INBERITA.COM, Pertandingan panas antara Persebaya Surabaya melawan Persib Bandung pada 2 Maret 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo berakhir imbang 2-2 dalam lanjutan Super League 2025/26.
Empat gol tercipta sepanjang laga dan kedua tim harus puas berbagi poin setelah duel sengit selama 90 menit.
Namun cerita dari laga Persib vs Persebaya tersebut tidak berhenti saat wasit meniup peluit panjang.
Di luar lapangan, muncul dinamika lain yang melibatkan hubungan dua kelompok suporter besar Indonesia, Viking Persib Club dan Bonek.
Pertemuan kedua tim sejatinya bukan sekadar pertandingan sepak bola. Selama bertahun-tahun, relasi antara Viking dan Bonek dikenal cukup dekat.
Hubungan itu bahkan identik dengan slogan “Viking Bonek Satu Hati” yang kerap digaungkan sebagai simbol persaudaraan antara suporter Persib Bandung dan Persebaya Surabaya.
Pada laga tandang di Surabaya tersebut, bukan hanya skuad Persib yang datang.
Perwakilan Viking Persib Club juga hadir di Kota Pahlawan. Namun kedatangan mereka bukan untuk menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion.
Perwakilan Viking datang dengan tujuan menjaga hubungan baik yang selama ini telah dibangun dengan Bonek.
Hal itu disebut sebagai amanat dari para pendahulu mereka untuk terus merawat tali silaturahmi antara suporter Bandung dan Surabaya.
“Kehadiran perwakilan Viking Persib Club di Surabaya merupakan bentuk amanat dan pesan moral dari para pendahulu kami, khususnya almarhum Ayi Beutik. Beliau berpesan agar persaudaraan antara Bandung dan Surabaya tetap dijaga. Niat kedatangan kami adalah untuk mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan baik antarsuporter, bukan untuk menciptakan konflik,” tulis Viking Persib Club dalam pernyataan resminya, Kamis (5/3/2026).
Meski memiliki niat mempererat hubungan, situasi di lapangan disebut tidak berjalan sesuai harapan.
Viking mengungkap adanya insiden yang melibatkan oknum suporter hingga menyebabkan korban luka dan kerugian materiil.
Korban dalam kejadian tersebut disebut merupakan anggota Viking yang berada di Surabaya. Insiden itu juga memicu kecaman keras dari organisasi suporter Persib tersebut.
“Kami mengecam keras segala bentuk kekerasan fisik, intimidasi, perusakan, dan tindakan anarkis yang dilakukan oleh oknum suporter di Surabaya. Akibat insiden tersebut mengakibatkan adanya korban luka serta kerugian materil. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum dan tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apapun,” jelas keterangan itu.
Selain insiden yang menimbulkan korban, Viking juga menyoroti adanya dugaan provokasi yang berujung pada penyerangan terhadap hotel tempat perwakilan mereka menginap selama berada di Surabaya.
“Kami sangat menyayangkan adanya pihak-pihak yang tidak menghendaki terjaganya hubungan baik tersebut, sehingga terjadi provokasi hingga penyerangan ke hotel tempat perwakilan kami menginap. Tindakan tersebut mencederai semangat persaudaraan yang selama ini berusaha kami rawat,” ungkap Viking.
Dalam pernyataannya, Viking menegaskan bahwa selama ini mereka memilih menahan diri dari berbagai provokasi yang terjadi.
Sikap tersebut disebut bukan bentuk kelemahan, melainkan upaya menjaga amanat para pendahulu sekaligus mempertahankan kondusivitas hubungan antarsuporter.
“Selama ini kami memilih untuk tidak membalas berbagai bentuk provokasi yang dilakukan oleh oknum suporter lawan, sikap tersebut bukanlah bentuk kelemahan, melainkan wujud komitmen kami dalam menjaga amanat pendahulu dan mempertahankan kondusivitas. Namun perlu ditegaskan bahwa diam kami bukan berarti kami tidak mencatat setiap penghinaan, ancaman, dan serangan yang terjadi terhadap organisasi maupun anggota kami,” katanya.
Situasi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir akhirnya membuat Viking mengambil langkah besar.
Organisasi suporter Persib tersebut secara resmi memutuskan untuk “mengistirahatkan” slogan yang selama ini menjadi simbol kedekatan dengan Bonek, yakni “Viking Bonek Satu Hati”.
Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan berbagai dinamika dan insiden yang terjadi belakangan ini.
Menurut Viking, slogan tersebut dinilai sudah tidak lagi relevan dengan kondisi yang berkembang saat ini.
“Dengan mempertimbangkan situasi dan realita yang terjadi akhir-akhir ini, serta demi menjaga keselamatan dan kehormatan organisasi, Viking Persib Club menyatakan untuk menjaga jarak dan mengistirahatkan slogan ‘Viking Bonek Satu Hati’ karena kami menilai slogan tersebut sudah tidak lagi relevan dengan kondisi yang terjadi saat ini, sehingga butuh waktu untuk sama-sama merefleksikan diri kembali terhadap apa yang menjadi cita-cita dari slogan tersebut,” tegas Viking.
Langkah “mengistirahatkan” slogan tersebut menjadi sinyal bahwa hubungan yang selama ini dibanggakan kini memasuki fase evaluasi.
Viking menilai perlu ada refleksi bersama untuk kembali memahami makna persaudaraan yang selama ini dijunjung oleh kedua kelompok suporter.
Di akhir pernyataannya, Viking juga mengingatkan bahwa rivalitas dalam sepak bola seharusnya hanya terjadi selama pertandingan berlangsung.
Setelah pertandingan selesai, suporter diharapkan tetap menjaga akal sehat dan tidak menjadikan rivalitas sebagai alasan untuk melakukan kekerasan.
“Rivalitas cukup 90 menit di dalam lapangan, setelah itu kita tidak hilang akal dan tetap waras. Rivalitas bukan menjadi pembenaran untuk melakukan tindakan brutalitas yang malah berlanjut menjadi tindakan pidana di luar sepak bola. Kita tidak sedang mewariskan kebencian kepada generasi penerus,” tutup Viking.







