INBERITA.COM, Aktor Dude Harlino tengah menjadi sorotan publik setelah terseret dalam kasus dana macet yang melibatkan Dana Syariah Indonesia (DSI).
Isu ini berkembang sejak banyak lender mengeluhkan kesulitan menarik dana investasi mereka, dengan total mencapai Rp 1,3 triliun, yang berasal dari lebih dari 4.500 investor yang tergabung dalam paguyuban Dana Syariah.
Dude Harlino, yang dikenal sebagai suami dari artis Alyssa Soebandono, langsung memberikan klarifikasi melalui saluran media sosialnya untuk meluruskan kesalahpahaman yang berkembang.
Dalam penjelasannya, ia menegaskan bahwa keterlibatannya hanya sebatas menjadi brand ambassador dan tidak ada urusan dengan operasional atau sistem internal perusahaan.
Menurutnya, ia memutuskan untuk menerima peran tersebut karena DSI memiliki izin resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Saya hanya menjadi Brand Ambassador. Itu keputusan yang saya ambil setelah mengetahui bahwa perusahaan ini sudah terdaftar dan diawasi OJK,” jelas Dude dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan di kanal YouTube curhatbang milik Denny Sumargo pada Selasa (23/12/2025).
Meskipun perannya terbatas pada tugas branding, Dude Harlino merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan keluhan para lender yang merasa dirugikan.
Ia mengungkapkan bahwa sejak masalah ini mencuat, ia telah menerima banyak pesan dari para investor yang kesulitan menarik dana mereka, yang menyangkut dana pensiun, biaya pengobatan, hingga biaya pendidikan anak.
“Dana yang tertahan mencapai Rp 1,3 triliun, dan ini melibatkan lebih dari 4.500 lender. Saya tidak bisa diam saja mendengar cerita mereka,” ujar Dude, yang mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang dialami oleh para investor tersebut.
Menurut Dude, meskipun sudah ada beberapa kali mediasi antara pihak Dana Syariah dan perwakilan lender, penyelesaian yang memuaskan belum juga tercapai.
Dalam pertemuan terakhir, Dana Syariah Indonesia hanya berhasil mentransfer sekitar Rp 3,5 miliar, yang dianggap terlalu kecil, hanya sekitar 0,2 persen dari total dana yang tertahan.
“Yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana penyelesaian ini dapat dilakukan dengan adil. Kami ingin transparansi lebih lanjut terkait data borrower, aset, dan agunan yang dijanjikan,” tambah Dude.
Dude juga tidak segan-segan menyampaikan kekecewaannya terhadap pengawasan yang dilakukan oleh OJK. Baginya, pengawasan yang dilakukan oleh lembaga ini selama ini terkesan tidak memberikan peringatan dini terhadap masalah yang berkembang di dalam DSI.
Ia pun mempertanyakan bagaimana perusahaan yang sudah terdaftar di bawah pengawasan OJK bisa terlibat dalam masalah besar seperti ini.
“Pengawasan yang ada ternyata juga bermasalah. Bagaimana sebuah perusahaan yang diawasi OJK bisa sampai terjebak dalam masalah seperti ini?” ujarnya dengan penuh keheranan.
Meski begitu, Dude Harlino menegaskan bahwa ia tidak terlibat dalam keputusan-keputusan operasional perusahaan dan hanya bertugas untuk menyuarakan aspirasi dari para lender.
Ia berharap pihak-pihak yang berwenang, terutama OJK, dapat mempercepat proses audit dan memberikan solusi yang memadai bagi para pihak yang terdampak.
“Saya akan terus berusaha untuk membantu menyuarakan masalah ini. Harapan saya, OJK dapat memberikan arahan yang jelas dan segera mencari solusi agar dana yang tertahan bisa segera dikembalikan,” katanya.
Dude juga menambahkan bahwa ia berharap ada perhatian lebih dari regulator dan pemangku kepentingan terkait masalah ini.
“Saya memohon agar OJK dapat terus membantu memberi arahan dan solusi. Saat ini, mereka sedang melakukan audit dan prosesnya masih berjalan, semoga ini bisa dipercepat,” ujar Dude Harlino.
Dengan harapan agar masalah ini bisa segera terselesaikan, Dude mengingatkan bahwa dirinya bukanlah bagian dari operasional perusahaan, melainkan hanya berperan sebagai pihak yang menyuarakan keluhan para lender.
Dalam situasi ini, ia mengaku merasa bertanggung jawab untuk memberi dukungan moral kepada para investor yang terlibat dalam kasus ini.
“Saya berharap ada solusi konkret agar pengembalian dana ini bisa tuntas,” tutup Dude, sembari menegaskan komitmennya untuk terus mendorong agar proses penyelesaian masalah dapat berjalan lebih cepat. (*)