John Brennan Mantan Direktur CIA Serukan Penggulingan Trump, Sebut Presiden AS Tidak Waras dan Berbahaya

John Brennan serukan penggulingan TrumpJohn Brennan serukan penggulingan Trump
John Brennan Tuntut Penggulingan Trump: Presiden AS Dikhawatirkan Berbahaya dengan Kekuasaan Nuklir

INBERITA.COM, Mantan Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), John Brennan, baru-baru ini menyerukan penggulingan Presiden AS, Donald Trump, dengan menggunakan Amandemen ke-25 dari Konstitusi AS.

Brennan menilai bahwa kondisi mental Trump, yang menurutnya tidak waras, membuatnya tidak layak untuk terus menjabat sebagai pemimpin negara adidaya ini.

Dalam pernyataannya yang dikutip oleh The Guardian pada Senin (13/4/2026), Brennan menyebut Trump terlalu berbahaya dengan posisinya sebagai Panglima Tertinggi Amerika Serikat.

“Orang ini jelas tidak waras,” ujar Brennan, menanggapi ancaman Trump terhadap Iran yang dinilai bisa menimbulkan kerugian besar dalam nyawa.

Brennan mengkhawatirkan kekuatan militer yang sangat besar di tangan Trump, termasuk kendali atas persenjataan nuklir AS, yang menurutnya dapat memicu kehancuran massal jika tidak ditangani dengan hati-hati.

Sebagai Presiden dan Panglima Tertinggi, Trump memiliki kewenangan tunggal dalam hal perintah peluncuran nuklir, yang tidak memerlukan persetujuan dari Kongres, Menteri Pertahanan, atau pejabat lainnya.

Brennan juga menegaskan bahwa Amandemen ke-25, yang memungkinkan Presiden untuk diberhentikan jika dianggap “tidak mampu menjalankan kekuasaan dan tugas jabatannya”, seharusnya diterapkan pada Trump.

Amandemen tersebut ditulis pada tahun 1967 dengan mempertimbangkan kemungkinan adanya presiden yang tidak bisa menjalankan tugas dengan baik, baik karena alasan fisik atau mental.

Seruan Brennan untuk penggulingan Trump datang setelah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Pada 7 April, Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan bahwa “seluruh peradaban Iran akan mati malam ini” jika rezim Iran tidak memenuhi tuntutannya.

Brennan mengaitkan ancaman ini dengan kemungkinan penggunaan senjata nuklir, yang sangat berbahaya jika diambil oleh Trump dalam situasi yang semakin penuh ketegangan.

Amandemen ke-25 mencakup ketentuan bahwa jika Wakil Presiden dan mayoritas kabinet menilai Presiden tidak mampu menjalankan tugasnya, mereka dapat memberhentikan Presiden dari jabatannya.

Menurut laporan terbaru dari NBC News, lebih dari 70 anggota Kongres dari Partai Demokrat telah mendukung penerapan Amandemen ke-25 untuk menggulingkan Trump.

Mereka khawatir dengan keputusan-keputusan agresif yang diambil oleh Trump, terutama dalam konteks kebijakan luar negeri yang semakin berisiko.

John Brennan, yang lahir pada 1955, adalah seorang perwira intelijen veteran yang menjabat sebagai Direktur CIA dari Maret 2013 hingga Januari 2017.

Sebelumnya, Brennan memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di CIA, termasuk sebagai Kepala Staf untuk Direktur CIA George Tenet dan Kepala Pos CIA di Timur Tengah.

Brennan juga dikenal sebagai Penasihat Keamanan Dalam Negeri dan Kontraterorisme di Gedung Putih pada masa Presiden Obama.

Brennan dihormati di kalangan intelijen internasional, namun dia juga menjadi sosok kontroversial karena kebijakan kontraterorisme yang keras, terutama terkait dengan penggunaan drone untuk serangan yang menargetkan teroris.

Seruan Brennan untuk penggulingan Trump membawa perdebatan sengit di kalangan politisi dan pengamat internasional.

Beberapa mendukung gagasannya dengan alasan keselamatan nasional, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk campur tangan dalam politik internal negara demokrasi besar seperti Amerika Serikat.

Isu tentang kesehatan mental Presiden AS dan potensi penerapan Amandemen ke-25 terus menjadi topik panas di Washington, DC.

Meskipun seruan penggulingan Trump semakin keras, apakah Amandemen ke-25 akan diterapkan atau tidak masih menjadi pertanyaan besar.

Yang jelas, perdebatan mengenai kelayakan Trump untuk memimpin negara semakin intensif, terutama dengan ancaman nuklir yang semakin mendalam.

Brennan, dengan pengalaman panjangnya di dunia intelijen, menjadi suara yang kuat dalam menanggapi krisis ini.