Waspada Kekeringan! BMKG Sebut Sebagian Besar Jawa hingga Papua Alami Kemarau Lebih Lama Tahun Ini

Kemarau el nino indonesiaKemarau el nino indonesia
BMKG memprediksi sejumlah wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau lebih panjang dari biasanya pada 2026.

INBERITA.COM, Indonesia bersiap menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa sejumlah wilayah berpotensi mengalami periode kering berkepanjangan seiring meningkatnya pengaruh fenomena iklim global yang mulai berkembang di kawasan Pasifik.

Prediksi tersebut menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, hingga masyarakat untuk memperkuat langkah antisipasi sejak dini.

Pasalnya, kemarau yang berlangsung lebih lama berpotensi memicu beragam dampak, mulai dari penurunan ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, hingga gangguan terhadap produksi pangan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

“Wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dari normalnya,” kata Teuku dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan analisis BMKG, wilayah yang berpotensi menghadapi kemarau berkepanjangan mencakup area yang sangat luas.

Di Pulau Sumatra, kondisi tersebut diperkirakan terjadi di bagian utara dan selatan. Sementara di Pulau Jawa, sebagian besar wilayah diprediksi mengalami musim kering yang berlangsung lebih lama dari biasanya.

Potensi serupa juga diperkirakan melanda Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di kawasan Indonesia timur, sejumlah daerah di Maluku, Maluku Utara, serta sebagian Pulau Papua juga masuk dalam daftar wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan.

Tidak hanya itu, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi juga diperkirakan mengalami pola musim kemarau yang lebih panjang sepanjang tahun ini.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau nasional akan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, curah hujan di banyak daerah diprediksi mencapai titik terendah sehingga potensi kekeringan akan meningkat secara signifikan.

Fenomena ini berkaitan erat dengan perkembangan El Nino yang saat ini mulai menunjukkan penguatan di Samudra Pasifik.

El Nino merupakan fenomena iklim global yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan laut di bagian tengah hingga timur Samudra Pasifik. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dalam situasi El Nino, wilayah Indonesia umumnya mengalami penurunan curah hujan sehingga musim kemarau cenderung lebih kering dan berlangsung lebih lama.

Teuku menjelaskan bahwa pemantauan terbaru menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik telah melampaui batas netral selama lima dasarian berturut-turut.

Indikasi tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa El Nino mulai aktif dan berpotensi terus menguat dalam beberapa bulan ke depan.

“BMKG memprediksi bahwa fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ujarnya.

Berdasarkan proyeksi BMKG, peluang El Nino berkembang pada kategori moderat mencapai 98 persen. Sementara kemungkinan mencapai kategori kuat diperkirakan sebesar 62 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pengaruh El Nino terhadap kondisi cuaca dan iklim Indonesia berpotensi cukup signifikan dalam jangka waktu yang relatif panjang.

Selain perkembangan di Samudra Pasifik, BMKG juga memantau dinamika iklim di Samudra Hindia. Saat ini indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat berada pada angka negatif. Namun, kondisi tersebut diperkirakan berubah dalam beberapa bulan mendatang.

BMKG memperkirakan terdapat peluang munculnya fenomena IOD positif pada periode Juli hingga November 2026. Jika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan El Nino, dampak pengurangan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi menjadi lebih kuat.

Kombinasi kedua fenomena tersebut kerap menjadi faktor yang memperparah musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah.

Dari sisi sektor pertanian, kemarau panjang dapat memengaruhi pola tanam dan produktivitas lahan. Daerah yang mengandalkan pasokan air hujan berisiko mengalami penurunan hasil panen apabila tidak didukung sistem irigasi yang memadai.

Sementara itu, sektor sumber daya air juga menghadapi tantangan tersendiri. Debit sungai, waduk, dan embung berpotensi menurun sehingga pengelolaan cadangan air menjadi semakin penting, terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan. Pengalaman pada sejumlah periode El Nino sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi vegetasi yang kering dapat mempercepat penyebaran api, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut.

Karena itu, BMKG mengimbau berbagai pihak untuk memanfaatkan informasi prakiraan musim sebagai dasar perencanaan dan mitigasi.

Pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, serta masyarakat diharapkan mulai menyusun langkah antisipatif guna mengurangi dampak yang mungkin timbul.

Meski El Nino diperkirakan menjadi faktor dominan dalam pola cuaca hingga awal 2027, BMKG menegaskan bahwa dampaknya tidak selalu sama di setiap wilayah.

Tingkat pengaruh fenomena tersebut dapat berbeda-beda tergantung kondisi geografis, karakteristik iklim lokal, serta faktor atmosfer lainnya.

“Fenomena El Nino diketahui menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Indonesia, dengan pola dan periode dampak yang berbeda-beda,” kata Teuku.

Dengan proyeksi kemarau yang lebih panjang dan peluang El Nino yang sangat tinggi, tahun 2026 diperkirakan menjadi periode yang membutuhkan kesiapsiagaan lebih besar dari berbagai sektor.

Langkah mitigasi sejak awal dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan dampak terhadap kehidupan masyarakat maupun aktivitas ekonomi nasional.