resminya.
“Saya menyampaikan solidaritas dengan saudara-saudara dan saudari-saudara di Indonesia setelah bencana gunung berapi dan tantangan yang dihadapi oleh cabaran jerebu.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan di Indonesia tidak berhenti sebagai isu domestik.
Dampak bencana vulkanik maupun asap akibat kebakaran hutan dan lahan berpotensi memiliki konsekuensi lintas wilayah, terutama bagi negara-negara yang secara geografis berdekatan.
Bagi Malaysia, perhatian terhadap kondisi Indonesia juga memiliki dimensi kemanusiaan sekaligus hubungan bilateral.
Kedua negara berbagi kawasan, sejarah panjang, kedekatan budaya, serta hubungan masyarakat yang telah berlangsung jauh sebelum terbentuknya hubungan diplomatik modern.
Anwar menekankan sisi tersebut dalam pesannya kepada Jokowi. Menurut dia, Malaysia dan Indonesia bukan sekadar dua negara yang berbagi perbatasan, melainkan dua bangsa yang memiliki keterikatan sejarah, budaya, dan persaudaraan.
Ia juga menegaskan bahwa dinamika politik maupun posisi seseorang dapat berubah seiring waktu. Namun, persahabatan dan rasa saling menghormati antarkedua bangsa seharusnya tetap dipertahankan.
“Insyaallah, ikatan ini akan terus dipertahankan untuk kesejahteraan rakyat kedua negara dan keamanan serta kemakmuran di wilayah tersebut,” kata Anwar.
Pesan tersebut menjadi penting karena hubungan Indonesia-Malaysia kerap menghadapi dinamika tersendiri.
Kedekatan geografis dan budaya membuat hubungan kedua negara memiliki banyak ruang kerja sama, tetapi pada saat yang sama juga dapat melahirkan perbedaan kepentingan maupun sensitivitas publik.
Karena itu, komunikasi langsung di tingkat pemimpin tetap memiliki nilai strategis. Ketika terjadi bencana yang berpotensi memengaruhi masyarakat di kawasan, dukungan politik dan kemanusiaan dari negara tetangga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan bilateral.
Jokowi kemudian merespons komunikasi tersebut dengan mengunggah momen saat dirinya menerima telepon dari Anwar. Mantan Presiden RI itu menyampaikan apresiasi atas perhatian dan doa yang diberikan Perdana Menteri Malaysia kepada masyarakat Indonesia.
“Terima kasih, sahabat saya, Perdana Menteri Malaysia, Yang Mulia Dato’ Seri Anwar Ibrahim perhatian dan doa untuk Indonesia. Senang dapat berbicara dan saling bertukar kabar pagi tadi. Mohon maaf karena belum dapat bertemu langsung di Penang,” ujar Jokowi.
Jokowi juga menegaskan pandangannya mengenai kedekatan kedua negara. Menurut dia, hubungan Indonesia dan Malaysia tidak dapat dilihat hanya dari perspektif hubungan antarnegara secara formal.
Kedua negara, kata Jokowi, merupakan bangsa serumpun dengan sejarah, budaya, dan hubungan persaudaraan yang kuat.
“Semoga persahabatan dan hubungan baik ini terus terjaga, serta membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia dan Malaysia,” imbuhnya.
Pertukaran pesan antara Anwar dan Jokowi tersebut berlangsung ketika isu bencana dan lingkungan menjadi perhatian publik.
Erupsi gunung api dapat mengganggu aktivitas masyarakat, penerbangan, hingga kesehatan, sedangkan karhutla berulang kali menjadi persoalan serius di Indonesia, terutama ketika asap menyebar dan menurunkan kualitas udara.
Dalam konteks kawasan Asia Tenggara, penanganan persoalan seperti itu juga membutuhkan komunikasi lintas negara. Negara-negara tetangga memiliki kepentingan yang sama untuk memastikan dampak bencana tidak berkembang menjadi persoalan kemanusiaan dan lingkungan yang lebih luas.
Di sisi lain, komunikasi Anwar dengan Jokowi memperlihatkan bahwa hubungan personal antarpemimpin dapat menjadi salah satu saluran diplomasi yang menjaga kedekatan bilateral.
Bahkan ketika pertemuan tatap muka tidak dapat dilakukan, komunikasi langsung tetap memungkinkan kedua pihak bertukar informasi dan menunjukkan perhatian terhadap situasi masing-masing.
Bagi Indonesia dan Malaysia, pesan semacam itu memiliki arti lebih dari sekadar ucapan simpati.
Hubungan kedua negara menyentuh berbagai bidang, mulai dari perdagangan, ketenagakerjaan, pendidikan, kebudayaan, keamanan, hingga persoalan lingkungan yang dampaknya dapat melintasi batas wilayah.
Karena itu, penekanan Anwar dan Jokowi terhadap persahabatan kedua bangsa menjadi pesan politik sekaligus sosial.
Di tengah berbagai perubahan kepemimpinan dan kepentingan nasional, fondasi hubungan masyarakat kedua negara tetap menjadi modal penting untuk menjaga kerja sama.
Percakapan pada Minggu pagi itu akhirnya tidak hanya menjadi komunikasi singkat antara dua tokoh.
Di balik permintaan maaf karena belum dapat bertemu langsung di Penang, terdapat pesan mengenai solidaritas ketika Indonesia menghadapi bencana dan komitmen untuk mempertahankan hubungan baik antara dua negara yang memiliki kedekatan sejarah.
Bagi masyarakat Indonesia dan Malaysia, pesan tersebut menegaskan kembali bahwa kedekatan dua bangsa tidak semata ditentukan oleh agenda politik. Dalam situasi krisis, perhatian, empati, dan komunikasi menjadi bagian penting untuk menjaga hubungan tetap konstruktif.







