INBERITA.COM, Gempa besar di laut selatan Jawa bukan hanya persoalan wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan sumber gempa.
Dampaknya dapat menjalar jauh ke kawasan perkotaan, termasuk Jakarta, yang berada relatif lebih jauh dari zona sumber tetapi memiliki kepadatan penduduk dan infrastruktur yang sangat tinggi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi dampak gempa megathrust dari segmen Selat Sunda dengan kekuatan yang dalam skenario maksimal dapat mencapai magnitudo 8,9.
Jakarta disebut menjadi salah satu wilayah yang perlu memperhitungkan konsekuensi dari ancaman tersebut.
Informasi itu disampaikan BMKG pada Kamis, 10 September 2026. Dalam skenario yang dijelaskan, gempa yang bersumber di kawasan megathrust Selat Sunda berpotensi memunculkan tsunami yang juga dapat mencapai wilayah Jakarta.
Namun, ketinggian tsunami yang diperkirakan tiba di Jakarta berada di bawah potensi yang dapat terjadi di sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat. Untuk Jakarta, tinggi gelombang diperkirakan sekitar 0,5 meter.
Angka tersebut sekilas mungkin terlihat tidak terlalu mengkhawatirkan. Akan tetapi, risiko gempa tidak dapat dinilai hanya berdasarkan tinggi tsunami.
Bagi Jakarta, persoalan yang jauh lebih penting adalah seberapa kuat guncangan dirasakan masyarakat dan bagaimana bangunan serta infrastruktur meresponsnya.
Dalam skenario tersebut, intensitas guncangan di Jakarta diperkirakan dapat mencapai skala VI hingga VII Modified Mercalli Intensity (MMI).
Skala ini menggambarkan guncangan yang sudah cukup kuat untuk menimbulkan dampak nyata terhadap bangunan, terutama struktur yang memiliki kualitas konstruksi lebih rendah atau tidak dirancang untuk menghadapi guncangan besar.
Karakter Jakarta sebagai kota metropolitan membuat ancaman tersebut memiliki dimensi yang berbeda dibandingkan daerah dengan kepadatan penduduk lebih rendah.
Jaringan jalan, gedung bertingkat, fasilitas pelayanan publik, kawasan permukiman padat, jaringan listrik, komunikasi, hingga fasilitas transportasi merupakan bagian dari sistem perkotaan yang harus tetap berfungsi ketika bencana terjadi.
Karena itu, pembicaraan mengenai gempa megathrust seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai apakah tsunami akan masuk ke Jakarta atau seberapa tinggi gelombangnya.
Ancaman terbesar justru dapat muncul sejak detik-detik pertama ketika gelombang guncangan mencapai daratan.
Bangunan yang mengalami kerusakan dapat menghambat evakuasi dan pergerakan masyarakat. Material yang jatuh juga dapat menutup akses jalan.
Dalam situasi kepanikan, ruas yang sebenarnya masih dapat digunakan bisa berubah menjadi titik kemacetan karena masyarakat bergerak secara bersamaan untuk mencari tempat aman.
Risiko tersebut menjadi semakin kompleks apabila gempa memicu bencana ikutan.
Salah satu kemungkinan yang perlu diperhitungkan adalah kebakaran. Di kawasan perkotaan dengan kepadatan bangunan tinggi, kerusakan pada jaringan listrik, instalasi tertentu, maupun sumber energi lain dapat meningkatkan risiko munculnya titik api.
Jika kebakaran terjadi bersamaan dengan gangguan akses jalan dan kepanikan masyarakat, penanganannya tentu menjadi lebih sulit.
Gempa juga dapat memicu longsor di wilayah yang memiliki kondisi medan tertentu. Ancaman ini terutama menjadi perhatian di daerah yang berada lebih dekat dengan sumber gempa dan memiliki kondisi geologi atau topografi yang rentan.
Dampak bencana tidak selalu datang dalam satu bentuk, tetapi dapat berlangsung sebagai rangkaian peristiwa yang saling memperburuk keadaan.
Sesar Cimandiri juga menjadi bagian dari risiko kegempaan yang perlu diperhatikan. Keberadaan sesar aktif di sekitar wilayah Jawa Barat menunjukkan bahwa potensi gempa di kawasan sekitar Jakarta tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas megathrust di laut selatan.
Dengan kata lain, kesiapsiagaan menghadapi gempa perlu dibangun berdasarkan lebih dari satu skenario.
Gempa megathrust sendiri bukan berarti gempa besar pasti akan terjadi dalam waktu tertentu. Informasi mengenai potensi magnitudo merupakan gambaran risiko berdasarkan karakteristik sumber gempa, bukan prediksi mengenai tanggal atau jam terjadinya bencana.
Pembedaan ini penting agar masyarakat tidak salah memahami peringatan kebencanaan sebagai ramalan kejadian.
Yang perlu dilakukan adalah menjadikan informasi tersebut sebagai dasar untuk memperkuat kesiapan.
Bagi masyarakat, kesiapsiagaan dapat dimulai dari lingkungan paling dekat. Mengetahui lokasi aman di dalam maupun sekitar rumah, mengenali jalur keluar, memastikan akses tidak terhalang barang, serta memahami tindakan ketika guncangan terjadi merupakan langkah sederhana tetapi penting.
Di gedung perkantoran, sekolah, pusat perbelanjaan, dan fasilitas publik, kesiapan tidak cukup hanya berupa papan petunjuk evakuasi. Simulasi secara berkala diperlukan agar orang tidak menghadapi situasi darurat untuk pertama kalinya ketika bencana benar-benar terjadi.
Jakarta memiliki karakter khusus karena banyak aktivitas masyarakat berlangsung di bangunan bertingkat dan kawasan dengan mobilitas tinggi. Pada saat gempa, respons yang salah dapat meningkatkan risiko cedera.
Masyarakat perlu memahami prosedur keselamatan yang sesuai dan tidak terburu-buru menggunakan kendaraan ketika kondisi belum memungkinkan.
Bagi pemerintah dan pengelola infrastruktur, informasi mengenai potensi guncangan juga memiliki implikasi lebih luas.
Evaluasi ketahanan bangunan, kesiapan fasilitas darurat, kesinambungan komunikasi, serta kemampuan layanan publik untuk tetap bekerja setelah gempa menjadi bagian penting dari mitigasi.
Tantangan terbesar bukan semata-mata mencegah kerusakan, melainkan memastikan kota dapat pulih secepat mungkin setelah mengalami gangguan besar.
Infrastruktur yang rusak pada satu titik dapat berdampak pada sistem lain. Jalan yang terganggu, misalnya, dapat memperlambat mobilisasi petugas penyelamat.
Gangguan listrik dapat memengaruhi komunikasi dan pelayanan tertentu. Karena itu, ketahanan kota harus dilihat sebagai sebuah sistem yang saling terhubung.
Potensi tsunami sekitar 0,5 meter untuk Jakarta juga tidak seharusnya ditafsirkan sebagai ketiadaan risiko.
Besarnya dampak gelombang tidak hanya ditentukan oleh tinggi gelombang, tetapi juga kondisi wilayah yang terdampak, lokasi masyarakat, bentuk garis pantai, serta kemampuan melakukan respons secara cepat.
Di sisi lain, masyarakat tidak perlu merespons informasi potensi megathrust dengan kepanikan. Justru yang dibutuhkan adalah kesiapan yang terukur dan berbasis informasi resmi.
Ancaman bencana merupakan bagian dari risiko yang perlu dikelola, bukan alasan untuk menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Peringatan mengenai megathrust Selat Sunda pada akhirnya menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana perlu dilakukan sebelum gempa terjadi. Ketika guncangan sudah berlangsung, pilihan untuk memperbaiki kesiapan akan jauh lebih terbatas.
Jakarta mungkin tidak menjadi wilayah dengan ancaman tsunami terbesar dalam skenario tersebut. Namun, sebagai salah satu kawasan metropolitan paling padat di Indonesia, potensi guncangan kuat tetap menjadi persoalan serius.
Kerusakan bangunan, gangguan infrastruktur, kebakaran, kepanikan, dan terhambatnya akses evakuasi dapat menciptakan dampak berantai yang jauh lebih besar daripada angka ketinggian tsunami semata.
Karena itu, peringatan BMKG mengenai potensi gempa megathrust Selat Sunda sebaiknya dipahami sebagai dorongan untuk memperkuat kesiapsiagaan. Tidak ada kepastian kapan gempa besar akan terjadi, tetapi kesiapan menghadapi kemungkinan tersebut dapat dibangun mulai sekarang.







