INBERITA.COM, Tradisi sakral Malam 1 Suro yang selama puluhan tahun menjadi simbol spiritual sekaligus identitas budaya Keraton Surakarta kini kembali berada dalam bayang-bayang konflik internal.
Tahun ini, dua kubu yang berada dalam lingkup keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta berencana menyelenggarakan agenda Malam 1 Suro pada waktu yang sama, memunculkan kekhawatiran akan potensi gesekan di lapangan.
Di tengah situasi tersebut, berbagai upaya mediasi dan komunikasi terus dilakukan untuk memastikan tradisi yang memiliki nilai sejarah tinggi itu tetap berlangsung secara tertib, aman, dan tidak mencederai makna budaya yang selama ini dijaga masyarakat Solo.
Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa. Bagi Keraton Surakarta, momentum tersebut merupakan salah satu tradisi paling penting yang sarat nilai spiritual, refleksi diri, serta pelestarian warisan budaya leluhur.
Setiap tahunnya, ribuan warga memadati kawasan keraton untuk menyaksikan kirab pusaka yang menjadi bagian utama peringatan tersebut.
Namun tahun ini, perhatian publik tidak hanya tertuju pada prosesi budaya yang akan digelar, melainkan juga dinamika internal yang masih berlangsung di lingkungan Keraton Surakarta.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi, mengakui bahwa pihaknya saat ini terus berupaya mencari jalan tengah agar pelaksanaan kirab dapat berjalan tanpa menimbulkan persoalan baru.
Menurutnya, situasi yang berkembang memang tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa terdapat pihak lain yang juga berencana mengadakan kegiatan serupa. Meski demikian, ia menegaskan bahwa semua pihak tetap berada dalam lingkup keluarga besar Keraton Surakarta.
“Kita terus berupaya mencari solusi agar acara itu bisa dilangsungkan secara kehati-hatian, secara baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang saat ini ada pihak lain juga yang ingin menyelenggarakan, yang notabene ya mau tidak mau itu juga bagian dari keluarga besar kita juga,” ujar Wirabhumi kepada wartawan.
Pernyataan tersebut mencerminkan upaya untuk meredam ketegangan sekaligus menjaga agar perbedaan yang ada tidak berkembang menjadi konflik terbuka.
Dalam beberapa bulan terakhir, polemik kepemimpinan dan legitimasi di lingkungan Keraton Surakarta memang beberapa kali menjadi perhatian publik.
Karena itu, pelaksanaan tradisi besar seperti Kirab 1 Suro selalu menjadi momentum yang sensitif. Selain melibatkan keluarga besar keraton, kegiatan tersebut juga menyedot perhatian masyarakat luas, wisatawan, hingga pemerhati budaya dari berbagai daerah.
Wirabhumi menjelaskan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan dengan sejumlah pihak terkait. Selain aparat keamanan dan Pemerintah Kota Surakarta, komunikasi juga melibatkan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat Kirab 1 Suro saat ini tengah diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang melekat pada Keraton Surakarta.
Status tersebut akan memberikan nilai strategis dalam upaya pelestarian budaya sekaligus pengakuan terhadap tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
“Nah, mudah-mudahan ada titik temu sehingga itu bisa berlangsung. Walaupun dalam suasana tidak biasa, tapi semaksimal mungkin mudah-mudahan bisa diselenggarakan secara baik. Hari ini sedang terus dilakukan upaya untuk mencari solusi,” ungkapnya.
Ia juga berharap dalam waktu dekat dapat digelar pertemuan bersama seluruh pihak terkait guna mencari kesepahaman sebelum pelaksanaan acara.
“Mohon doanya mudah-mudahan dalam waktu dekat nanti ada rapat bersama, dengan pemerintah, dengan pihak keamanan, agar acara ini bisa berlangsung secara baik,” tambahnya.
Di tengah upaya mencari titik temu tersebut, perhatian publik juga tertuju pada beredarnya foto pagar biru khas Keraton Surakarta yang dipasangi kawat berduri.
Gambar itu viral di berbagai platform media sosial dan memunculkan beragam spekulasi terkait kondisi keamanan menjelang peringatan Malam 1 Suro.
Juru bicara SISKS Pakubuwana XIV Purbaya, KPA Singonagoro, membenarkan bahwa pemasangan kawat berduri tersebut memang dilakukan di area Sasana Narendra, yang merupakan kediaman pribadi Pakubuwana XIV Purbaya di kompleks Keraton Surakarta.
“Itu di depan Narendran (Sasana Narendra) yang menuju Keputren,” katanya.
Menurut Singonagoro, pemasangan kawat berduri tidak berkaitan dengan ancaman dari pihak tertentu. Ia menegaskan langkah tersebut murni dilakukan untuk meningkatkan keamanan kawasan privat yang menjadi tempat tinggal raja dan anggota keluarga inti keraton.
“Kita melihat di situ sering ada lalu lalang,” ujarnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa pemasangan pengaman tersebut menunjukkan adanya ketegangan yang meningkat menjelang Malam 1 Suro.
Menurutnya, penggunaan kawat berduri di area tertentu merupakan hal yang lazim dan banyak diterapkan pada berbagai fasilitas maupun rumah dinas pejabat.
“Biasa aja. Jangankan di sini, rumah-rumah dinas bupati, wali kota, kapolres kan juga ada hal-hal semacam itu,” katanya.
Lebih jauh, Singonagoro memastikan akses menuju area yang biasa digunakan penghuni kompleks keraton tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ia menegaskan bahwa lokasi pemasangan berada di area privat dan tidak akan mengganggu aktivitas umum.
“Itu kan pintu menuju area privat, jadi seharusnya tidak ada masalah,” jelasnya.
Namun pandangan berbeda disampaikan Pengageng Sasana Wilapa kubu SISKS Pakubuwana XIV Mangkubumi, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau yang lebih dikenal sebagai Gusti Moeng. Ia mengaku heran dengan langkah pemasangan kawat berduri tersebut.
“Mungkin mereka mikir kita mau bikin kerusuhan atau gimana gitu ya,” ujar Gusti Moeng.
Pernyataan itu kembali menunjukkan bahwa perbedaan persepsi masih mewarnai hubungan kedua kubu. Meski demikian, hingga saat ini belum ada indikasi adanya gangguan keamanan yang mengarah pada konflik fisik.
Bagi masyarakat Solo, Malam 1 Suro memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan polemik yang sedang berlangsung.
Tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas budaya kota yang telah diwariskan lintas generasi. Karena itu, banyak pihak berharap seluruh unsur keluarga besar Keraton Surakarta dapat mengedepankan dialog dan kebijaksanaan agar peringatan tahun baru Jawa tetap berlangsung khidmat.
Di tengah sorotan publik dan perhatian pemerintah, keberhasilan penyelenggaraan Malam 1 Suro tahun ini tidak hanya menjadi ujian bagi pengelolaan tradisi budaya, tetapi juga menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa warisan leluhur dapat tetap dijaga meski diwarnai perbedaan pandangan di internal keraton.







