Mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro Resmi Ditahan Setelah Tindakan Berusaha Kabur dari Tahanan Rumah Terungkap

Mantan Presiden Brasil Jair BolsonaroMantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro
Jair Bolsonaro Ditahan Setelah Tindakan Kabur Terungkap: Proses Hukum Terus Berlanjut

INBERITA.COM, Mantan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, kini resmi ditahan setelah otoritas Brasil menilai ada potensi bahwa ia akan melarikan diri jika tetap menjalani tahanan rumah.

Bolsonaro, yang merupakan tokoh sayap kanan berusia 70 tahun, sebelumnya divonis lebih dari 27 tahun penjara terkait berbagai tuduhan, termasuk upaya kudeta yang diduga ia rencanakan pada September lalu.

Menurut laporan BBC yang dikutip pada Minggu (23/11/2025), penahanan Bolsonaro dilakukan setelah muncul fakta baru yang memperkuat dugaan bahwa ia berpotensi melarikan diri.

Keputusan ini diambil oleh Hakim Mahkamah Agung, Alexandre de Moraes, yang menyebut bahwa penahanan tersebut merupakan langkah pencegahan.

Bolsonaro, yang sebelumnya berada dalam tahanan rumah dengan pengawasan elektronik, mengaku sempat mencoba membuka gelang pemantau elektronik yang dipasang di kakinya menggunakan solder.

Meski ia membantah berniat untuk melarikan diri, pengadilan menilai tindakannya itu menunjukkan upaya serius untuk melarikan diri. Selain itu, ia diduga berencana untuk memanfaatkan demonstrasi yang direncanakan di sekitar rumahnya sebagai pengalih perhatian untuk kabur.

Keputusan penahanan ini merupakan bagian dari rangkaian proses hukum yang dihadapi Bolsonaro setelah Mahkamah Agung Brasil menjatuhkan vonis terhadapnya.

Bolsonaro, yang sebelumnya kalah dalam pemilu 2022 melawan Luiz Inácio Lula da Silva, divonis lebih dari 27 tahun penjara setelah terbukti memimpin konspirasi untuk menggagalkan hasil pemilu dan mempertahankan kekuasaannya secara ilegal.

Menurut pengadilan, Bolsonaro mengetahui adanya rencana ekstrem yang mencakup upaya pembunuhan terhadap Lula dan calon wakil presidennya, Geraldo Alckmin, serta plot untuk menangkap dan mengeksekusi Hakim Alexandre de Moraes, yang menangani kasus-kasus terkait Bolsonaro.

Rencana kudeta tersebut, meskipun tidak didukung oleh militer, mencakup usaha untuk menggulingkan pemerintahan terpilih.

Meskipun upaya kudeta ini gagal dan Lula dilantik sebagai presiden pada 1 Januari 2023 tanpa hambatan, situasi politik semakin memanas.

Seminggu setelah pelantikan Lula, ribuan pendukung Bolsonaro yang tidak terima dengan kekalahan tersebut menyerbu gedung-gedung pemerintahan di Brasilia.

Aksi tersebut berujung pada bentrokan dengan aparat keamanan dan lebih dari 1.500 orang ditangkap. Pengadilan menilai bahwa tindakan tersebut merupakan hasil dari hasutan Bolsonaro yang bertujuan untuk memicu campur tangan militer dan merusak stabilitas negara.

Meskipun vonis tersebut sudah dijatuhkan, Bolsonaro masih memiliki hak untuk mengajukan banding. Pengacara Bolsonaro sebelumnya mengajukan permohonan agar klien mereka dapat menyelesaikan masa hukuman dalam tahanan rumah dengan pengawasan elektronik.

Mereka juga memohon agar Bolsonaro diperbolehkan keluar rumah untuk menjalani perawatan medis rutin terkait infeksi paru-paru dan kondisi kesehatannya yang memburuk.

Namun, langkah hukum untuk mempertahankan status tahanan rumah ini mendapatkan tantangan serius setelah pengadilan menemukan bahwa tindakan Bolsonaro dapat membahayakan proses hukum dan keamanan publik.

Pengadilan menilai bahwa tindakan mantan presiden tersebut tidak hanya menunjukkan niat untuk kabur, tetapi juga berpotensi mengganggu kelancaran proses hukum yang tengah berjalan.

Saat ini, Bolsonaro resmi ditahan di kantor polisi Brasilia dan dijadwalkan menjalani sidang penahanan pada Minggu (23/11/2025).

Penahanan ini menandai perkembangan baru dalam perjalanan hukum Bolsonaro setelah sebelumnya ia mencoba untuk mempertahankan status tahanan rumah dengan alasan kesehatan.

Kasus yang melibatkan mantan Presiden Brasil ini menunjukkan dampak buruk dari kekacauan politik yang sempat menghinggapi Brasil setelah pemilu 2022.

Tuduhan kudeta, upaya untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, dan serangan terhadap lembaga-lembaga negara menjadi sorotan utama dalam proses hukum yang dihadapi Bolsonaro. (xpr)