INBERITA.COM, Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Sulawesi Selatan mulai terasa bukan hanya dari panjangnya antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tetapi juga dari melonjaknya harga BBM yang dijual secara eceran.
Di sejumlah titik di Makassar, warga harus menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Situasi tersebut membuat sebagian masyarakat mengambil pilihan yang sebelumnya mungkin tidak terpikirkan: membayar jauh lebih mahal kepada pengecer demi menghemat waktu.
Pada Minggu (13/9/2026), antrean kendaraan terlihat di sejumlah SPBU di Kota Makassar. Salah satu titik yang mengalami kepadatan berada di SPBU Jalan Andi Pangeran Pettarani.
Kendaraan pribadi dan truk besar sudah memadati area pengisian sejak pagi, sementara barisan kendaraan memanjang hingga sebagian badan jalan.
Pengendara yang berada di lokasi menyebut proses pengisian tetap berlangsung melalui seluruh nozzle yang tersedia. Persoalannya, jumlah kendaraan yang datang jauh lebih banyak sehingga antrean bergerak lambat. Waktu tunggu diperkirakan mencapai sekitar 1,5 hingga dua jam.
Kondisi itu membuat BBM eceran menjadi alternatif bagi sebagian warga. Namun, pilihan tersebut datang dengan konsekuensi harga yang jauh lebih tinggi.
Pertalite yang sebelumnya dapat diperoleh sekitar Rp15 ribu untuk ukuran botol besar kini dilaporkan dijual sekitar Rp35 ribu. Sementara botol berukuran sedang berada di kisaran Rp25 ribu.
Pada sejumlah mesin pengisian BBM mandiri, harga yang dibayarkan konsumen juga dilaporkan berada di rentang Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per liter.
Lonjakan harga tersebut menunjukkan bahwa gangguan pasokan tidak berhenti di SPBU. Ketika akses masyarakat terhadap BBM semakin sulit, jalur distribusi informal ikut menghadapi tekanan.
Pedagang harus mengeluarkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk memperoleh stok, sedangkan kebutuhan konsumen terhadap bahan bakar tidak ikut turun.
Rahma, warga Manggala, Makassar, mengatakan dirinya memilih membeli BBM dengan harga lebih tinggi ketimbang menghabiskan waktu berjam-jam di antrean.
“Saya tidak masalah beli lebih mahal daripada mengantri berjam-jam. Ini saja sulit bisa dapat,” kata Rahma pada Sabtu (12/9), sebagaimana dikutip dari laporan media.
Pilihan seperti yang diambil Rahma menggambarkan persoalan yang lebih luas. Bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk bekerja, mengantar anak sekolah, mengunjungi keluarga, atau menjalankan berbagai keperluan harian, waktu juga memiliki nilai ekonomi.
Antrean panjang berarti berkurangnya waktu produktif dan bertambahnya biaya tidak langsung.
Tekanan serupa terlihat pada jalur penjualan BBM eceran. Di Jalan Minasa Upa, Makassar, antrean kendaraan bahkan terjadi pada mesin pengisi ulang BBM mandiri. Kepadatan tersebut dilaporkan berlangsung dari sore hingga malam dan turut memengaruhi arus lalu lintas di sekitar lokasi.
Bagi pedagang kecil, situasinya tidak kalah sulit. Muliati, pedagang BBM eceran di Kabupaten Takalar, mengatakan dirinya harus menyesuaikan waktu mencari pasokan agar peluang mendapatkan BBM lebih besar.
Ia memilih datang pada dini hari ketika antrean relatif lebih pendek. Muliati mengaku menunggu mulai sekitar pukul 01.00 hingga 02.40 WITA. Waktu tersebut, menurut dia, masih lebih singkat dibandingkan antrean pada siang hari yang dapat berlangsung empat sampai lima jam.
“Sekarang, sudah tidak masalah, yang diberikan Pertalite atau Pertamax yang penting kita menjual karena kalau tidak begitu, mata pencarian kami pedagang kecil akan hilang,” ujar Muliati.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kelangkaan BBM ikut menekan pelaku usaha mikro yang menggantungkan penghasilan dari penjualan bahan bakar secara eceran.
Mereka bukan sekadar menghadapi persoalan harga beli, tetapi juga harus mengorbankan waktu istirahat untuk mendapatkan barang dagangan.
Jika kondisi pasokan berlangsung lama, dampaknya berpotensi meluas. Harga BBM eceran yang meningkat dapat menambah pengeluaran pengendara, sementara antrean panjang di SPBU meningkatkan konsumsi waktu dan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi.
Bagi pekerja yang bergantung pada kendaraan pribadi maupun pelaku usaha yang membutuhkan BBM untuk mobilitas, tekanan tersebut dapat terasa lebih besar.
Kepadatan di SPBU juga menjadi indikator bahwa kebutuhan BBM masyarakat masih tinggi. Ketika pasokan yang tersedia tidak mampu mengimbangi permintaan pada waktu dan lokasi tertentu, antrean menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Di sisi lain, semakin sulit konsumen memperoleh BBM melalui jalur resmi, semakin besar pula ruang bagi penjualan eceran dengan harga lebih tinggi.
Karena itu, persoalan yang muncul di lapangan tidak hanya berkaitan dengan harga Pertalite. Ada persoalan mengenai kepastian pasokan, kelancaran distribusi, dan kemampuan masyarakat mendapatkan BBM tanpa harus mengorbankan waktu berjam-jam.
Bagi warga Makassar dan daerah lain di Sulawesi Selatan yang sedang menghadapi kondisi tersebut, kepastian distribusi menjadi hal penting.
Sebab, selama pasokan belum kembali normal, antrean panjang dan kenaikan harga di tingkat eceran berpotensi terus menjadi beban tambahan bagi rumah tangga maupun usaha kecil.
Di tengah kondisi itu, warga dan pedagang kini harus mencari cara masing-masing untuk memenuhi kebutuhan. Ada yang memilih mengantre sejak subuh, sebagian mencari BBM pada tengah malam, sementara lainnya bersedia membayar lebih mahal.
Fenomena tersebut menjadi gambaran nyata betapa pentingnya ketersediaan BBM bagi aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat sehari-hari.







