INBERITA.COM, Belakangan ini nama Sarwendah kembali menjadi perbincangan publik setelah muncul berbagai unggahan di media sosial yang mengaitkannya dengan dugaan ritual pesugihan di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur.
Rumor tersebut berkembang cepat dan memunculkan beragam spekulasi, meski belum disertai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menanggapi isu yang terus bergulir, mantan personel Cherrybelle itu akhirnya memberikan penjelasan secara terbuka. Sarwendah menegaskan bahwa kabar yang menyebut dirinya melakukan ritual untuk mencari kekayaan adalah informasi yang tidak benar.
Dalam perbincangan di podcast Denny Sumargo, Sarwendah menjelaskan bahwa kedatangannya ke Gunung Kawi semata-mata berkaitan dengan pekerjaan di dunia hiburan.
Ia mengaku berada di lokasi tersebut untuk menjalani proses syuting sebuah program bertema horor yang diproduksi Media Onsu Perkasa.
Menurutnya, seluruh aktivitas selama berada di lokasi merupakan bagian dari kebutuhan produksi. Ia hanya mengikuti arahan kru dan tim kreatif yang telah menentukan lokasi pengambilan gambar.
“Aku ke situ untuk syuting horor, bukannya berita-berita di luar sana. Itu sama sekali tidak benar,” ujar Sarwendah.
Penjelasan tersebut muncul ketika Denny Sumargo sempat menyinggung berbagai isu yang belakangan menyeret nama Sarwendah.
Bahkan, pembawa acara juga sempat menanyakan apakah putri sulungnya, Thalia, mengetahui rumor yang ramai dibicarakan masyarakat.
Sarwendah mengatakan sang anak tidak pernah mempertanyakan isu pesugihan tersebut. Ia justru tersenyum karena mengingat bahwa keberadaannya di Gunung Kawi saat itu berkaitan dengan proses produksi sebuah program yang pernah dijalankannya.
Isu mengenai Gunung Kawi memang kerap memancing perhatian publik karena kawasan tersebut sejak lama dikenal memiliki beragam cerita yang berkembang di masyarakat. Namun, Sarwendah menilai berbagai anggapan yang diarahkan kepadanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Ia menjelaskan bahwa selama syuting berlangsung, rombongan didampingi oleh juru kunci setempat yang memperkenalkan sejumlah titik lokasi beserta sejarahnya.
Penjelasan tersebut dilakukan agar proses produksi memiliki informasi yang memadai mengenai tempat yang dijadikan latar pengambilan gambar.
Sarwendah mengaku tidak mengetahui secara rinci seluruh lokasi yang dikunjungi karena dirinya hanya menjalankan tugas sebagai pengisi acara. Ia mengikuti alur produksi sebagaimana diarahkan tim di lapangan.
“Benar-benar aku syuting. Kami syuting, aku juga enggak tahu kuncennya bawa ke mana-mana. Jadi dia mengenalkan lokasi sini, lokasi sini dijelaskan satu-satu untuk kebutuhan syuting,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Sarwendah juga mengakui sempat mengikuti kegiatan bersama seluruh kru sebelum proses syuting dimulai. Namun, ia menegaskan kegiatan tersebut bukan ritual pesugihan.
Menurutnya, aktivitas tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi masyarakat setempat, yakni meminta izin sebelum memasuki kawasan yang akan digunakan untuk pengambilan gambar. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah makan nasi kuning bersama kru.
Ia menilai tradisi tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap budaya lokal yang lazim dilakukan di sejumlah daerah ketika seseorang akan memulai aktivitas tertentu di lokasi yang dianggap memiliki nilai sejarah maupun budaya.
Sarwendah menepis anggapan bahwa kegiatan tersebut berkaitan dengan praktik mencari kekayaan melalui cara-cara mistis. Ia memastikan tidak pernah melakukan ritual sebagaimana yang ramai dibicarakan di media sosial.
“Itu juga semuanya ada tayangannya. Setelah itu saya enggak pernah ke situ lagi sama sekali. Enggak ada kata-kata pesugihan. Itu 1.000 persen enggak ada,” tegasnya.
Dalam podcast tersebut, isu yang sempat berkembang juga dikaitkan dengan pernyataan Marcel Radhival atau yang lebih dikenal sebagai Pesulap Merah. Denny Sumargo bahkan sempat menghubunginya melalui sambungan telepon agar dapat mengonfirmasi langsung kabar yang beredar.
Percakapan itu menjadi salah satu bagian dari upaya menghadirkan klarifikasi secara terbuka sehingga publik dapat mendengar penjelasan langsung dari pihak yang namanya menjadi sorotan.
Sarwendah juga mengungkapkan bahwa pihak juru kunci yang mendampinginya ketika syuting sebenarnya pernah memberikan klarifikasi melalui media sosial. Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa tidak pernah ada ritual pesugihan yang dilakukan selama kegiatan produksi berlangsung.
Namun, menurut Sarwendah, klarifikasi tersebut tidak mendapatkan perhatian sebesar rumor yang lebih dulu menyebar.
“Tidak ada pesugihan sama sekali yang aku lakukan, tapi berita itu sepertinya tidak naik. Kalau fakta sepertinya susah naik,” ujarnya.
Selain membantah tudingan mengenai ritual di Gunung Kawi, Sarwendah juga menepis informasi lain yang menyebut adanya mantan asisten yang mengaku mengetahui dugaan praktik tersebut. Ia mengaku tidak mengenal sosok yang dimaksud dan mempertanyakan validitas informasi yang beredar.
Penjelasan ini sekaligus menjadi hak jawab Sarwendah terhadap berbagai kabar yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.
Ia mengaku sengaja hadir dalam podcast tersebut karena ingin menyampaikan langsung versinya kepada masyarakat, tanpa perantara maupun potongan informasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Fenomena berkembangnya rumor di media sosial menunjukkan bagaimana sebuah informasi dapat menyebar dengan sangat cepat sebelum proses verifikasi dilakukan.
Dalam situasi seperti ini, klarifikasi dari pihak yang bersangkutan menjadi penting agar publik memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai suatu peristiwa.
Di sisi lain, kasus yang dialami Sarwendah juga menjadi pengingat bahwa aktivitas profesional seseorang terkadang dapat ditafsirkan berbeda ketika dipotong dari konteks aslinya.
Kunjungan ke lokasi yang memiliki cerita mistis, misalnya, belum tentu berkaitan dengan praktik yang selama ini berkembang dalam berbagai mitos masyarakat.
Melalui penjelasan yang disampaikannya, Sarwendah berharap rumor tersebut tidak lagi berkembang tanpa dasar.
Ia kembali menegaskan bahwa kehadirannya di Gunung Kawi semata-mata untuk memenuhi pekerjaan sebagai pengisi acara, bukan melakukan ritual atau aktivitas mistis sebagaimana yang ramai diperbincangkan.







