Final Liga Champions 2026: PSG Menang Adu Penalti atas Arsenal, The Gunners Kembali Gigit Jari

PSG Juara Liga ChampionPSG Juara Liga Champion
Para pemain PSG merayakan gelar Liga Champions 2026 usai mengalahkan Arsenal melalui adu penalti di Budapest.

INBERITA.COM, Paris Saint-Germain semakin menegaskan statusnya sebagai kekuatan tak terbantahkan di sepak bola Eropa. Klub asal Prancis itu kembali mengangkat trofi Liga Champions setelah menundukkan Arsenal melalui drama adu penalti dalam laga final yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/2026).

Pertandingan yang mempertemukan dua tim dengan filosofi permainan berbeda tersebut berakhir imbang 1-1 hingga waktu normal dan perpanjangan waktu usai.

Setelah 120 menit tanpa pemenang, adu penalti menjadi penentu nasib kedua tim. PSG tampil lebih tenang pada momen krusial dan mengunci kemenangan 4-3 untuk memastikan gelar Liga Champions kedua mereka secara beruntun.

Keberhasilan itu bukan sekadar menambah koleksi trofi Eropa. PSG kini resmi masuk ke dalam kelompok elite klub yang pernah mendominasi kompetisi domestik dan Eropa secara bersamaan dalam dua musim berturut-turut.

Selain mempertahankan mahkota Liga Champions, PSG juga berhasil menjuarai Ligue 1 dalam periode yang sama. Catatan tersebut menempatkan mereka sejajar dengan klub-klub legendaris yang pernah mengukir prestasi serupa dalam sejarah sepak bola Benua Biru.

Sebelum PSG, hanya dua tim yang mampu mencatatkan pencapaian tersebut. Real Madrid melakukannya pada musim 1956/57 dan 1957/58, sedangkan Ajax mengulang dominasi serupa pada 1971/72 dan 1972/73. Kini, nama PSG resmi masuk dalam daftar eksklusif tersebut.

Keberhasilan ini juga menjadi bukti keberhasilan proyek jangka panjang klub yang dalam beberapa tahun terakhir berupaya membangun identitas baru.

Jika sebelumnya PSG kerap dikaitkan dengan ketergantungan terhadap pemain bintang, kini mereka justru tampil sebagai tim yang lebih solid dan matang secara kolektif.

Peran pelatih Luis Enrique kembali menjadi sorotan. Juru taktik asal Spanyol itu berhasil membawa PSG mempertahankan gelar sekaligus mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah kompetisi paling bergengsi di Eropa.

Gelar yang diraih di Budapest menjadi trofi Liga Champions ketiga dalam karier kepelatihannya. Sebelumnya, Enrique pernah membawa Barcelona meraih kejayaan Eropa sebelum melanjutkan kesuksesannya bersama PSG.

Pencapaian tersebut membuat Enrique semakin dekat dengan jajaran pelatih paling berpengaruh dalam sejarah Liga Champions.

Konsistensinya membangun tim kompetitif di level tertinggi menjadi faktor utama di balik kesuksesan PSG dalam dua musim terakhir.

Di sisi lain, Arsenal harus kembali menunda impian meraih trofi Eropa pertama mereka. Kekalahan di Budapest memperpanjang penantian panjang klub asal London tersebut yang belum pernah mengangkat trofi Liga Champions maupun Piala Eropa sepanjang sejarah.

Meski gagal menjadi juara, perjalanan Arsenal musim ini tetap layak mendapatkan apresiasi. Tim asuhan Mikel Arteta mampu menembus partai final setelah melewati sejumlah lawan kuat di fase gugur. Mereka bahkan nyaris mencuri kemenangan lewat pendekatan taktis yang berbeda dari biasanya.

Salah satu fakta menarik dari laga final adalah penguasaan bola Arsenal yang hanya mencapai 24,7 persen. Angka itu menjadi yang terendah yang pernah dicatat sebuah tim dalam partai final Liga Champions sejak statistik modern mulai digunakan pada musim 2003/04.

Bagi Arsenal, angka tersebut juga menjadi rekor terendah sepanjang era kepelatihan Mikel Arteta ketika tim bermain dengan jumlah pemain lengkap selama pertandingan berlangsung.

Pendekatan yang lebih defensif dan reaktif sebenarnya cukup efektif meredam dominasi PSG.

Arsenal mampu bertahan hingga babak tambahan dan memaksa pertandingan ditentukan melalui adu penalti. Namun, keberuntungan akhirnya berpihak kepada wakil Prancis tersebut.

Kekalahan ini memperpanjang catatan pahit Arsenal di kompetisi Eropa. Setelah final di Budapest, jumlah pertandingan yang telah mereka jalani di ajang Piala Eropa dan Liga Champions tanpa meraih gelar kini mencapai 226 laga.

Catatan itu menjadi salah satu penantian terpanjang dalam sejarah kompetisi antarklub Eropa bagi tim sebesar Arsenal. Situasi tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi Arteta dan manajemen klub untuk musim-musim mendatang.

Meski demikian, Arsenal tetap membawa pulang satu catatan individu yang istimewa. Gol yang dicetak Kai Havertz dalam laga final membuat namanya masuk ke dalam kelompok pemain elit yang memiliki sejarah unik di Liga Champions.

Havertz kini tercatat sebagai pemain ketiga yang mampu mencetak gol di final Liga Champions untuk dua klub berbeda. Sebelumnya, prestasi serupa hanya pernah dicapai Cristiano Ronaldo dan Mario Mandzukic.

Rekor tersebut menjadi hiburan kecil bagi Arsenal di tengah kekecewaan gagal meraih trofi. Sementara bagi PSG, malam di Budapest akan dikenang sebagai salah satu momen terbesar dalam sejarah klub.

Dua gelar Liga Champions beruntun, dominasi domestik yang terus berlanjut, serta keberhasilan mencetak rekor yang sebelumnya hanya dimiliki Real Madrid dan Ajax menjadi bukti bahwa PSG kini bukan lagi sekadar penantang.

Mereka telah menjelma menjadi salah satu dinasti baru sepak bola Eropa yang siap mendominasi dalam jangka waktu lebih panjang.