Dugaan Penganiayaan Mengemuka dalam Kasus ASN Bangkalan Tewas di Mobil Dinas, Ini Temuan Autopsinya

Autopsi ruly yunis setiawati labforAutopsi ruly yunis setiawati labfor
Tim dokter forensik mengungkap temuan awal autopsi yang mengarah pada indikasi asfiksia, sementara penyebab pasti kematian masih menunggu hasil uji laboratorium.

INBERITA.COM, Penyelidikan atas kematian Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati, terus berkembang.

Sejumlah temuan awal dari proses autopsi dan penyelidikan memunculkan berbagai dugaan mengenai penyebab kematian korban yang ditemukan tidak bernyawa di dalam mobil dinas di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo.

Meski demikian, aparat kepolisian belum menarik kesimpulan akhir. Seluruh fakta yang telah diperoleh masih dikaji secara mendalam, termasuk hasil pemeriksaan forensik dan analisis laboratorium yang diharapkan mampu menjelaskan kronologi sebenarnya sebelum korban meninggal dunia.

Perhatian penyidik kini tertuju pada hasil autopsi yang dilakukan tim dokter forensik. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya tanda-tanda yang mengarah pada kondisi asfiksia atau kekurangan oksigen, yakni keadaan ketika tubuh tidak memperoleh pasokan oksigen yang cukup hingga mengganggu fungsi organ-organ vital.

Kepala Tim Humas Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, AKBP Ni Made Wiatini, menjelaskan sejumlah indikator ditemukan selama pemeriksaan jenazah.

“Ditemukan pelebaran pembuluh darah pada kedua selaput lendir kelopak mata. Yang ketiga, ditemukan kebiruan pada selaput lendir bibir atas maupun bawah. Kelainan ini lazim ditemukan pada mati lemas atau karena asfiksia,” ujarnya.

Selain temuan tersebut, pemeriksaan organ dalam juga menunjukkan adanya kongesti atau pembendungan darah pada beberapa bagian tubuh, termasuk lidah, epiglotis, saluran napas bagian atas, hingga dinding lambung. Kondisi tersebut dinilai konsisten dengan dugaan terjadinya kekurangan oksigen sebelum korban meninggal.

Namun, penyebab yang memicu asfiksia itu sendiri masih belum dapat dipastikan. Karena itu, penyidik mengirimkan sejumlah sampel organ korban ke Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur untuk menjalani uji toksikologi.

Pemeriksaan laboratorium tersebut akan membantu memastikan apakah kondisi yang dialami korban berkaitan dengan paparan zat tertentu, penyumbatan saluran napas, maupun faktor medis lainnya. Hasil uji itu diperkirakan menjadi salah satu bukti penting dalam menentukan penyebab kematian secara ilmiah.

Di sisi lain, autopsi juga menemukan luka robek pada cuping telinga kiri korban yang diduga berasal dari benturan benda tumpul.

“Sedangkan terkait pemeriksaan luar terhadap korban, ditemukan luka robek pada cuping telinga kiri yang diduga akibat kekerasan benda tumpul,” kata Ni Made Wiatini.

Meski terdapat luka tersebut, aparat kepolisian belum menyatakan adanya tindak pidana. Penyidik masih mengumpulkan berbagai alat bukti untuk mengetahui apakah luka itu berkaitan langsung dengan penyebab kematian atau terjadi dalam keadaan lain.

Pemeriksaan tambahan juga memastikan korban tidak sedang hamil. Kondisi perut yang tampak membesar disebut merupakan bagian dari proses pembusukan alami jenazah. Selain itu, hasil pemeriksaan swab vagina dinyatakan negatif dari jejak sperma.

Tim dokter memperkirakan korban telah meninggal sekitar dua hingga tiga hari sebelum autopsi dilakukan.

Di luar hasil medis, penyidik juga menelusuri aktivitas terakhir korban sebelum ditemukan meninggal dunia. Berdasarkan keterangan kuasa hukum keluarga, Risang Bima Wijaya, korban sempat meminta keluarganya mengirimkan foto sejumlah dokumen penting, termasuk Kartu Keluarga.

“Sempat meminta beberapa dokumen kepada keluarga untuk difoto dan dikirim, seperti Kartu Keluarga, untuk keperluan tertentu,” ujar Risang.

Hingga kini belum diketahui untuk kepentingan apa dokumen tersebut diminta. Namun informasi tersebut menjadi salah satu bagian yang ikut ditelusuri dalam penyelidikan guna menyusun rangkaian aktivitas terakhir korban.

Penelusuran juga menunjukkan korban sempat berada di wilayah Kota Batu dan Kabupaten Malang sebelum akhirnya mobil dinasnya ditemukan terparkir di Bandara Juanda.

Kuasa hukum keluarga kemudian menyampaikan dugaan bahwa korban kemungkinan telah meninggal sebelum kendaraan memasuki area bandara.

Dugaan itu didasarkan pada rekaman CCTV yang memperlihatkan mobil dinas masuk ke area parkir sekitar Sabtu sore dengan dikemudikan seorang pria bermasker dan berkacamata.

“Kami memiliki dugaan bahwa peristiwa penghilangan nyawa terjadi di luar bandara. Kami tidak ingin mendahului penyidik dari kepolisian,” kata Risang.

Ia juga menduga lokasi ditemukannya jenazah bukan merupakan tempat terjadinya peristiwa yang menyebabkan korban meninggal dunia.

“Dugaan kami, saat masuk ke bandara, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia. Waktu masuk ke bandara, yang mengendarai bukan korban, melainkan seorang pria bermasker dan menggunakan kacamata,” tuturnya.

Pernyataan tersebut masih sebatas dugaan dari pihak keluarga dan belum menjadi kesimpulan resmi penyidik. Polisi sendiri belum mengumumkan identitas pengemudi yang terekam kamera pengawas maupun kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam perkara ini.

Kasus kematian Ruly Yunis Setiawati kini menjadi perhatian publik karena masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Mulai dari penyebab pasti asfiksia, asal-usul luka pada tubuh korban, hingga aktivitas terakhir sebelum mobil dinas ditemukan di kawasan Bandara Juanda masih menjadi fokus penyelidikan.

Dengan menunggu hasil uji toksikologi serta pendalaman terhadap rekaman CCTV, keterangan saksi, dan bukti digital lainnya, aparat kepolisian diharapkan dapat mengungkap secara utuh kronologi peristiwa sekaligus memastikan apakah terdapat unsur pidana dalam kematian ASN Pemerintah Kabupaten Bangkalan tersebut.

Hingga saat ini, penyidikan masih terus berlangsung dan kepolisian belum menetapkan penyebab pasti maupun pihak yang bertanggung jawab atas kematian korban.