Lukisan God’s Day Karya SBY Laku Rp311 Juta dalam 10 Menit di Lelang Art For Humanity

Lukisan berjudul God’s Day karya Presiden ke 6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)Lukisan berjudul God’s Day karya Presiden ke 6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
Lukisan God’s Day karya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terinspirasi dari tragedi tsunami Aceh. Karya bernuansa empati dan refleksi kemanusiaan ini laku Rp311 juta dalam lelang Art For Humanity, dengan seluruh hasil penjualan disumbangkan untuk membantu korban banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

INBERITA.COM, Lukisan berjudul God’s Day karya Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sukses menjadi pusat perhatian dalam acara lelang seni rupa bertajuk Art For Humanity yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Karya seni bernuansa kemanusiaan tersebut terjual dengan harga fantastis Rp311 juta hanya dalam waktu sekitar 10 menit sejak palu lelang diketok, mencerminkan tingginya antusiasme kolektor dan publik terhadap karya seni yang mengangkat tragedi kemanusiaan di Indonesia.

Lukisan God’s Day ditawarkan dengan harga pembuka Rp100 juta. Namun, dalam hitungan menit, penawaran terus meningkat seiring tingginya minat peserta lelang.

Lonjakan harga yang hampir tiga kali lipat dari nilai awal itu menegaskan daya tarik kuat lukisan tersebut, baik dari sisi artistik maupun pesan kemanusiaan yang dikandungnya. Keberhasilan penjualan ini sekaligus menjadi bukti bahwa karya seni dapat menjadi medium efektif untuk menggalang solidaritas sosial dan empati publik terhadap korban bencana alam.

Acara Art For Humanity sendiri merupakan pameran sekaligus lelang seni rupa yang melibatkan lebih dari 20 seniman dari berbagai latar belakang. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas untuk mendukung upaya penanggulangan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Seluruh hasil lelang dari acara tersebut disalurkan sepenuhnya untuk membantu para korban banjir di daerah-daerah terdampak. Secara visual, lukisan God’s Day menghadirkan gambaran dramatis tentang bencana banjir bandang yang menenggelamkan desa-desa.

Air berwarna kecokelatan mendominasi kanvas berukuran besar dengan medium oil on canvas, menciptakan kesan kehancuran, kepanikan, dan penderitaan yang mendalam. Warna dan komposisi lukisan tersebut merepresentasikan dahsyatnya kekuatan alam sekaligus rapuhnya kehidupan manusia ketika berhadapan dengan bencana.

Visual ini menjadi refleksi mendalam atas tragedi kemanusiaan yang kerap terjadi di Indonesia, sebuah negara yang rawan bencana alam. SBY mengungkapkan bahwa lukisan tersebut lahir dari pengalaman emosionalnya saat menangani langsung bencana tsunami Aceh dan Nias pada tahun 2004.

Pengalaman tersebut meninggalkan jejak mendalam yang terus membekas dalam ingatannya hingga kemudian dituangkan ke dalam karya seni. Dalam acara lelang yang digelar pada Selasa (24/12/2025) malam, SBY mengenang momen-momen awal setelah tsunami melanda wilayah tersebut.

“There is a beautiful story, saat Aceh dan Nias kena tsunami, saya sedang berada di Jayapura, saya bilang, saya harus melihat langsung ke sana,” ujar SBY di hadapan para peserta lelang.

Ia menegaskan bahwa keputusannya untuk datang langsung ke Aceh diambil meski kondisi keamanan saat itu belum sepenuhnya kondusif. SBY kemudian menceritakan perjalanan menuju Aceh menggunakan pesawat kecil bersama rombongan.

Ia tiba di wilayah terdampak pada hari kedua pascatsunami. Apa yang ia saksikan kala itu menjadi pengalaman yang sangat membekas dan sulit dilupakan.

“Semua porak poranda, jenazah di mana-mana, saya di Banda Aceh bersama Bu Ani, ada dua anak laki-laki yang keluarganya habis Bu Ani memangku dan menangis, saya menahan air mata,” tuturnya.

Menurut SBY, peristiwa tersebut merupakan puncak penderitaan kemanusiaan yang pernah ia saksikan sepanjang hidupnya. Perasaan kehilangan, keputusasaan, serta kehancuran yang dialami para korban menjadi pengalaman emosional yang sangat kuat.

Momen-momen itulah yang kemudian menjadi inspirasi utama dalam penciptaan lukisan God’s Day, sebuah karya yang tidak hanya merekam peristiwa bencana, tetapi juga mengekspresikan empati dan refleksi kemanusiaan. Dalam penuturannya, SBY juga menggambarkan bagaimana visual banjir bandang yang ia saksikan kala itu terekam jelas dalam ingatannya.

“Saya lihat deras air dari atas bukit, kampung hanyut, ini tragedi, ini humanity insyaAllah berapa pun harga lelangnya, saya ikhlas,” pungkas SBY.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tujuan utama keikutsertaannya dalam lelang seni ini bukan semata soal nilai ekonomi, melainkan kontribusi nyata bagi para korban bencana. Seluruh hasil lelang lukisan pada malam itu, termasuk penjualan God’s Day senilai Rp311 juta, disumbangkan sepenuhnya untuk membantu korban banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Melalui kegiatan ini, seni tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai sarana solidaritas dan aksi kemanusiaan.

Keberhasilan lelang ini diharapkan dapat mendorong semakin banyak pihak untuk berkontribusi dalam upaya kemanusiaan melalui berbagai medium, termasuk seni rupa, sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya kepedulian sosial di tengah bencana yang kerap melanda Indonesia.