Ketegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Global Diprediksi Naik Tajam

Dampak Operasi Tempur AS di Iran, Pasar Waspadai Lonjakan Harga MinyakDampak Operasi Tempur AS di Iran, Pasar Waspadai Lonjakan Harga Minyak
Selat Hormuz Terancam, Harga Minyak Dunia Bisa Melonjak 10%.

INBERITA.COM, Harga minyak dunia diprediksi naik tajam menyusul operasi militer Amerika Serikat (AS) di Iran.

Langkah militer yang dikonfirmasi sebagai “operasi tempur besar-besaran” tersebut memicu kekhawatiran global atas potensi gangguan distribusi energi, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz.

Sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga 10% jika ketegangan berkembang dan mengganggu arus pasokan.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa militer negaranya telah memulai “operasi tempur besar-besaran” di Iran.

Seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, dikutip Reuters, menyebut sejumlah kementerian di selatan ibu kota Teheran menjadi sasaran serangan.

Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar atas dampak lanjutan terhadap stabilitas geopolitik dan ekonomi global.

Selama beberapa waktu terakhir, pasar keuangan global relatif stabil meski menghadapi sejumlah tekanan, termasuk kebijakan kenaikan tarif impor AS menjadi 15% serta penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.

Namun, langkah militer terhadap Iran dinilai memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan ketegangan geopolitik sebelumnya.

Florian Weidinger, Kepala Investasi di Santa Lucia Asset Management, menilai dampak krisis Iran berbeda dengan kasus Venezuela.

“Venezuela hanya benar-benar relevan bagi orang-orang yang peduli dengan minyak mentah berat tertentu itu. Minyak mentah berat dan asam dari negara itu sulit diekstraksi, meskipun sangat dihargai oleh kilang-kilang tertentu yang kompleks, terutama di AS,” ujarnya dikutip dari CNBC International, Minggu (1/3/2026).

Saat ini, Venezuela memproduksi sekitar 800.000 barel minyak per hari, jauh di bawah puncak produksi 3,5 juta barel per hari pada 1990-an.

Artinya, gangguan dari sisi produksi Venezuela relatif terbatas terhadap keseimbangan pasokan global.

Sebaliknya, Iran memegang posisi yang jauh lebih strategis dalam rantai distribusi energi dunia.

Kenneth Goh dari UOB Kay Hian menegaskan bahwa risiko utama bukan semata pada produksi minyak Iran, melainkan pada jalur distribusi yang rentan terganggu.

“Venezuela adalah kisah produksi. [Iran] adalah kisah jalur distribusi minyak yang rawan,” kata Kenneth Goh.

Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz, jalur laut di antara Oman dan Iran yang menjadi salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.

Pada 2025, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari diperkirakan melewati selat tersebut, atau sekitar 31% dari total pengiriman minyak mentah global melalui jalur laut.

Ketergantungan yang besar terhadap jalur ini membuat pasar sangat sensitif terhadap potensi penutupan atau gangguan operasional.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan betapa besarnya pengaruh isu keamanan di kawasan tersebut terhadap harga minyak dunia dan pasar saham.

Pada Juni 2025, ketika Israel menyerang situs nuklir Iran, pasar saham sempat melemah tajam di awal perdagangan.

Namun, tekanan mereda setelah dipastikan distribusi minyak melalui Selat Hormuz tetap berjalan normal.

Kali ini, analis memperkirakan respons pasar bisa lebih signifikan. Alicia García-Herrero dari Natixis memproyeksikan pembukaan pasar yang penuh tekanan.

Ia memperkirakan saham global berpotensi turun 1%–2% atau lebih, imbal hasil obligasi pemerintah AS melemah 5–10 basis poin, serta harga minyak melonjak 5%–10% dalam jangka pendek.

Sejumlah manajer investasi menilai sebagian investor telah mengantisipasi eskalasi dengan mengambil posisi defensif dalam beberapa pekan terakhir.

Weidinger mencatat bahwa pergerakan lintas aset sudah mencerminkan “sedikit lingkungan krisis,” terlihat dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya permintaan terhadap obligasi pemerintah sebagai aset safe haven.

Meski demikian, arah harga minyak dan pasar keuangan global sangat bergantung pada durasi konflik.

David Roche dari Quantum Strategy menilai reaksi pasar akan ditentukan oleh apakah operasi militer AS berlangsung singkat dan terbatas, atau justru berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.

Jika konflik terkendali dan hanya berlangsung singkat, lonjakan harga minyak dunia dan aksi jual aset berisiko diperkirakan hanya bersifat sementara.

Namun, apabila situasi berubah menjadi upaya perubahan rezim yang berlangsung tiga hingga lima minggu, pasar bisa bereaksi “cukup buruk” karena investor mulai memperhitungkan gangguan pasokan energi dalam jangka lebih panjang.

Risiko retaliasi jangka panjang dari Iran juga menjadi perhatian utama, terutama bagi pasar Asia yang sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi dan kelancaran jalur perdagangan internasional.

Dalam skenario terburuk, penutupan Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak dunia menembus level psikologis baru dan memicu volatilitas tinggi di pasar global.

Dengan meningkatnya tensi geopolitik ini, pelaku pasar kini bersiap menghadapi potensi gejolak yang lebih dalam.

Harga minyak, stabilitas energi global, serta pergerakan pasar saham dan obligasi akan menjadi indikator utama dalam beberapa hari ke depan.