Iran Tolak Gencatan Senjata 48 Jam dari AS, Konflik Militer Kian Memanas

Ketegangan Memuncak, Iran Tolak Gencatan Senjata Amerika SerikatKetegangan Memuncak, Iran Tolak Gencatan Senjata Amerika Serikat
Eskalasi Timur Tengah: Iran Menolak Gencatan Senjata AS dan Mediasi Internasional.

INBERITA.COM, Iran menolak tawaran gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan Amerika Serikat di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Sumber pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan, proposal gencatan senjata itu disampaikan melalui negara ketiga pada Rabu (2/4).

Namun, Teheran menolak usulan tersebut dan juga menolak bertemu mediator untuk membahas langkah lebih lanjut.

“Iran menolak proposal tersebut,” demikian laporan Fars, Jumat (3/4), dikutip dari Middle East Eye.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Iran-lah pihak yang lebih dulu meminta gencatan senjata.

Klaim ini dibantah keras oleh pihak Teheran, mempertegas ketegangan diplomatik yang masih tinggi antara kedua negara.

Upaya mediasi yang melibatkan sejumlah negara, termasuk Pakistan, dilaporkan menemui jalan buntu setelah Iran menolak bertemu pejabat AS di Islamabad.

Teheran menilai tuntutan Washington tidak dapat diterima, sehingga negosiasi belum menemukan titik temu.

Iran sendiri mengajukan syarat yang mencakup penarikan pasukan AS dari kawasan Timur Tengah serta kompensasi atas kerusakan infrastruktur akibat konflik.

Sejumlah negara seperti Turki, Mesir, dan Qatar disebut tengah berupaya memediasi konflik.

Namun, Qatar dilaporkan menolak tekanan untuk mengambil peran sebagai mediator utama, menambah kompleksitas diplomasi regional.

Di tengah kebuntuan diplomatik, konflik militer masih terus berlanjut. Penilaian intelijen AS menyebut, Iran masih memiliki sekitar setengah dari peluncur rudal dan drone kamikaze mereka, meski lebih dari sebulan telah menghadapi serangan gabungan dari AS dan Israel.

Pada hari yang sama, militer Iran mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur AS jenis F-15E di wilayah barat daya negara itu.

Seorang juru bicara markas militer Khatam al-Anbiya menyebut, pesawat tersebut “hancur total.”

Pihak militer AS kemudian mengonfirmasi bahwa pesawat yang jatuh adalah F-15E, bukan F-35 seperti klaim awal Iran.

Operasi pencarian awak pesawat dilakukan oleh kedua pihak. Laporan media AS menyebut, satu dari dua awak berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih dalam pencarian.

Selain itu, satu pesawat tempur AS jenis A-10 juga jatuh di kawasan Teluk dekat Selat Hormuz, dengan pilot berhasil diselamatkan.

Perkembangan terbaru ini menandai eskalasi konflik yang semakin meluas, di tengah belum tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara kedua belah pihak.

Situasi yang tegang ini menyoroti risiko konflik berskala lebih besar di kawasan Timur Tengah, dengan potensi dampak luas bagi keamanan regional dan global.

Iran menegaskan sikap kerasnya, sementara AS terus berupaya mengamankan posisi strategis dan meminimalkan kerugian.

Hingga saat ini, jalur diplomasi masih menemui jalan buntu, dan eskalasi militer diprediksi akan terus berlanjut dalam beberapa minggu ke depan.