INBERITA.COM, Aksi dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mewarnai kawasan pusat Jakarta pada Senin (22/6/2026).
Peserta yang didominasi kaum perempuan memadati ruas jalan di sekitar Monumen Nasional (Monas) hingga kawasan Patung Kuda, membawa atribut yang tidak biasa dalam sebuah demonstrasi: wajan baru yang masih terbungkus rapi dalam kardus.
Pemandangan tersebut langsung menarik perhatian publik. Jika selama ini demonstrasi terkait MBG lebih banyak diwarnai kritik dan penolakan dari sejumlah kelompok mahasiswa, aksi kali ini justru menampilkan dukungan terbuka terhadap program yang menjadi salah satu kebijakan sosial pemerintah tersebut.
Sejak pagi, massa yang mengenakan pakaian serba putih dengan kerudung merah mulai bergerak menuju titik aksi. Sepanjang perjalanan, para peserta terlihat membawa wajan yang dibagikan oleh penyelenggara kegiatan. Beberapa bahkan baru membuka kemasan saat berada di lokasi.
Selain wajan, peserta juga menerima sejumlah konsumsi seperti roti, susu, dan buah-buahan. Sejumlah warga yang ditemui di lokasi mengaku senang karena mendapatkan perlengkapan rumah tangga yang dapat langsung digunakan setelah kegiatan selesai.
Salah satu peserta bernama Desy, warga Pisangan Timur, Jakarta Timur, mengaku tidak hanya memperoleh wajan baru, tetapi juga uang saku yang disebutnya sebagai ongkos transportasi.
“Ada penggorengan, ada susu. Senang, buat goreng ini,” kata Desy saat ditemui di lokasi aksi.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya datang bersama rombongan menggunakan sepeda motor. Ketika ditanya mengenai fasilitas yang diterima, Desy mengaku memperoleh uang saku sekitar Rp100 ribu.
“Ongkos ada lah buat jajan. Seratus lah,” ujarnya sambil tersenyum.
Pengakuan serupa disampaikan oleh peserta lain bernama Yuyun. Ia mengaku senang mendapatkan wajan yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari di rumah.
“Buat goreng telur,” ucapnya singkat.
Meski pembagian perlengkapan dan uang transport menjadi perhatian publik, sebagian peserta menegaskan bahwa alasan utama mereka hadir adalah untuk memberikan dukungan terhadap keberlanjutan program MBG.
Mereka merasa program tersebut telah memberikan manfaat langsung bagi anak-anak mereka yang menjadi penerima bantuan.
Yuyun mengaku melihat perubahan positif pada anaknya sejak program tersebut berjalan.
“Semenjak ada MBG, anak saya jadi gemuk, sehat, pintar. Harapannya lebih bagus lagi, meningkat,” tuturnya.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri menjadi salah satu kebijakan yang paling banyak diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah menempatkan program ini sebagai instrumen untuk memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia sekaligus menekan angka stunting dan masalah kesehatan yang berkaitan dengan kekurangan nutrisi.
Namun di sisi lain, pelaksanaan MBG juga tidak lepas dari kritik. Sejumlah kelompok mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil sebelumnya mempertanyakan aspek tata kelola, transparansi anggaran, hingga mekanisme pengawasan program tersebut.
Kekhawatiran terhadap potensi penyimpangan dana menjadi salah satu isu yang kerap muncul dalam berbagai aksi protes.
Kondisi itu membuat aksi dukungan yang berlangsung di Jakarta menjadi perhatian tersendiri.
Demonstrasi tidak lagi hanya menjadi ruang penolakan kebijakan, tetapi juga sarana bagi kelompok masyarakat yang merasa memperoleh manfaat untuk menyampaikan aspirasi mereka secara terbuka.
Meski demikian, pengakuan peserta mengenai adanya uang saku dan pembagian barang dalam kegiatan tersebut memunculkan diskusi baru di ruang publik.
Sejumlah pengamat menilai penting bagi penyelenggara aksi untuk menjelaskan secara transparan sumber pendanaan kegiatan agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Dalam praktik demokrasi, pemberian konsumsi dan penggantian biaya transportasi kepada peserta kegiatan memang bukan hal yang sepenuhnya baru.
Namun transparansi menjadi faktor penting agar kegiatan tidak menimbulkan persepsi negatif atau dugaan mobilisasi massa yang tidak sesuai dengan semangat penyampaian aspirasi secara sukarela.
Di luar polemik tersebut, aksi di kawasan Monas menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis masih menjadi isu yang membelah opini publik. Sebagian kelompok melihatnya sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini.
Sementara kelompok lain menilai program tersebut perlu diawasi lebih ketat agar tujuan mulianya tidak terganggu oleh persoalan tata kelola.
Perdebatan mengenai MBG kemungkinan akan terus berlangsung seiring besarnya anggaran dan luasnya cakupan penerima manfaat.
Namun bagi peserta aksi yang hadir di Jakarta hari itu, manfaat yang mereka rasakan secara langsung menjadi alasan utama untuk menyuarakan dukungan terhadap keberlanjutan program tersebut.







