INBERITA.COM, Dalam pandangan mantan Kepala Intelijen Inggris, Sir Alexander William Younger, klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengatakan bahwa AS telah memenangkan perang melawan Iran dinilai sebagai omong kosong belaka.
Menurut Younger, serangan yang dipimpin oleh AS bersama sekutunya, Israel, terhadap Iran sejak invasi dimulai pada Februari 2026, belum menunjukkan hasil yang signifikan atau kemenangan bagi pihak agresor.
Younger, yang menjabat sebagai Kepala M16 antara 2014 hingga 2020, mengungkapkan bahwa Iran justru menunjukkan keunggulan dalam perang ini.
Keunggulan tersebut, menurut Younger, tidak hanya bersifat militer, tetapi lebih pada sikap mental dan moralitas dalam menghadapi agresi AS dan Israel yang dipimpin oleh Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Iran lebih unggul,” tegas Younger dalam wawancaranya dengan The Economist, yang dipublikasikan pada Kamis (26/3/2026).
“Saya harus mengatakan kesimpulan itu (keunggulan Iran),” ujarnya.
Menurut Younger, salah satu faktor utama yang membuat Iran memiliki keunggulan dalam perang ini adalah karena AS dan Israel terlalu meremehkan kemampuan dan kesiapan Iran dalam menghadapi agresi mereka.
Younger, yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia intelijen, terutama terkait informasi militer dari AS serta pengamatan mendalam terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, mengungkapkan bahwa Iran telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan perang ini sejak Juni 2025.
Persiapan tersebut semakin matang dan mengeras setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada awal invasi yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Meskipun Younger mengaku tidak merasa sedih atas wafatnya Ali Khamenei, ia menilai bahwa AS dan Israel menganggap enteng peristiwa tersebut.
Menurutnya, Trump dan Netanyahu memandang kematian Khamenei sebagai peluang untuk melemahkan Iran. Namun, hal ini justru menjadi momentum bagi Iran untuk menunjukkan daya tahan yang lebih besar.
“Yang dilakukan oleh Trump (dan Netanyahu) memperjelas bahwa bagi Iran ini adalah perang eksistensial. Mereka (AS dan Israel) mencoba untuk membuat Iran terpojok dengan kematian pemimpinnya, tetapi itu justru memberikan daya tahan yang lebih besar bagi Iran terhadap musuhnya,” ujar Younger.
Menurut Younger, keputusan AS dan Israel untuk melancarkan serangan terhadap Iran tanpa menghitung dengan matang dampaknya membuat perang ini berkembang lebih luas.
Iran, dalam pandangannya, tidak hanya mempertahankan diri tetapi juga mengembangkan perlawanan yang sporadis, menyasar negara-negara yang dianggap mendukung agresi tersebut di kawasan Timur Tengah.
Perlawanan ini semakin memanas dan memperburuk krisis yang ada di kawasan tersebut.
Perlawanan sporadis yang dimaksud oleh Younger membuat perang kali ini meluas ke negara-negara tetangga Iran, termasuk di kawasan Teluk Persia dan negara-negara Arab.
Hal ini menyebabkan krisis besar yang tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang keamanan global.
Namun, menurut Younger, AS dan Israel, yang merupakan pihak yang memulai konflik ini, menjadi biang keladi atas ketidakstabilan yang terjadi di Timur Tengah saat ini.
“Iran membuat perhitungan terhadap AS-Zionis dengan menghantam semua pihak yang turut membantu dua agresor tersebut di kawasan Timur Tengah. Perlawanan Iran memaksa perang ini meluas dan menciptakan krisis di kawasan yang mengancam keamanan global,” kata Younger.
Dari perspektif Younger, ini adalah gambaran bagaimana Iran berhasil memanfaatkan setiap kesempatan untuk merespons serangan dengan cara yang lebih strategis dan mendalam.
Iran tidak hanya mengandalkan serangan balik militer, tetapi juga menunjukkan ketahanan dalam menghadapi serangan dari dua kekuatan besar di dunia ini.
Kekuatan moral dan mental Iran, menurut Younger, menjadi faktor penting dalam mempertahankan daya juang negara tersebut meskipun dihadapkan pada serangan yang semakin intens.
Sebagai tambahan, Younger juga menyoroti bagaimana Iran berhasil membuat AS dan Israel menghadapi konsekuensi dari keputusan mereka, yang awalnya terlihat seperti langkah strategis yang unggul.
Namun, kini perang telah meluas dan menjadi lebih rumit, dengan lebih banyak pihak yang terlibat dan lebih banyak ancaman terhadap stabilitas regional dan global.
Dari sudut pandang mantan kepala intelijen Inggris, Iran telah memecundangi Amerika Serikat dan Israel dalam perang ini.
Keunggulan Iran terletak pada persiapannya yang matang, sikap mentalnya yang tangguh, serta kemampuannya untuk memanfaatkan setiap kesempatan dalam perlawanan.
Sementara itu, AS dan Israel, meskipun memiliki kekuatan militer yang lebih besar, belum dapat menunjukkan kemenangan yang signifikan.
Ini adalah sebuah perang eksistensial bagi Iran, yang dengan cepat memanfaatkan celah dan memperluas konflik ini di kawasan Timur Tengah.







