INBERITA.COM, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, menjadi sorotan publik setelah menyatakan bahwa dirinya sudah memahami isu hak asasi manusia sejak usia lima tahun.
Pernyataan ini muncul saat Pigai menghadiri agenda Sinkronisasi dan Akselerasi Rapat Koordinasi Strategi Penguatan HAM di Wilayah serta Pelaksanaan Desa Sadar HAM Tahun 2026 di Kementerian HAM, Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Dalam kesempatan itu, Pigai menekankan pengalamannya yang panjang dalam memahami HAM dan meyakini setiap pernyataan yang diucapkannya selalu berdasarkan prinsip HAM.
“Kalau saya, kalian tidak usah ragukan. Saya itu sudah menteri, perjalanan saya dari umur lima tahun soal HAM saya sudah paham. Semua yang saya ucapkan adalah HAM. Tidak mungkin saya salah,” ujar Pigai, seperti dikutip dari berbagai sumber berita dan video viral.
Selain itu, Pigai menegaskan bahwa pemahamannya tentang HAM juga diperkuat melalui sertifikasi profesional sebagai peneliti hingga penyelidik HAM.
Ia mengklaim memiliki kemampuan membaca data statistik secara mendalam, yang memperkuat setiap analisisnya.
“Di hadapan aktivis, di hadapan sipir saya pun saya tahu. Saya punya sertifikat peneliti, metodologinya kuat. Saya statistik, baca angkanya kuat. Sehingga saya tidak akan pernah salah,” tambah Pigai.
Pernyataan ini langsung menjadi viral di media sosial, termasuk Instagram, TikTok, dan YouTube, memicu beragam tanggapan dari netizen.
Sebagian warganet memuji ketegasan Pigai sebagai aktivis HAM senior yang kini menjabat menteri, menyoroti rekam jejaknya yang panjang dalam advokasi hak asasi manusia.
Namun, sebagian lainnya mengkritiknya karena terlalu percaya diri atau dianggap “sok tahu”, mengingat usia lima tahun biasanya masih dalam tahap belajar bahasa dasar, bukan konsep kompleks seperti HAM.
Natalius Pigai, lahir pada 25 Desember 1975 di Paniai, Papua Tengah, memang dikenal luas sebagai aktivis HAM berpengalaman.
Sebelum menjabat sebagai Menteri HAM di Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto, Pigai pernah menjadi Komisioner Komnas HAM dan aktif dalam berbagai lembaga advokasi hak asasi manusia, khususnya terkait isu Papua.
Pernyataan Pigai terkait pemahaman HAM sejak usia lima tahun juga menjadi bagian dari upayanya mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap HAM, termasuk melalui sosialisasi nilai-nilai hak asasi manusia yang dimulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar.
Namun, klaim ini sekaligus memicu diskusi luas mengenai kredibilitas pengalaman pribadi dalam menangani isu sensitif seperti HAM.
Fenomena viral ini menunjukkan bagaimana figur publik yang memiliki rekam jejak panjang dalam advokasi HAM tetap menjadi pusat perhatian ketika memberikan pernyataan kontroversial.
Selain itu, reaksi publik juga mencerminkan keingintahuan masyarakat terhadap pengalaman personal seorang pejabat negara dalam memahami dan menerapkan prinsip hak asasi manusia sejak usia dini.
Dengan perhatian yang besar di media sosial, pernyataan Natalius Pigai diprediksi akan terus menjadi bahan perbincangan, sekaligus memicu diskusi lebih luas tentang pentingnya pendidikan dan kesadaran HAM sejak usia muda.







