Kematian Ayatollah Ali Khamenei, Mengapa Negara-negara Arab Malah Tak Bersimpati?

Warga iran berkabung dengan kematian ayatollah khameneiWarga iran berkabung dengan kematian ayatollah khamenei
Kematian Ayatollah Khamenei: Mengapa Negara-negara Arab Tak Bersimpati?

INBERITA.COM, Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu lalu (28/2/2026), menimbulkan respons mengejutkan dari negara-negara Arab.

Meskipun Khamenei adalah sosok yang memimpin Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade, tidak ada ucapan belasungkawa atau simpati dari negara-negara Arab setelah kematiannya.

Sebaliknya, kemarahan justru muncul, dengan beberapa negara Arab mengkritik keras serangan balasan Iran yang menyasar negara-negara tetangga di kawasan Teluk, yang mereka anggap telah berperan sebagai tuan rumah bagi pangkalan militer AS.

Kematian Khamenei yang disebabkan oleh serangan udara AS dan Israel terhadap markasnya telah memicu gejolak politik di kawasan Timur Tengah.

Liga Arab, yang terdiri dari 22 negara, mengutuk keras serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS yang terletak di negara-negara Arab.

Negara-negara seperti Maroko, Yordania, Suriah, dan Uni Emirat Arab (UEA) menganggap serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara mereka.

Serangan ini semakin memperburuk hubungan Iran dengan negara-negara Arab yang selama ini sudah diliputi ketegangan.

Negara-negara Arab seperti Arab Saudi secara tegas mengutuk serangan tersebut dengan menyebutnya sebagai agresi yang “khianat” dan pelanggaran besar terhadap kedaulatan mereka.

Pernyataan dari pemerintah Arab Saudi juga mencerminkan ketegangan yang telah lama ada di antara negara-negara Teluk dan Iran, yang sering dipicu oleh perbedaan ideologi, pengaruh politik, dan pertarungan kekuasaan di kawasan.

Sementara itu, Suriah, yang di bawah pemerintahan Bashar Assad selama bertahun-tahun menjadi sekutu terdekat Iran dan pengkritik Israel, juga mengecam serangan tersebut.

Meskipun sebelumnya Suriah adalah negara yang setia mendukung Iran, pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Suriah yang mengutuk serangan ini menggambarkan upaya pemerintah baru untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Arab.

Di sisi lain, solidaritas datang dari negara-negara yang cenderung memiliki hubungan baik dengan Iran, seperti Rusia, China, dan Korea Utara.

Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah pernyataan resmi menggambarkan pembunuhan Khamenei sebagai “pembunuhan sinis” yang melanggar semua standar moralitas manusia dan hukum internasional.

“Khamenei akan dikenang sebagai negarawan luar biasa yang memberikan kontribusi besar bagi pengembangan hubungan Rusia-Iran,” tambah Putin, yang menegaskan kemitraan strategis antara kedua negara.

Sementara itu, China mengutuk keras pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan keamanan Iran, menyatakan bahwa serangan tersebut telah menginjak-injak tujuan dan prinsip Piagam PBB serta norma-norma dasar hubungan internasional.

Korea Utara, yang dikenal dengan retorika anti-AS, menyebut serangan ini sebagai tindakan “perilaku tak tahu malu dan seperti gangster”.

Dukungan terhadap Iran juga datang dari Hamas di Gaza, yang mengutuk serangan ini sebagai serangan keji dari AS dan Israel.

Kelompok perlawanan Palestina tersebut menilai bahwa Khamenei telah memberikan dukungan penuh kepada mereka, baik dalam bentuk politik, diplomatik, maupun militer.

“Khamenei adalah simbol perjuangan kami,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan resmi, menuduh AS dan Israel bertanggung jawab penuh atas serangan tersebut.

Di Yemen, Houthi, kelompok milisi yang memiliki hubungan dekat dengan Iran, juga menyampaikan belasungkawa atas kematian Khamenei dan mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran besar terhadap hukum internasional.

Kematian Khamenei memberikan dampak besar tidak hanya bagi Iran tetapi juga bagi seluruh kawasan Timur Tengah. AS dan Israel yang kini terlibat dalam serangan tersebut, dianggap telah menambah ketegangan antara negara-negara Barat dan kekuatan-kekuatan besar seperti Rusia dan China.

Sementara itu, di dalam negeri Iran, kematian Khamenei mengarah pada kemungkinan perubahan besar dalam politik dalam negeri serta keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Dari respons negara-negara Arab yang tidak menunjukkan simpati terhadap kematian Khamenei, bisa dilihat bagaimana kedekatan Iran dengan negara-negara tersebut semakin menipis.

Hal ini berpotensi memperburuk hubungan Iran dengan sekutunya di kawasan Teluk serta membuka celah bagi ketegangan yang lebih besar.