INBERITA.COM, Insiden keracunan yang menimpa ratusan warga SMPN 1 Kabuh, Jombang, membuat pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tersebut dihentikan sementara.
Keputusan itu diambil bukan karena program pemerintah ditolak, melainkan karena pihak sekolah masih menghadapi kekhawatiran dan trauma setelah kejadian yang menimpa siswa serta tenaga pendidik.
Kepala SMPN 1 Kabuh, Suprihadiono, mengatakan sekolah belum berani kembali membagikan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mangunan pada Jumat (4/9/2026).
Pihak sekolah memilih menunggu hasil koordinasi dengan penyedia MBG dan instansi terkait sebelum menentukan langkah berikutnya.
Menurut dia, sekolah selama ini menjadi salah satu penerima program MBG dan sudah mendapatkan distribusi makanan sejak Oktober 2025. Selama hampir setahun pelaksanaan, tidak pernah muncul persoalan serupa hingga kejadian pada Rabu (2/9).
“Ini kan pencanangan program pemerintah seperti ini. Kita kan ini kejadian luar biasa. Jadi, kita itu sudah terima MBG mulai Oktober 2025. Sampai sekarang tidak ada masalah, baru kemarin mungkin ada sedikit masalah,” kata Suprihadiono kepada awak media, Jumat (4/9/2026).
Di SMPN 1 Kabuh, penerima manfaat MBG mencapai 686 orang yang terdiri dari 639 siswa serta 47 guru dan karyawan. Namun, tidak seluruh penerima mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang dibagikan pada Rabu siang.
Dinas Kesehatan Jombang mencatat sebanyak 256 siswa dan guru mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG. Gejala yang muncul antara lain sakit perut, mual, muntah, pusing hingga diare.
Keluhan tersebut mulai dirasakan sejumlah korban pada Rabu sore hingga malam. Kondisi sebagian siswa kemudian masih belum pulih pada keesokan harinya sehingga harus mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Sebanyak 81 siswa dilaporkan masih mengalami sakit pada Jumat pagi. Mereka kemudian dibawa ke tiga fasilitas kesehatan, yakni klinik dan puskesmas, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sementara itu, tujuh siswa harus menjalani rawat inap di Puskesmas Kabuh karena kondisi tubuh mereka masih lemas. Perkembangan kondisi para korban menjadi salah satu alasan sekolah tidak ingin tergesa-gesa kembali mendistribusikan MBG sebelum ada kepastian mengenai keamanan makanan.
Menu yang dikonsumsi para siswa dan guru pada hari kejadian terdiri dari nasi putih, udang saus padang, tahu susu, pepaya, serta tumis wortel, sawi putih dan brokoli.
Dari keterangan sejumlah korban, perhatian kemudian mengarah pada lauk udang saus padang. Makanan tersebut disebut memiliki aroma yang kurang sedap ketika dikonsumsi.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa udang menjadi penyebab keracunan sebelum pemeriksaan dan penyelidikan dari pihak berwenang selesai.
Hal ini penting karena keracunan pangan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kualitas bahan baku, proses memasak, kebersihan peralatan, penyimpanan, suhu makanan, hingga lamanya makanan berada dalam perjalanan sebelum dikonsumsi.
Karena itu, penentuan penyebab tidak cukup hanya berdasarkan perubahan aroma atau kesamaan keluhan para korban.
SPPG Mangunan sendiri setiap hari menyiapkan sekitar 2.899 porsi MBG yang didistribusikan kepada 19 sekolah penerima manfaat.
Besarnya cakupan distribusi membuat aspek pengawasan keamanan pangan menjadi sangat penting, terutama karena makanan dikonsumsi secara bersamaan oleh anak-anak dan tenaga pendidik dalam jumlah besar.
Kasus di SMPN 1 Kabuh juga memperlihatkan bahwa keberhasilan program makan bergizi tidak hanya ditentukan oleh kandungan nutrisi dalam menu. Keamanan pangan merupakan bagian yang sama pentingnya.
Makanan yang secara komposisi memenuhi kebutuhan gizi tetap berisiko menimbulkan masalah apabila kualitas bahan, pengolahan, penyimpanan atau distribusinya tidak terjaga.
Bagi sekolah, persoalan tersebut kini bukan sekadar mengenai kapan makanan kembali dibagikan. Ada aspek kepercayaan yang harus dipulihkan.
Siswa yang mengalami sakit setelah mengonsumsi makanan sekolah tentu membutuhkan kepastian bahwa kejadian serupa tidak akan terulang ketika program kembali dijalankan.
Suprihadiono mengatakan keputusan penghentian sementara belum memiliki batas waktu yang pasti. Sekolah masih akan berkoordinasi dengan SPPG Mangunan serta pihak-pihak terkait untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Hari ini sementara anak-anak masih trauma, kita ndak bagikan dulu. Ini kita koordinasi nanti dengan SPPG dan dengan teman-teman dan pihak yang terkait. Kita ndak berani memutuskan,” ujarnya.
Sikap hati-hati tersebut juga menunjukkan bahwa sekolah tidak ingin mengambil keputusan sepihak. Di satu sisi, MBG merupakan program pemerintah yang ditujukan untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik.
Di sisi lain, keselamatan siswa menjadi pertimbangan utama ketika muncul kejadian luar biasa seperti keracunan massal.
Dengan jumlah korban mencapai 256 orang, evaluasi terhadap rangkaian proses penyediaan makanan menjadi hal yang krusial.
Pemeriksaan terhadap makanan yang dikonsumsi, bahan baku, proses pengolahan, serta jalur distribusi diperlukan untuk memastikan sumber persoalan dan mencegah kejadian serupa terulang.
Terlebih, jumlah penerima MBG dari SPPG Mangunan mencapai ribuan orang setiap hari. Jika ditemukan persoalan pada salah satu tahapan produksi atau distribusi, evaluasi menyeluruh dibutuhkan agar potensi risikonya tidak meluas ke sekolah penerima lainnya.
Untuk sementara, SMPN 1 Kabuh memilih memberi ruang bagi proses pemeriksaan dan pemulihan kondisi siswa. Pembagian MBG dihentikan sampai ada koordinasi lebih lanjut dan keputusan yang dianggap aman bagi seluruh warga sekolah.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program makanan bergizi dalam skala besar membutuhkan sistem pengawasan berlapis.
Kecepatan distribusi harus berjalan beriringan dengan pengendalian mutu, kebersihan, keamanan bahan pangan dan respons cepat ketika muncul keluhan dari penerima.
Sementara penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan, perhatian utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan dan kondisi mereka terus dipantau.
Bagi SMPN 1 Kabuh, kembalinya program MBG nantinya bukan hanya soal membagikan makanan seperti sebelumnya, tetapi juga memastikan para siswa dan orang tua kembali merasa aman untuk menerimanya.







