INBERITA.COM, Warga di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, tengah dihantui ketakutan menyusul kemunculan Harimau Sumatera di kawasan perladangan.
Keresahan ini mencuat setelah sejumlah warga mengaku melihat langsung satwa liar dilindungi itu, dan jejak kaki yang diduga milik harimau ditemukan hanya 300 meter dari permukiman penduduk.
Kecemasan warga bukan tanpa alasan. Aktivitas harian seperti pergi ke ladang kini terpaksa dihentikan atau dilakukan dengan penuh kekhawatiran.
Ketakutan semakin menguat setelah laporan demi laporan mengindikasikan pergerakan harimau terjadi di berbagai desa, seperti Buah Nabar, Tambunan, Durin Serugun, Ujung Deleng, hingga Sembahe.
“BKSDA sudah datang, katanya mau dihalau ke habitatnya di Tahura. Masyarakat belum tenang, karena ada yang sempat nampak. Katanya sebesar anak lembu,” ungkap Camat Sibolangit, Hesron T Girsang, saat dikonfirmasi Jumat (3/10/2025).
Kronologi kemunculan harimau ini terdeteksi sejak 26 September lalu. Warga awalnya menemukan tapak kaki besar di sekitar perladangan dan pinggir sungai.
Informasi itu menyebar cepat dari mulut ke mulut, disertai laporan penampakan yang semakin memperkuat kekhawatiran kolektif masyarakat.
Seorang warga, Ratna, bahkan mengaku sempat berhadapan langsung dengan hewan buas itu di ladangnya.
Pengakuan tersebut menambah daftar panjang bukti bahwa harimau memang tengah berada di sekitar permukiman manusia.
Merespons situasi yang kian mencekam, pihak Kecamatan Sibolangit telah mengambil langkah koordinatif dengan melibatkan seluruh kepala desa di wilayah tersebut.
Mereka diminta aktif memantau kondisi di desa masing-masing dan segera melapor jika ditemukan indikasi keberadaan harimau.
Pemerintah kecamatan juga telah mengirimkan surat resmi kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara guna meminta penanganan yang lebih intensif dan terkoordinasi.
Saat ini, tim gabungan dari Taman Wisata Alam (TWA) bersama Muspika masih berada di lapangan untuk melakukan pemantauan dan pencarian jejak satwa tersebut.
Warga diminta tetap waspada dan tidak bertindak sendiri jika menemukan tanda-tanda kehadiran harimau.
Segala bentuk aktivitas di alam terbuka, terutama di ladang dan kawasan hutan, disarankan dilakukan secara berkelompok atau ditunda untuk sementara.
Kehadiran harimau di kawasan Sibolangit sesungguhnya bukan hal yang sepenuhnya mengejutkan. Sibolangit dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi dan wisata alam yang cukup populer di Sumatera Utara.
Jaraknya hanya sekitar satu jam perjalanan dari Kota Medan, dan di dalamnya terdapat berbagai destinasi seperti pemandian alam serta Air Terjun Dua Warna—yang lokasinya tak jauh dari titik ditemukannya jejak harimau.
Kemunculan satwa karnivora ini seolah menjadi pengingat bahwa kawasan wisata alam tersebut masih menjadi bagian dari habitat asli Harimau Sumatera.
Meski statusnya sebagai kawasan rekreasi sudah lama dikenal publik, keberadaan fauna liar yang dilindungi tetap tak bisa diabaikan.
Situasi di Sibolangit saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas konservasi dan pemerintah daerah. Di satu sisi, upaya perlindungan terhadap satwa langka seperti Harimau Sumatera menjadi keharusan.
Namun di sisi lain, keselamatan dan ketenangan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat satwa juga tak boleh dikorbankan.
Dengan laporan penampakan harimau yang kian mengkhawatirkan dan jaraknya yang semakin dekat ke permukiman, diperlukan langkah cepat, tegas, dan kolaboratif agar konflik antara manusia dan satwa liar ini tidak berujung pada tragedi.
Masyarakat berharap agar upaya penghalauan yang dilakukan BKSDA segera membuahkan hasil dan harimau tersebut bisa kembali ke habitat alaminya di Taman Hutan Raya (Tahura) tanpa harus mengorbankan nyawa maupun kenyamanan warga.
Hingga kini, ketegangan masih terasa di Sibolangit. Satu pertanyaan besar terus bergema di tengah masyarakat: sampai kapan mereka harus hidup dalam bayang-bayang harimau. (mms)







