INBERITA.COM, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali dijalankan seiring dimulainya tahun ajaran baru mulai memberikan dampak terhadap pergerakan harga sejumlah bahan pangan di Kota Bandung.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah komoditas utama seperti sayuran dan telur ayam mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan di tingkat pasar tradisional.
Fenomena tersebut terlihat di Pasar Tradisional Kiaracondong, salah satu pusat perdagangan kebutuhan pokok di Kota Bandung.
Para pedagang mengaku kenaikan harga berlangsung relatif cepat, bahkan untuk beberapa jenis sayuran mencapai dua kali lipat dibandingkan harga normal pada pekan sebelumnya.
Lonjakan harga itu tidak hanya menjadi perhatian pedagang, tetapi juga mulai dirasakan masyarakat yang berbelanja kebutuhan harian.
Sejumlah pembeli memilih mengurangi jumlah belanja karena anggaran rumah tangga yang sama kini tidak lagi mampu membeli bahan pangan dalam jumlah seperti sebelumnya.
Kenaikan harga terjadi tidak lama setelah aktivitas sekolah kembali berjalan normal dan kebutuhan bahan baku untuk penyediaan menu MBG meningkat. Permintaan yang bertambah membuat distribusi sejumlah komoditas ikut berubah sehingga memengaruhi harga di pasar.
Salah satu komoditas yang mengalami lonjakan cukup tajam adalah tomat. Harga tomat kini mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram, padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp10.000 per kilogram.
Kondisi serupa juga terjadi pada wortel dan timun yang kini dijual dengan harga sekitar Rp20.000 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp10.000 per kilogram.
Perubahan harga dalam waktu singkat membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual setiap kali menerima pasokan baru. Mereka mengaku tidak memiliki banyak pilihan karena harga dari pemasok juga terus mengalami kenaikan.
Pedagang sayur di Pasar Kiaracondong, Andriyatna, mengatakan perubahan harga mulai terasa sejak sebagian pasokan dari tengkulak dialihkan untuk memenuhi kebutuhan penyedia menu Makan Bergizi Gratis di berbagai sekolah.
“Pasokan dari tengkulak mulai mengalami penyesuaian harga sejak jalur distribusi terserap untuk pemenuhan menu Makan Bergizi Gratis di sekolah-sekolah,” kata Andriyatna.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut ikut memengaruhi aktivitas perdagangan di pasar. Meski nilai jual barang meningkat, omzet pedagang justru tidak otomatis bertambah karena jumlah pembeli mengalami penurunan.
Banyak konsumen memilih membeli dalam jumlah lebih sedikit agar tetap sesuai dengan anggaran belanja mereka.
Situasi itu menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang pasar tradisional. Di satu sisi mereka harus mengikuti harga kulakan yang terus naik, sementara di sisi lain mereka menghadapi konsumen yang semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Selain sayuran, kenaikan harga juga mulai merambah komoditas protein hewani, terutama telur ayam ras. Produk yang selama ini menjadi salah satu sumber protein paling terjangkau kini ikut mengalami penyesuaian harga.
Pedagang telur bernama Robiah mengungkapkan harga telur ayam saat ini berada di kisaran Rp26.000 per kilogram. Sebelumnya harga masih berada di angka Rp24.000 per kilogram.
“Kenaikan ini terjadi secara berkala dalam empat hari terakhir dengan rata-rata kenaikan Rp1.000 setiap harinya,” ujar Robiah, Jumat (17/7/2026).
Meski secara nominal kenaikan telur tidak sebesar beberapa jenis sayuran, tren tersebut tetap menjadi perhatian karena telur merupakan kebutuhan pokok yang dikonsumsi hampir setiap hari oleh banyak keluarga.
Peningkatan harga bahan pangan setelah permintaan bertambah sebenarnya merupakan mekanisme yang lazim dalam sistem pasar.
Ketika kebutuhan meningkat dalam waktu singkat sementara pasokan belum bertambah secara seimbang, harga cenderung bergerak naik. Kondisi seperti ini dapat berlangsung hingga distribusi dan produksi kembali menyesuaikan kebutuhan pasar.
Program MBG sendiri membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari. Menu yang disajikan kepada para siswa umumnya terdiri atas sayuran, telur, daging, buah, dan sumber karbohidrat.
Kebutuhan yang meningkat secara serentak di berbagai daerah membuat rantai distribusi sejumlah komoditas menjadi lebih padat dibandingkan hari-hari biasa.
Bagi petani dan pemasok, meningkatnya permintaan dapat membuka peluang pasar yang lebih besar. Namun, di sisi lain diperlukan pengelolaan distribusi yang baik agar kebutuhan program pemerintah tetap terpenuhi tanpa mengganggu stabilitas harga di pasar umum.
Para pedagang berharap kenaikan harga yang terjadi saat ini tidak berlangsung terlalu lama. Mereka menilai kestabilan harga sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
Apabila harga terus meningkat dalam waktu panjang, bukan hanya konsumen yang akan terdampak, tetapi juga pelaku usaha kecil di pasar. Penurunan jumlah pembeli berpotensi menekan pendapatan pedagang meskipun harga barang yang dijual lebih tinggi.
Di sisi lain, masyarakat berharap pasokan berbagai kebutuhan pokok dapat kembali stabil sehingga harga berangsur normal.
Ketersediaan bahan pangan dengan harga yang terjangkau dinilai menjadi faktor penting, terutama ketika banyak keluarga harus memenuhi berbagai kebutuhan lain setelah dimulainya kembali aktivitas sekolah.
Perkembangan harga dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Jika distribusi bahan pangan mampu mengikuti kebutuhan yang meningkat akibat pelaksanaan MBG, tekanan harga diperkirakan mulai mereda.
Namun, apabila pasokan tetap terbatas sementara permintaan terus bertambah, sejumlah komoditas pangan berpotensi bertahan pada level harga yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.







